
Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Namanya Fulan, dia memaksa ingin jadi walikota. Padahal, ustadznya Fulan sudah mewanti-wanti agar tidak ikut nyalon berkuasa dalam sistem demokrasi. Entah kurang apa dalil Al Qur'an dan as Sunnah yang disampaikan sang Ustadz. Si Fulan tetap ngotot nyalon.
Seorang sahabat juga mengingatkan, ini situasi pandemi. Bukan hanya bahaya syar'i ngotot ikut Demokrasi, tapi juga bahaya terinfeksi virus Corona.
Si Fulan ngotot, istri si Fulan juga sudah mimpi ingin disebut sebagai Ibu Walikota. Jadi, bukan mengingatkan tapi justru mendorong suaminya maju Pilkada.
Majulah Fulan dalam Pilkada. Diluar dugaan, biaya Pilkada di masa pandemi lebih tinggi. Selain urusan uang saksi, timses, kampanye, dll, calon juga harus menyiapkan anggaran untuk kepatuhan protokol pandemi. Dari urusan sanitizer sampai masker. Jadi lebih dari 30 miliar seperti yang diungkapkan Pak Mendagri.
Sampailah hari pemilihan, si Fulan mulai merasakan panas dan sesak dadanya. Tapi demi kemenangan, dia mengabaikan. Tak ingin pula diketahui lawan, sehingga jadi bahan serangan politik berdalih pandemi.
Sejak masa kampanye, Fulan menyembunyikan keluhan fisiknya karena khawatir diisolasi. Jika di isolasi, maka kesempatan menemui konsituen jadi terhambat.
Pengumuman telah keluar, Fulan keok. Namanya berada diurutan buncit dari 4 pasangan yang ada. Menggugat ke MK pun nyaris mustahil memang.
Fulan merasa dadanya makin sesak. Akhirnya, dia dilarikan ke rumah sakit. Fulan positif Covid-19.
Fulan dalam kamar rumah sakit menggigil, pikirannya melayang. Seluruh harta sudah dijaminkan untuk utang Pilkada.
Dari kejauhan, dibalik kaca istri dan keluarganya hanya memandang dengan terisak. Fulan jadi teringat nasehat sang Ustadz, bahwa demokrasi batil tak layak diperjuangkan. Teringat pula, nasehat sahabatnya yang mewanti wanti agar tak ikut Pilkada saat pandemi.
Tak berselang lama, Fulan meninggal dunia karena Covid-19. Fulan tak meninggalkan jejak kebajikan dari Pilkada, kecuali tercatat sebagai calon dan meninggalkan banyak utang. Istri dan keluarga tak diwarisi harta, melainkan diwariskan utang kepada sejumlah penyandang dana Pilkada. [].
Nb. Cerita hanya fiksi, semoga kita dijauhkan dari demokrasi dan virus Corona, yang keduanya sama sama mematikan.

0 Komentar