HIJRAH, ISTIQAMAH, DAN GODAAN DUNIA


Oleh: Ai Ita
Komunitas Ibu Peduli Generasi

Mengawali perjalanan hijrah pada tahun 2021, aku yang dulunya begitu ambisius mengejar keduniaan hingga melupakan perbekalan akhirat akhirnya mendapat teguran penuh kasih sayang dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Tiga orang tercinta yang amat aku sayangi dipanggil kembali oleh-Nya dalam kurun waktu yang singkat, sekitar 100 hari. Peristiwa duka yang beruntun itu menyentakkan kesadaranku bahwa suatu saat, tanpa ragu, giliran dirikulah yang akan melangkah kembali kepada Sang Pencipta.

Dari titik permenungan sanubari itulah, aku mantap memutuskan untuk berhijrah.

Lima tahun berlalu aku meniti jalan hijrah ini dengan segala manisnya kenikmatan iman dan terjangan ujiannya. Namun, perjalanan mempertahankan ketaatan ternyata tidak pernah mudah. Pada satu titik dinamika spiritual, aku kembali terbuai oleh gemerlap dunia. Bukan oleh godaan kemewahan harta atau tingginya jabatan, melainkan oleh kekalahan menundukkan hawa nafsu diri sendiri.

Keinginan untuk kembali tampil di hadapan publik perlahan mencuat. Layar media sosial kembali kujadikan panggung untuk mengeksiskan diri. Paras wajah, lekuk tubuh, dan keindahan penampilan yang dahulu berusaha kujaga rapat dari pandangan ajnabi mulai kembali kutampilkan. Pakaian longgar yang dahulu membalut tubuh kembali kuketatkan. Kerudung lebar yang menjulur anggun kembali kukecilkan ukurannya. Bahkan, setelah lima tahun memprivasi diri dari riuk publik digital, aku kembali aktif mengunggah potret diri.

Hati kecilku sejujurnya membisikkan bahwa langkah itu salah, tetapi saat itu aku seolah menutup mata dan tak lagi peduli.

Hingga pada suatu hari, seorang sahabat menegurku melalui sebuah kalimat sederhana namun menghujam kalbu: “Kamu sekarang cantik, tetapi akan jauh lebih cantik jika kamu kembali menutup aurat secara syar'i seperti dulu.

Teguran tulus itu seketika menghentikan langkahku. Kalimat sederhana itu memaksa pikiranku berputar kembali. Aku tersadar bahwa perlahan tetapi pasti, aku telah memberikan porsi yang terlalu besar bagi keduniaan untuk menguasai kembali ruang di dalam hatiku.


Ketika Dunia Menggeser Orientasi Hidup

Kisah refleksi ini mungkin bukan sebatas pengalaman pribadi diriku seorang.

Banyak di antara kita mengawali garis start hijrah dengan kobaran semangat yang luar biasa. Ada yang berbenah merubah penampilan busana, meninggalkan pergaulan buruk, rajin menghadiri majelis ilmu, dan berjuang mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta'ala. Namun seiring berjalannya waktu, tidak sedikit yang terseret kembali pada kebiasaan lamanya.

Mengapa fenomena ini terus berulang?

Sebab, kita hidup di tengah-tengah lingkungan sekuler yang setiap hari menyerbu kita dengan standar kehidupan yang bertolak belakang dari norma Islam. Media sosial, misalnya, tidak lagi sebatas wahana komunikasi teknis. Ia telah menjelma menjadi pembentuk cara pandang massal tentang arti kebahagiaan, kesuksesan, kecantikan, dan kehormatan diri.

Popularitas digital, keindahan fisik, eksistensi publik, jumlah pengikut (followers), dan pengakuan sesama manusia perlahan digeser menjadi indikator utama kebahagiaan. Hari ini seseorang merasa harus terlihat menawan di kamera, memburu perhatian, dan memamerkan privasi ke ruang publik demi pengakuan sosial.

Tanpa disadari, tolok ukur kebahagiaan hidup pun bergeser. Bukan lagi pertanyaan “Apakah Allah rida atas perbuatanku ini?”, melainkan berganti menjadi “Apakah publik menyukai penampilanku?

Inilah kerawanan mendasar yang wajib diwaspadai oleh setiap muslim, terutama bagi mereka yang sedang berjuang mengukuhkan istiqamah. Persoalannya bukan sekadar aplikasi media sosial atau tren pakaian, melainkan pada pergeseran pandangan hidup (worldview).

Ketika dunia dijadikan orientasi utama, manusia akan sangat mudah mengorbankan ketaatan demi meraup kesenangan temporer. Sebaliknya, tatkala akhirat diletakkan sebagai muara tujuan, seluruh aspek dunia akan difungsikan sebatas sarana untuk meraih keridaan Allah Subhanahu wa ta'ala. Allah Subhanahu wa ta'ala mengingatkan hakikat dunia dalam Al-Qur'an:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berlomba-lomba tentang banyaknya harta dan anak...” (QS. Al-Hadid: 20).

Oleh karena itu, proses hijrah tidak cukup berhenti pada perubahan gaya berbusana di luar. Hijrah membutuhkan perubahan pola pikir (amaliyyah), pergeseran standar nilai, dan pembenahan arah orientasi hidup.


Hijrah Tidak Cukup Dijalani Sendirian

Seorang individu mungkin sanggup memutus satu kebiasaan maksiat. Namun, jika setiap hari ia dipaksa kembali berinteraksi dalam lingkungan yang mendesaknya pada gaya hidup hedonistik, perjuangan menjaga istiqamah akan terasa sangat berat karena harus melawan arus secara terus-menerus.

Maka dari itu, seorang muslim membutuhkan pembinaan ilmu syariat yang kontinu serta lingkungan pergaulan shaleh yang saling menguatkan dalam ketaatan.

Namun, apakah membenahi individu saja sudah cukup? Tentu tidak.

Sebab, individu tidak hidup di ruang hampa; mereka tumbuh di tengah tatanan masyarakat. Masyarakat itu sendiri dibentuk oleh akumulasi pemikiran, nilai budaya, aturan hukum, dan sistem politik yang menaunginya. Jika sistem kehidupan yang berlaku justru memberi karpet merah bagi berkembangnya gaya hidup yang menjauhkan manusia dari ajaran Islam, perjuangan individu untuk istiqamah akan selalu berhadapan dengan benteng benturan sistemis.

Di sinilah kita wajib memahami bahwa perbaikan moral umat tidak dapat diselesaikan sebatas dengan imbauan ketaatan individu semata. Islam bukan sekadar agama ritual pribadi yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta di dalam mihrab masjid. Islam merupakan din yang sempurna yang menyajikan tata kelola interaksi masyarakat, mulai dari sistem pendidikan, pergaulan, keluarga, ekonomi, tata kelola media informasi, hingga tatanan bernegara.

Tatkala kerusakan moral merebak di ruang publik, solusinya tidak cukup sebatas menyeru individu untuk bertobat, sementara sistem dan atmosfer sosial yang merusak akhlak mereka tetap dibiarkan beroperasi tanpa kontrol syariat.


Membangun Kehidupan dalam Naungan Syariat Islam

Perubahan memang harus dimulai dari kesadaran diri perorangan. Kita wajib terus meluruskan niat, memperkuat fondasi akidah, mendalami hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta'ala, serta membentengi diri dalam komunitas dakwah yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

Namun, ikhtiar tidak boleh berhenti di batas ruang privat semata. Kita memikul amanah untuk menyadarkan masyarakat bahwa berbagai problem moralitas hari ini berakar dari penerapan tatanan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Umat membutuhkan ekosistem kehidupan yang menjadikan syariat Islam sebagai tolok ukur utama perbuatan, bukan sebatas pilihan opsional perorangan.

Dalam tata kelola kehidupan Islam (Khilafah), hukum-hukum Allah Subhanahu wa ta'ala diterapkan secara utuh untuk melindungi moral publik. Kurikulum pendidikan diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam (syakhsiyyah Islamiyyah). Aturan pergaulan pria dan wanita dijaga agar tetap berada dalam koridor iffah dan muru'ah. Media massa dikontrol agar tidak menjadi sarana penyebaran pornografi dan pemikiran rusak. Dan negara bertindak penuh sebagai pengurus (raa'in) dan perisai pelindung (junnah) yang menjaga akidah serta kehormatan warganya.

Dengan demikian, seorang muslim yang ingin taat tidak lagi dipaksa berjuang seorang diri menyeberangi arus kehidupan yang merusak. Ketaatan akan menjadi tradisi dan karakter kolektif masyarakat. Inilah krusialnya perjuangan mewujudkan penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah).


Jangan Menunda untuk Kembali

Selagi Allah Subhanahu wa ta'ala masih menganugerahkan napas dan kesempatan untuk menyadari kekhilafan, jangan pernah menunda langkah untuk bertobat. Ketika hati masih digetarkan oleh rasa takut akan kematian, manfaatkan momentum tersebut untuk kembali bersimpuh di hadapan-Nya.

Aku tidak ingin menghadap Allah Subhanahu wa ta'ala kelak dalam kondisi bergelimang dosa. Aku merindukan agar kecintaan pada dunia makin mengerdil di dalam hatiku, dan kerinduan pada akhirat kian membesar membara.

Mungkin cita-cita ini terasa terlampau tinggi bagi hamba yang berlumur cela. Namun, kita memiliki Allah Subhanahu wa ta'ala Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka, jangan pernah ragu untuk melangkah kembali. Hijrah bukanlah tentang siapa yang tidak pernah terjatuh, melainkan tentang siapa yang mau bangkit bertobat tatkala menyadari dirinya telah menyimpang dari rute yang benar.

Mari terus belajar, terus mengkaji syariat Islam, terus memperbaiki kualitas diri, dan tak lelah menyeru masyarakat untuk menerapkan Islam secara kafah. Kita tidak sekadar membutuhkan individu yang saleh secara pribadi, melainkan membutuhkan ekosistem kehidupan bernegara yang diatur dengan Islam, agar ketaatan tidak menjadi beban perjuangan individu semata, melainkan menjadi identitas utama peradaban.

Semoga Allah Subhanahu wa ta'ala senantiasa mengokohkan langkah kita dalam ketaatan hingga akhir hayat, menjaga hati agar tidak terbuai oleh pesona dunia, serta menghadiahi kita kehidupan yang bernaung di bawah keridaan dan syariat-Nya.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar