
Oleh: Irma Suryani, S.T.
Penulis Lepas
Tepi Barat kini bagai luka yang tak kunjung diobati, terus meneteskan darah setiap harinya. Anak-anak yang seharusnya tumbuh bagai tunas yang segar, justru dipatahkan sebelum sempat mekar, dihantam peluru, dikurung dalam sel, atau diusir dari tanah tempat mereka lahir.
Kejahatan Zionis bergerak bagai api yang menyebar perlahan, melahap rumah-rumah, kebun-kebun, dan masa depan satu per satu, sementara dunia hanya berdiri mematung bagai penonton yang tak berani memadamkan apinya. Diamnya penguasa dan bangsa-bangsa di dunia bukanlah kedamaian, melainkan air yang justru menyiram api kejahatan agar makin berkobar.
Di tengah keheningan yang memalukan itu, suara hati umat Islam bagai lonceng yang tak boleh berhenti berbunyi, memanggil untuk bangkit, menyatukan barisan, dan menggalang kekuatan, karena tanah Palestina tidak akan kembali damai hanya dengan doa yang tertahan di tenggorokan, melainkan dengan perlawanan yang tegak di atas kebenaran.
Darah anak-anak Palestina terus mengalir di tanah Tepi Barat. Sejak Januari 2024 hingga Juli 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, itu berarti lebih dari satu anak tewas setiap minggunya. Sebagaimana dilansir Republika pada 12 Agustus 2026, Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyatakan bahwa hanya hingga 10 Agustus 2026 saja, sebanyak 76 warga Palestina telah syahid di Tepi Barat sepanjang tahun ini, termasuk 18 anak di bawah umur.
Lebih dari 1.500 anak lainnya menderita luka-luka, dan hampir separuh dari mereka terkena peluru tajam. Bahkan yang lebih memilukan, sebanyak 355 anak Palestina saat ini tertahan di dalam tahanan militer Israel, jumlah tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Kekerasan yang dilakukan oleh tentara dan pemukim Zionis telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. PBB mencatat lebih dari 1.430 insiden kekerasan pemukim pada tahun 2026 saja, yang berdampak pada sekitar 260 komunitas Palestina. Polanya sangat jelas: warga Palestina dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka, lalu tanah yang telah dikosongkan itu diambil alih oleh para pemukim ilegal (Republika, 12/8/2026).
Sebagaimana dilansir Antara pada 15 Agustus 2026, Otoritas Kepresidenan Palestina menilai eskalasi serangan ini makin memperburuk situasi dan mengancam setiap peluang perdamaian. Di Kota Qusra, misalnya, puluhan warga dikepung selama berhari-hari di dalam rumah mereka dan diblokir dari akses kebutuhan pokok, sementara dunia hanya menyaksikan dalam diam.
Pola Penindasan yang Sama, Keheningan yang Sama: Sampai Kapan?
Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina sungguh sangat biadab. Tubuh-tubuh kecil yang seharusnya bermain, belajar, dan bermimpi tentang masa depan, justru menjadi sasaran peluru, penjara, dan teror yang tak henti-henti. Setiap tetes darah anak yang tumpah adalah bukti nyata kebiadaban yang merobek hati setiap manusia yang memiliki nurani. Penderitaan yang dialami anak-anak Palestina tidak hanya berupa luka fisik, melainkan juga trauma mendalam yang melekat seumur hidup, ketakutan saat mendengar suara ledakan, kegelisahan saat melihat orang berseragam militer, dan kehilangan rasa aman di rumah mereka sendiri.
Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan tanah, dan pembantaian secara bertahap untuk menguasai seluruh Tepi Barat. Mereka mengikuti pola yang sama yang telah mereka terapkan di Gaza: menekan, memecah, dan mengusir, hingga penduduk asli tidak lagi memiliki pilihan selain pergi atau binasa. Serangan-serangan ini bukanlah kebetulan atau bentrokan biasa, melainkan rencana sistematis untuk membersihkan tanah Palestina dari penduduk aslinya agar dapat dikuasai penuh oleh entitas penjajah.
Hal yang paling menyakitkan dari semuanya adalah kenyataan bahwa dunia internasional, termasuk para penguasa di negeri-negeri muslim, justru bungkam. Mereka melihat darah anak-anak mengalir di jalanan Palestina, namun tidak berani mengambil langkah konkret untuk melawan kejahatan ini. Dewan Keamanan PBB menggelar sidang dan mengeluarkan pernyataan retoris (tetapi tanpa tindakan nyata. Para pemimpin negara-negara Islam menyampaikan belas kasihan dan kecaman) tetapi tidak ada pengerahan kekuatan militer untuk membebaskan Palestina. Kejahatan ini terus berlanjut dan makin ganas karena tidak ada yang berani memutusnya secara tegas.
Saatnya Ukhuwah Menjadi Kekuatan: Hanya Khilafah yang Mampu Membebaskan Palestina
Islam mengharamkan secara total pembiaran kejahatan terhadap anak-anak dan terhadap kemanusiaan. Membiarkan pembunuhan berlangsung tanpa perlawanan sama saja dengan turut melapangkan jalan bagi kezaliman tersebut. Islam menegaskan bahwa tolong-menolong dalam kemaksiatan dan kezaliman adalah hal yang dilarang keras oleh Allah ï·», sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:
ÙˆَتَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الْبِرِّ ÙˆَالتَّÙ‚ْÙˆَÙ‰ٰ ۖ ÙˆَÙ„َا تَعَاوَÙ†ُوا عَÙ„َÙ‰ الْØ¥ِØ«ْÙ…ِ ÙˆَالْعُدْÙˆَانِ ۚ ÙˆَاتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ ۖ Ø¥ِÙ†َّ اللَّÙ‡َ Ø´َدِيدُ الْعِÙ‚َابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma'idah: 2).
Inilah saatnya ukhuwah Islamiyah tidak lagi sekadar jargon yang diucapkan di atas mimbar, melainkan diwujudkan melalui persatuan politik negeri-negeri muslim dan penegakan Khilafah. Hanya kekuatan politik dan militer yang bersatu di bawah naungan syariat yang mampu berdiri tegak melawan kejahatan Zionis. Selama umat Islam terpecah belah dan diperintah oleh kepemimpinan yang terikat oleh kepentingan nasionalisme sempit, darah anak-anak Palestina akan terus mengalir tanpa ada yang mampu membentenginya.
Seruan jihad dan pengerahan tentara kaum muslimin untuk membebaskan Palestina harus terus digelorakan oleh partai politik ideologis dan seluruh elemen umat, sampai tanah Palestina benar-benar merdeka dari penjajahan secara nyata. Belas kasihan dalam pidato, pernyataan kecaman, dan Sidang Umum PBB tidak akan menghentikan peluru Zionis.
Palestina tidak akan merdeka melalui perundingan kompromistis atau belas kasihan dunia Barat. Palestina baru akan merdeka secara hakiki ketika umat Islam bersatu di bawah naungan Khilafah, menggalang kekuatan militer (jihad), dan bergerak bersama untuk membebaskan tanah suci Al-Quds dari cengkeraman penjajah Zionis.
Kesimpulan
Tidak ada lagi waktu untuk sekadar berdiam diri. Setiap tetes darah anak Palestina yang tumpah adalah peringatan keras bagi kita semua: Sampai kapan kita akan membiarkan kejahatan berkuasa tanpa perlawanan yang sepadan?
Jawabannya hanya satu: Palestina tidak akan merdeka melalui perundingan diplomasi kompromis atau belas kasihan internasional. Palestina akan merdeka ketika umat Islam bersatu di bawah naungan Khilafah, menggalang pengerahan kekuatan (jihad), dan bergerak bersama untuk membebaskan tanah suci dari cengkeraman penjajah Zionis.
Wallahu a'lam bish-shawab.

0 Komentar