MANIFESTO REVOLUSI FUNGSIONAL, JALAN PENYELAMATAN INDONESIA RAYA


[Mencoba Mengenal Lebih Jauh Bang Eggi Sudjana]

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Sebagai sesama mitra Advokat, boleh dibilang Bang Eggi adalah Rekan sejawat penulis. Bang Eggi, selain seorang Aktivis juga dikenal luas sebagai seorang Advokat. Unik memang, Profesi Advokat itu profesi yang karib dengan kasus, perkara, konflik, hingga berbagai peristiwa genting sehubungan dengan tugas pembelaan terhadap klien.

Hanya saja, meskipun sama-sama berprofesi Advokat yang dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-undang no. 18 tahun 2003 tentang Advokat ditegaskan bahwa Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan. Namun, secara personal tentu setiap advokat memiliki kekhasan, kapasitas dan pengalaman yang berbeda, yang tentunya tak mungkin menyejajarkan penulis dengan Bang Eggi.

Yang penulis syukuri, penulis juga berada di jalur advokat pejuang yang menginginkan tegaknya syariat Islam. Bang Eggi ini terkenal pejuang syariat Islam, hingga sewaktu di HMI Bang Eggi memilih tetap beroposisi dengan rezim Orba dengan membentuk Majelis Penyelamat Organisasi untuk mempertahankan asas Islam ditubuh HMI.

Kala itu, rezim Soeharto memaksakan Pancasila sebagai asas tunggal. Miftah H. Yusufpati dalam buku Membangun Citra Islam (2007) mengungkapkan, Sidang Majelis Pekerja Kongres dan Rapat Pleno PB HMI pada 1-7 April 1985 di Puncak, Bogor, menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas dan Islam sebagai landasan nilai serta moral.

Keputusan tersebut dikukuhkan dalam Kongres HMI ke-XVI di Padang, Sumatera Barat, pada 24-31 Maret 1986 dengan Saleh Khalid terpilih sebagai ketua. Kebijakan PB HMI ini sontak mendapat penolakan dari cabang-cabang di berbagai daerah sehingga muncul banyak kepengurusan tandingan.

Bang Eggi Sudjana menjadi salah satu motor gerakan ini. Dikutip dari Menyatu dengan Umat, Menyatu dengan Bangsa (2002) karya Agussalim Sitompul, Bang Eggi menegaskan, salah satu alasan penolakan Pancasila sebagai satu-satunya asas HMI lantaran Islam adalah sumber inspirasi dan sumber motivasi bagi pemeluknya menyangkut masalah ideologi.

Bedanya, bang Eggi dulu aktif memperjuangkan syariat Islam bersama HMI. Sementara penulis, sejak dibangku kuliah hingga hari ini, aktif berjuang menegakkan syariat Islam, menegakkan hukum Allah SWT bersama HTI.

Akhir-akhir ini perhatian publik diramaikan dengan adanya wacana Revolusi Akhlak yang digelorakan HRS. Sebelumnya, ada juga Revolusi Mental yang digaungkan Jokowi.

Usut punya usut, Bang Eggi juga ternyata pernah bicara Revolusi bahkan menuliskannya dalam sebuah buku. Buku itu berjudul "Manifesto Revolusi Fungsional, Jalan Penyelamatan Indonesia Raya". Bagi Bang Eggi, Revolusi bukanlah barang baru.

Entah apa isi buku tersebut, yang jelas penulis baru mengetahui setelah Bang Eggi kirim secara pribadi foto cover buku. Melihat foto dalam buku, rasanya buku ini dibuat sudah beberapa tahun atau setidaknya sudah diatas lima tahun yang lalu.

Penulis tidak akan terlalu jauh mengupas buku tersebut, judul tulisan ini juga hanya menjadi entry point bahasa. Penulis lebih ingin mengingatkan kita semua, yang menyatakan diri sebagai aktivis, yang mendeklarasikan diri sebagai pejuang Islam.

Ya, beberapa bulan yang lalu penulis menjenguk Bang Eggi saat mengalami kecelakaan. Menurut Bang Eggi, kehidupan yang saat ini dimilikinya adalah anugerah. Sebab, jika menilik kerusakan kendaraan dan lokasi kecelakaan, rasanya seperti mimpi masih diberi hidup oleh Allah SWT.

Saat itu Bang Eggi berpesan agar terus berjuang, jangan merasa cukup, jangan merasa telah memiliki perbendaharaan amal berlimpah. Terus berjuang, terus berikan dedikasi dan peran terbaik bagi perjuangan, bagi Islam dan kaum muslimin.

Karenanya, Bang Eggi tak akan diam, akan terus bergerak dan berjuang, beramal untuk memperbanyak perbendaharaan bekal. Bang Eggi mengingatkan, agar jangan tertipu merasa telah memiliki cadangan segudang amal.

Pesan ini yang perlu penulis sampaikan kepada segenap aktivis, kaum pergerakan, yang sedang terus berdiri membela agama Islam. Pesan dari Bang Eggi ini adalah pesan umum bagi kita semua.

Rasanya indah sekali berjuang dan diikat karena akidah Islam, bukan karena menangani perkara klien bersama, bukan karena memiliki bisnis bersama, bukan karena sedang mengupayakan urusan dunia bersama. Penulis dipertemukan, karena akidah dan ikatan perjuangan.

Panjang umur dan sehat selalu Bang Eggi, semoga Allah SWT selalu memberikan penjagaan dan perlindungan. Apa yang diikat dengan akidah Islam, akan terikat kuat, simpul itu tak akan lepas, hingga kehidupan selanjutnya. [].

Posting Komentar

0 Komentar