DARIPADA SIBUK COPRAS CAPRES 2024, KENAPA KITA TAK BERFIKIR MEMBAIAT KHALIFAH SECEPATNYA ?


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Umat inj wajib dicerahkan pemikirannya dalam berpolitik. Bukan disuguhi narasi basi, dengan meminta umat menyiapkan pemimpin untuk tahun 2024. Seolah, problem keumatan saat ini hanya karena faktor pemimpin

Problematika keumatan hari ini terjadi justru karena persoalan sistem, selain pemimpin yang tidak amanah tentunya. Karena itu, solusi yang ditawarkan musti sistemik jangan hanya sibuk cari figur capres untuk Pilpres 2024. Faktanya, Prabowo itu pilihan Umat, namun pada akhirnya juga tak sesuai harapan.

Problem sekulerisme demokrasi, itulah akar masalahnya. Bukan cuma figur Presiden. Jadi, solusinya bagaimana menghilangkan demokrasi agar syariat Islam bisa ditegakkan secara kaffah ? Itu jawabannya adalah Khilafah. Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam yang dapat menggusur sekulerisme demokrasi.

Nah, Khilafah tak mungkin tegak tanpa Khalifah. Khalifah tak mungkin sah menduduki jabatan kekhilafan tanpa baiat dari umat. Nah, inilah problem pokoknya. Bagaimana kita umat Islam bisa segera membaiat Khalifah, sebagaimana dahulu suku Aus dan Khazraj membaiat Nabi SAW menjadi kepala negara Islam yang pertama di Madinah.

Membaiat Khalifah itu beda dengan menunggu Imam Mahdi. Kalau menunggu imam Mahdi, itu cukup duduk dan berzikir di masjid. Sementara membaiat Khalifah, itu butuh berjuang.

Untuk membaiat Khalifah, umat Islam wajib melakukan aktivitas :

Pertama, berdakwah kepada segenap kaum muslimin dan memahamkan betapa pentingnya Khilafah untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah dan sebagai sarana untuk mengemban risalah Islam keseluruh penjuru alam. Umat Islam, wajib meneladani aktivitas Mus'ab Bin Umair yang mendakwahi masyarakat Madinah hingga tak ada satu pintu pun di Madinah kecuali ramai diperbincangkan dua hal : Islam dan Rasulullah SAW.

Saat ini, dakwah harus masuk ke setiap pintu rumah kaum muslimin hingga seluruh pintu rumah ramai membincangkan dua hal : Khilafah dan Khalifah. Tak boleh lagi umat ini dibuat lalai dengan seruan Demokrasi.

Kedua, aktivitas mendatangi ahlul quwah, yakni para pemilik kekuatan, baik dikalangan Jenderal, pengusaha, Ulama, para Cendekia, Aktivis, dan tokoh-tokoh kunci perubahan, agar mereka mendukung dan membela penegakan Khilafah. Hal inilah, yang dilakukan oleh Mus'ab bin Umair ketika mendatangi petinggi Aus dan Khazraj untuk memperoleh dukungan dan perlindungan mereka, untuk menegakkan daulah Islam di Madinah, dan membaiat Rasulullah SAW sebagai kepala Negaranya.

Ketiga, menyiapkan calon Khalifah yang akan ditawarkan kepada umat dan ahlul quwwah, untuk dibaiat, untuk didengar dan ditaati, untuk mewakili kaum muslimin menegakkan hukum Allah SWT. Tentulah, calon Khalifah ini harus muslim, laki laki, dewasa, berakal, merdeka, adil dan memiliki kemampuan untuk mengemban amanah kekhilafan.

Ahok tak mungkin jadi Calon Khalifah karena bukan muslim. Khofifah Indar Parawangsa tak bisa jadi calon Khalifah karena perempuan. Rafatar Malik tak dapat jadi calon Khalifah karena belum baligh. Jokowi tak bisa jadi calon Khalifah, karena tidak adil, sering berdusta dan ingkar janji.

Calon Khalifah harus memiliki kapasitas. Yang jelas, kemampuan calon Khalifah meliputi kemampuan memahami syariah Islam secara menyeluruh, dan kemampuan mengelola pemerintahan dan negara. Dia, harus orang yang paham politik, bukan hanya lokal nasional, tetapi juga global. Harus terbebas dari cengkeraman Amerika, China dan seluruh negara-negara penjajah lainnya.

Jadi, inilah fokus amal umat Islam. Bukan sibuk dengan narasi copras capres. Langkah ini juga tak terikat waktu, sebab khilafah bisa tegak kapan saja tanpa menunggu tahun 2024. [].

Posting Komentar

0 Komentar