
Oleh: Nurlis
Aktivis Muslimah
Isu penyebaran perilaku penyimpangan seksual LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat terus menjadi sorotan serius di Indonesia. Berdasarkan data estimasi Central Intelligence Agency (CIA), perkiraan paparan penyimpangan perilaku di Indonesia mencapai sekitar 3 persen. Jika populasi Indonesia berada pada angka 278 juta jiwa, angka 3 persen tersebut merepresentasikannya lebih dari 8,34 juta orang.
Dampak kesehatan dari gaya hidup berisiko ini pun nyata: laporan kesehatan mencatat ada sekitar 564 ribu orang di Indonesia yang terinfeksi HIV/AIDS, yang menempatkan Indonesia pada deretan negara dengan estimasi kasus HIV cukup tinggi di kawasan regional maupun global.
Di sisi lain, fenomena sosial yang tidak kalah mengkhawatirkan adalah makin menguatnya isu fatherless, yakni fenomena ketidakhadiran peran pengasuhan dan keteladanan sosok ayah dalam pendidikan keluarga. Indonesia bahkan kerap disebut-sebut masuk dalam jajaran negara dengan tingkat keterlibatan ayah yang rendah (fatherless country).
Kondisi fatherless ini kerap terjadi karena seorang ayah menganggap kewajiban pengasuhannya telah usai sebatas ketika ia berhasil memenuhi kebutuhan finansial atau materi keluarga. Padahal, minimnya keterlibatan emosional dan pendidikan karakter dari seorang ayah berisiko menjadi awal rapuhnya ketahanan rumah tangga serta pembentukan mental generasi penerus.
Akar Masalah: Ketimpangan Sistemik dan Peran Negara
Merebaknya gaya hidup menyimpang serta krisis pengasuhan keluarga saat ini tidak bisa sekadar dipandang sebagai kesalahan pergaulan individu atau kelalaian pengawasan keluarga semata. Fenomena ini merupakan dampak sistemik dari adopsi sistem sekularisme-kapitalisme yang memisahkan nilai-nilai agama dari tata kehidupan publik.
Dalam sistem sekuler, pendidikan kerap gagal membentuk kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyyah) pada diri individu. Di saat yang sama, media sosial diberikan kebebasan tanpa batas untuk mengejar keuntungan materi demi segelintir pemilik modal. Eksistensi dan kebebasan perilaku individu diagungkan atas nama Hak Asasi Manusia (HAM) tanpa memedulikan batas-batas moral dan syariat.
Dalam kondisi ini, negara belum menjalankan fungsi utamanya sebagai raa'in (pengurus dan pelindung urusan rakyat). Anak-anak dibiarkan mencari jati diri di tengah derasnya arus informasi tanpa kendali dan penyaringan (filtering).
Keluarga akhirnya dipaksa berjuang sendirian dalam menangani seluruh aspek kehidupan, mulai dari tingginya biaya kesehatan, pendidikan, hingga pemenuhan kebutuhan dapur. Akibatnya, seorang ayah kehabisan energi dan waktu untuk mendidik anak-anaknya karena seluruh fisiknya telah terkuras hanya untuk menyambung hidup.
Keluarga bertarung sendirian menanamkan nilai-nilai keimanan di dalam rumah, sementara lingkungan luar (seperti sekolah, media tontonan, dan pergaulan publik) justru menarik anak-anak ke arah yang berlawanan.
Ayah sebagai Qawwam dan Solusi Islam
Padahal dalam pandangan Islam, ayah memegang kedudukan kepemimpinan yang sangat vital dalam keluarga. Ayah adalah qawwam (pemimpin, pelindung, dan penanggung jawab utama). Ketika sosok ayah tidak hadir secara utuh dalam fungsi pendidikan rumah tangga, anak-anak akan kehilangan figur teladan dalam belajar kedisiplinan, rasa tanggung jawab, serta keteguhan keimanan.
Allah ﷻ berfirman mengenai kewajiban utama kepala keluarga:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu...” (QS. At-Tahrim: 6).
Semua aturan pengasuhan dan perlindungan moral generasi ini tidak akan dapat diterapkan secara optimal kecuali apabila didukung oleh sistem kehidupan yang kondusif. Diperlukan peran aktif negara untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berbasis akidah, media yang mendidik, serta sistem ekonomi yang menyejahterakan sehingga para ayah memiliki waktu dan ruang yang cukup untuk menjalankan fungsi kepemimpinannya di dalam keluarga.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar