SPEECHLESS


Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Saya benar-benar nyaris kehabisan kata-kata, nyaris terdiam meskipun hati menjerit berontak, melihat kelakuan pejabat di negeri ini. Mereka diamanahi urusan besar, yakni mengelola negara. Tapi sikap, kata, dan tindakan mereka seperti mengelola warung kelontong saja.

Dimulai dari DPR.

Masyarakat banyak yang menolak UU Cipta Kerja, tapi tetap saja mengesahkan. Belum lagi draft final yang disahkan masih berantakan, belum siap. Draft final yang disahkan di Paripurna, tidak dibagikan kepada anggota. Lalu itu yang di ketok di Paripurna apa ? Kupon SDSB ? Atau undian Nomor togel ?

Lanjut ke Presiden. Saat rakyat ingin ketemu, ingin mengadukan nasibnya, ingin mengetahui bagaimana sikap pemimpinnya. Ingin mengadu dan meminta perlindungan pemimpinnya. Presiden malah kabur.

Presiden lebih mengutamakan lahan singkong dan menengok itik ketimbang hadir menerima keluhan rakyat, mendengar keluhan rakyat. Syukur, memberikan solusinya.

Setelah kabur-kaburan, begitu kembali ke istana langsung bikin tudingan 9 hoaks UU Cipta Kerja. Ini maksudnya apa ? Apa semua yang mengkritisi, tak sejalan dengan pemerintah dan DPR, dianggap sebar hoaks ? Apa kebenaran itu monopoli DPR dan presiden ?

Lalu, apa dasar klarifikasi itu ? Lha wong Baleg saja mengaku draft final UU Cipta Kerja belum siap, belum rapih. Klaim hoaks itu dasarnya darimana ?

Kemudian menteri. Bidang politik hukum dan keamanan. Situasi sudah kacau, rakyat dan aparat banyak yang menjadi korban. Sumbernya ketidakberpihakan DPR dan kaburnya presiden.

Ini malah rakyatnya diancam. Rakyatnya masih dituding hoaks. Rakyatnya akan ditindak tegas.

Lalu presiden yang kabur kaburan akan diapakan ? DPR yang pengkhianat mau di bikin apa ?

Aneh, mestinya Menkopolhukam mengunggah narasi yang menyejukkan, menentramkan, mendamaikan. Narasinya Negara meminta maaf, karena alpa menyebabkan bentrok tak terkendali antara rakyat dan aparat.

Ini rakyat sudah jadi korban, dituding dan dipersalahkan. Ini maunya apa ? Saya benar benar speechless !

Kalau dicermati, kelakuan pejabat makin hari makin aneh-aneh. Tak lagi berempati kepada rakyat, narasinya seperti preman pasar. Menakut nakuti, sambil terus tarik pungutan kepada rakyat.

Ya Allah, barang siapa diserahi urusan rakyat namun mempersulit urusan itu, buatlah susah mereka. Buat menderita, siapapun yang membuat menderita rakyat.

Buatlah susah, siapapun yang menyusahkan rakyat. Buat hidupnya dipenuhi bala dan penyakit, siapapun yang mengkhianati rakyat. Buat mereka semua merasakan akibat dari berbuat zalim, di dunia terlebih lagi di akhirat. [].

Posting Komentar

0 Komentar