KELOMPOK ISLAM ITU WAJIB MEMPERJUANGKAN KHILAFAH ISLAMIYYAH, BUKAN DEMOKRASI


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Allah SWT berfirman :

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104)
"Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang beruntung."
[Ali Imran : 104]

Ayat di atas, banyak dijadikan dasar argumentasi bagi sejumlah kelompok politik, organisasi Islam, gerakan Islam, yang membentuk suatu kutlah (jama'ah) dalam rangka melakukan aktivitas dakwah secara terorganisir. Sebab, kebajikan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir.

Kelompok, partai, organisasi apapun yang memenuhi seruan ayat ini tentu harus berasas Islam, memiliki aktivitas dalam menyeru (dakwah) kepada Islam, dan memiliki tujuan untuk menerapkan hukum Islam yakni hukum Allah SWT. Kelompok atau jamaah politik apapun, berstatus batil jika tidak memiliki asas, aktivitas dan tujuan dan kegiatan yang berorientasi kepada Islam.

Adapun Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia yang bertujuan menerapkan syariah Islam secara kaffah dan mengemban risalah dakwah Islam keseluruh penjuru alam. Kelompok politik yang menyeru kepada Khilafah tentu saja sejalan dengan visi surah Ali Imran 104 ini, dengan catatan harus berasas Islam, aktivitasnya dakwah Islam dan bertujuan menerapkan hukum Islam, hukum Allah SWT.

Karena itu, penulis merasa kaget, miris sekaligus prihatin ketika ada tokoh nasional justru mempersoalkan adanya kelompok Islam yang memperjuangkan Khilafah. Padahal, Khilafah itu asasnya Islam, aktivitasnya menerapkan hukum Islam dan berdakwah keseluruh penjuru alam, dan tentu saja bertujuan kepada Allah SWT, yakni membebaskan seluruh umat manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju menghamba hanya kepada Allah SWT semata.

Justru yang keliru itu jika ada kelompok Islam memperjuangkan demokrasi, memperjuangkan sekulerisme, memperjuangkan hukum hawa nafsu, mengajak manusia mempertuhankan makhluk, dengan mentaati perintah dan menjauhi larangan makhluk dengan mengabaikan hukum Allah SWT. Demokrasi telah mempergunakan hukum hawa nafsu, meletakkan kedaulatan ditangan manusia dan mengabaikan hak Allah SWT selaku pemilik kedaulatan, yang memiliki hak memerintah dan melarang manusia.

Saat Allah SWT berfirman dalam Surat At-Taubah Ayat 31 :

ٱتَّخَذُوٓا۟ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَٰنَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلْمَسِيحَ ٱبْنَ مَرْيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوٓا۟ إِلَٰهًا وَٰحِدًا ۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Orang-orang Yahudi menjadikan para ulama mereka dan orang-orang Nasrani menjadikan para rahib sebagai tuhan-tuhan selain Allah yang menghalalkan bagi mereka apa yang Allah haramkan dan mengharamkan bagi mereka apa yang Allah halalkan.

Lalu apa bedanya Umat hari ini yang mempertuhankan Demokrasi ? Menjadikan John Locke sebagai panutan ? Menjadikan Montesqueu sebagai teladan ? Menghalalkan dan mengharamkan suatu urusan berdasarkan demokrasi, berdasarkan suara rakyat. Menghalalkan zina, riba, khamr, penguasaan tambang oleh swasta dan asing, padahal itu semua diharamkan Allah SWT.

Semestinya tokoh Umat, para ulama Islam, itu mengingatkan kelompok Islam agar tidak memperjuangkan Demokrasi. Sebab, demokrasi substansinya menuhankan makhluk.

Sementara Khilafah, jelas institusi yang menerapkan syariat Islam. Institusi yang menegakkan hukum Allah SWT. Karena itu, seluruh kelompok Islam baik Partai, Organisasi atau Pergerakan, semestinya kompak memperjuangkan Khilafah.

Apalagi seluruh kekisruhan di negeri ini jelas akibat diterapkannya sistem demokrasi sekuler. Kenapa justru menyalahkan Khilafah ? Menakut-nakuti Umat dengan Khilafah ? Menjauhkan Umat dari Khilafah ?

Jika hal itu dilakukan Ali Mochtar Ngabalin, umat mafhum karena Ngabalin memang kerjanya menjadi jubir rezim yang anti Islam. Tapi jika tokoh atau ulama Islam, mengobarkan narasi agar umat menjauhi Khilafah, apa argumentasinya ?

Jangankan berhadapan dan bertanggung jawab kepada Allah SWT kelak di akhirat. Di dunia ini saja, tak ada hujjah bagi siapapun yang mendiskreditkan ajaran Islam Khilafah. [].

Posting Komentar

0 Komentar