
Oleh: Rislia
Penulis Lepas
Jujur saja, siapa di antara Gen Z yang tidak deg-degan setiap kali membuka aplikasi mobile banking?
Data menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Banting tulang sudah, lembur setiap hari sudah, tetapi saldo tabungan tetap stagnan. Masa depan terasa buram. Di satu sisi berhadapan dengan cicilan, sewa indekos yang terus naik, dan sulitnya mencari pekerjaan. Di sisi lain, lini masa media sosial dipenuhi unggahan orang-orang berlibur ke luar kota, nongkrong di kafe mahal, hingga tayangan unboxing barang mewah setiap minggu.
Kondisi ini sangat melelahkan. Namun, jika tidak meluangkan waktu untuk healing atau self-reward, rasanya kesehatan mental makin terancam.
Ironisnya, ketika kondisi ekonomi sedang terhimpit, kita malah makin rajin berbelanja. Sebanyak 85 persen Gen Z merasa bahwa "pengalaman" (seperti berwisata dan menonton konser) sangat penting untuk menciptakan rasa bahagia. Dari sinilah populer istilah treat culture. Sedih sedikit, belanja; stres pekerjaan, healing; merasa hampa, bergulir media sosial hingga diliputi cemas tertinggal (fear of missing out/FOMO).
Padahal kita tahu, itu semua bukanlah solusi melainkan sekadar pelarian sesaat. Kita sedang berusaha lari dari kelelahan, tetapi jalannya hanya berputar-putar di tempat. Pertanyaannya: Siapa yang membuat kita lelah, dan siapa pula yang menjual obatnya? Apakah kita yang sepenuhnya salah karena boros, ataukah sistem yang secara terus-menerus memproduksi kelelahan tersebut? (Kompas, 19/2/2026).
Krisis Arah dan Sasaran Pasar
Sebenarnya, masalah utama kita bukan hanya perkara dompet yang tipis. Masalah terbesarnya adalah: kita sedang kehilangan arah dan tujuan hidup yang hakiki.
Saat hidup tidak memiliki orientasi yang jelas, ukuran kebahagiaan direduksi sebatas materi: membeli barang baru, liburan hedonis, kuliner kekinian, dan hal-hal lain yang bersifat memuaskan hawa nafsu sesaat. Padahal, manusia diciptakan bukan untuk dijadikan sasaran pasar komersial. Kita diciptakan murni untuk tunduk dan beribadah kepada Allah ï·» demi meraih ridha-Nya.
Selama kita masih mengira bahwa kemuliaan itu diukur dari merek barang (branded) dan kesenangan itu bersumber dari gaya hidup hedonis, kita akan terus terjebak dalam lingkaran kelelahan tanpa ujung.
Lalu pertanyaannya: Ketika kita terus-menerus terjebak dalam kondisi seperti ini, siapa pihak yang paling diuntungkan?
Ketika Gen Z kehilangan arah, ada pihak-pihak tertentu yang justru makin kaya memanfaatkan kebingungan tersebut:
- Pengembang Platform dan Algoritma Media Sosial. Makin sering kita bergulir di media sosial, makin mudah kita terbawa arus FOMO dari paparan iklan komersial yang dirancang memicu konsumerisme.
- Merek Self-Reward dan Penyedia Pinjaman Daring (Pinjol). Mereka menjual narasi pembenaran: "Kamu berhak bahagia" atau "Capek kerja, waktunya healing." Dari sini tumbuh subur fasilitas paylater, pinjol, dan cicilan nol persen. Akhirnya, kita bekerja keras hanya untuk membayar gaya hidup yang dipasarkan kepada kita.
- Industri Hiburan dan Gaya Hidup Sekuler. Konser, kafe estetis, perjalanan wisata, hingga konten unboxing dikemas seolah-olah menjadi "satu-satunya cara untuk bahagia". Padahal, itu hanyalah pelarian sesaat sebelum kembali menghadapi rutinitas kerja yang menekan. Siklus ini terus berputar dan mengeruk keuntungan bagi pemilik modal.
- Sistem yang Berlepas Tangan. Negara kurang hadir dalam menyediakan ketersediaan lapangan kerja yang adil serta jaminan pemenuhan hidup. Akhirnya, Gen Z terlalu sibuk bekerja demi sekadar bertahan hidup, memikirkan cicilan, dan mengejar tren, hingga tidak sempat lagi mengkritisi bagaimana sumber daya alam (SDA) negeri ini dikuasai oleh segelintir korporasi.
Solusi Hakiki: Kembali pada Kompas Kehidupan
Kita membutuhkan sistem yang benar dalam mengurus rakyat. Dalam pandangan Islam, negara tidak boleh berlepas tangan dari urusan masyarakat. Sistem kepemimpinan Islam (Khilafah) wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat melalui pengelolaan sumber daya alam yang mandiri, serta memastikan setiap laki-laki dewasa mendapatkan akses pekerjaan yang layak, sehingga Gen Z tidak lagi merasa berjuang sendirian.
Kita juga membutuhkan media publik yang tidak mempromosikan gaya hidup sekuler-liberal. Media dalam Islam difungsikan untuk mendidik, mengedukasi, dan menguatkan keimanan masyarakat, bukan untuk menciptakan budaya FOMO dan konsumerisme konyol.
Hal yang paling penting adalah mengembalikan kompas arah hidup kita sesuai fitrah penciptaan, sebagaimana firman Allah ï·»:
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْØ¥ِنسَ Ø¥ِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Ketika telah memahami bahwa hakikat hidup adalah untuk beribadah kepada Allah ï·», Gen Z akan tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan mulia, bukan karena kekayaan materi atau jumlah pengikut (followers) di media sosial, melainkan karena kedalaman iman serta kepemilikan visi besar untuk membangun peradaban Islam yang cemerlang.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar