PELUCUTAN SENJATA HAMAS, BISAKAH MENJADI SOLUSI PERDAMAIAN?


Oleh: Afifah Nur
Penulis Lepas

Gaza, tanah muslim yang tengah digenosida oleh Zionis Israel, tak kunjung menemukan jalan keluar. Solusi demi solusi diujarkan dan perundingan demi perundingan dilakukan, namun nihil tak satu pun membuahkan hasil. Pelucutan senjata Hamas adalah salah satu wacana yang bergulir.

RFI memberitakan bahwa wacana pelucutan senjata Hamas tersebut diklaim sebagai langkah menuju perdamaian dan keamanan. Setelah pelucutan senjata, tentara Zionis Israel diminta mundur dari Gaza, lalu Pasukan Stabilitas Internasional (International Stabilization Force) akan bekerja sama dengan polisi Palestina untuk mengawasi dan bertanggung jawab atas keamanan Gaza (Detik, 31/7/2026). Namun kenyataannya, serangan Zionis Israel tetap berlangsung dan faksi-faksi perlawanan di Gaza secara tegas menolak pelucutan senjata tersebut.

Pasukan Israel kembali melancarkan serangan udara di Jalur Gaza pada Sabtu dan Minggu (1–2/8/2026) yang menewaskan sedikitnya delapan warga Palestina. Serangan ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana pelucutan senjata Hamas (IDN Times, 3/8/2026).

Hamas sempat menyetujui penarikan senjata dengan syarat Israel menghentikan serangan dan menarik seluruh pasukannya secara permanen. Keputusan persetujuan rancangan ganjalan di Jalur Gaza tersebut mendapat sambutan dari Presiden AS Donald Trump. Kendati demikian, poin perdamaian yang memuat rencana penarikan pasukan Israel serta pengakuan kekuasaan kepada otoritas Palestina justru direspons dingin oleh para pejabat dan publik di Tel Aviv. Pejabat diplomatik Israel menegaskan tidak akan ada penarikan pasukan tanpa pelucutan senjata penuh dari Hamas.


Siasat Pelemahan Perlawanan

Pelucutan senjata Hamas dan kelompok perlawanan lainnya di Gaza tak lain hanyalah siasat Amerika Serikat dan Zionis Israel belaka. Mereka menggunakan instrumen dewan perdamaian Board of Peace (BoP) untuk melemahkan perjuangan rakyat Palestina, sehingga dapat dengan mudah menumpas perlawanan mereka. Bergabung dengan kerangka BoP sama saja dengan menyerahkan Gaza ke mulut harimau (Zionis Israel dan AS). Oleh karena itu, umat harus disadarkan akan bahaya dari diplomasi palsu ini.

Pelucutan senjata bukanlah solusi bagi perdamaian, keamanan, maupun pembebasan Gaza. Sebab, perampasan tanah dan aksi kemanusiaan di Gaza akan terus mereka lakukan selama penjajahan berdiri. Selain itu, seharusnya bukan senjata rakyat Palestina yang dilucuti, melainkan militer Zionis Israel itu sendiri, karena merekalah sumber masalah utama di tanah Palestina. Kehadiran Pasukan Stabilitas Internasional pun sama sekali tidak ditujukan untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah.

Oleh karena itu, umat harus terus disadarkan akan bahaya tipu daya Zionis Israel dan AS, sebab mereka akan terus merancang siasat-siasat baru yang melanggengkan penjajahan atas Palestina. Berbagai perundingan sengaja dilakukan demi menghasilkan kesepakatan yang menundukkan rakyat Palestina.

Maka, sudah saatnya kritik dan koreksi (muhasabah 'alal hukkam) terhadap para pemimpin negeri muslim terus digelorakan atas pengkhianatan mereka yang memilih bersekutu dengan AS dan kerangka BoP-nya. Umat Islam harus bersikap tegas terhadap para penguasa tersebut, bukan malah merasa puas dengan retorika diplomasi sesaat.


Urgensi Kepemimpinan Global Islam

Umat hari ini membutuhkan kepemimpinan Islam global (Khilafah) yang akan melindungi setiap jengkal wilayah negeri-negeri Islam. Khilafah tidak akan membiarkan darah kaum muslimin tercecer sia-sia di tangan musuh. Sejarah telah membuktikan bahwa saat negeri-negeri muslim bersatu dalam institusi Khilafah di bawah kepemimpinan seorang Khalifah, kaum muslim di seluruh dunia merasakan perlindungan nyata. Hal ini karena Khalifah berfungsi sebagai perisai (junnah) bagi rakyatnya.

Khilafah bukan sekadar konsep politik, melainkan kewajiban syariat (fardhu syar'i) yang menentukan masa depan dan kemuliaan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Kaum muslimin akan kembali menjadi umat terbaik (khairu ummah) jika memiliki institusi pemerintahan Islam global yang kuat sebagai pelindung mereka. Jika tidak, umat Islam akan terus terpuruk dan terzalimi sebagaimana yang kita saksikan hari ini. Maka, kita harus meyakini bahwa Palestina baru akan benar-benar merdeka dan bebas ketika tentara kaum muslimin bergerak di bawah komando Khilafah untuk membebaskan bumi Al-Quds dari penjajahan Zionis Israel.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar