
Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Mana bisa kita disebut memiliki sifat adil, jika dalam satu persoalan kita belum mendengar keterangan dari para pihak, baru klaim dari satu pihak, kemudian membenarkan klaim itu, dan memvonis pihak lainnya. Dalam satu riwayat, Rasulullah Saw melarang kita memutuskan perkara, sebelum mendengar keterangan para pihak.
Selama ini, narasi yang diedarkan oleh pihak yang membenci Khilafah bahwa Khilafah memecah belah, Khilafah akan menumpahkan darah, Khilafah akan mensuriahkan Indonesia, Khilafah menolak keberagaman, non muslim tak boleh hidup di negara Khilafah, Khilafah tak bisa di terima di Indonesia karena Indonesia masyarakatnya majemuk multi etnis multi agama, dan seterusnya. Jika Anda membenarkan narasi ini, sebelum mendengar penjelasan dari pengemban dakwah Khilafah, ikut latah memvonis Khilafah dan memusuhinya, berarti anda termasuk orang yang zalim.
Karena itu, menurut hemat saya, anda semestinya duduk sejenak, membaca tulisan ini, dan setelah itu anda bisa putuskan.
Pertama, anda setuju dengan tulisan ini, memahami bahwa Khilafah adalah wajib, secara faktual adalah kebutuhan, secara harapan hanya Khilafah satu-satunya harapan setelah berbagai solusi kapitalisme sekularisme demokrasi, gagal menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Kedua, anda tetap dalam keyakinan Anda, tetapi anda dapat memahami argumentasi kenapa saya tetap ngotot memperjuangkan Khilafah. Anda berhak tidak setuju, berhak pula marah, tetapi cukuplah kemarahan itu untuk Anda, jangan ditularkan kepada yang lainnya.
Adapun kenapa saya ngotot memperjuangkan Khilafah, itu ada beberapa alasan :
Pertama, Khilafah adalah kewajiban. Bahkan kewajiban yang Agung. Banyak kewajiban dalam Islam yang tidak sempurna, kecuali ada Khilafah.
Hudud, qisos, diyat, ta'jier, mukholafah, mustahil tegak tanpa Khilafah. Padahal, semua ini jelas kewajiban syar'i dan umat Islam akan mendapatkan dosa jika belum menegakkannya.
Kedua, Khilafah adalah janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah Saw. Janji tentang umat Islam akan berkuasa di bumi, sebagaimana umat terdahulu, itu telah dijanjikan langsung oleh Allah SWT. Sementara, kabar akan kembalinya Khilafah ala Minjajin Nubuwah, itu telah dikabarkan oleh Rasulullah Muhammad Saw.
Bagi saya, jelas lebih memilih janji Allah SWT, percaya kepada kabar dari Rasulullah Saw, ketimbang janji Caleg, Capres atau Cakada. Kabar bumi akan sejahtera dibawah naungan Khilafah, lebih saya percayai daripada gosip Caleg, Capres dan Cakada yang berbusa bicara kesejahteraan.
Ketiga, Khilafah secara faktual adalah kebutuhan. Dunia mengalami penderitaan luar biasa dibawah kepemimpinan kapitalisme global yang rakus. Alam semesta, manusia, dan kehidupan hanya dipahami sekedar materi untuk di eksploitasi.
Tak ada kesadaran untuk memakmurkan bumi, karena kapitalisme hanya berorientasi pada materi. Kapitalisme tak mau tunduk pada aturan Allah SWT, dzat yang menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan.
Keempat, saya ingin menanggapi berbagai tuduhan terhadap Khilafah. Perlu untuk dipahami, bahwa Khilafah hingga tulisan ini dibuat belum berdiri.
Sehingga semua kerusakan dan kejahatan dimuka bumi ini tidak bisa dinisbatkan kepada Khilafah. Justru, banyaknya kerusakan di bumi termasuk konflik timur tengah yang tak berkesudahan, juga muncullah tragedi di Suriah, adalah tanggungjawab kapitalisme. Tanggung jawab Amerika.
Amerika lah, biang konflik di seluruh dunia, termasuk aktor intelektual dibalik luluh lantaknya Suriah. Sementara ISIS, hanyalah proyek Amerika untuk mencitra burukan Khilafah.
ISIS bukan Khilafah, karena ISIS tidak memiliki wilayah independen yang layak disebut Negara. ISIS hanyalah milisi yang beraktivitas di kedaulatan dua Negara, yakni Irak dan Suriah.
Seluruh tindakan ISIS bukanlah tindakan Khilafah, dan tidak merepresentasikan Daulah Khilafah. Jika ingin memahami deskripsi Khilafah, maka perhatian kita wajib diarahkan pada Kekhilafahan Abu Bakar RA, Umar Ra, Utsman RA, Ali RA, Bani Umayyah, Bani Abbasiyah hingga Turki Utsmani.
Kekhilafahan Islam justru menyatukan seluruh negeri kaum muslimin. Saat Khilafah runtuh, barulah negeri kaum muslimin terpecah belah menjadi lebih dari 50 Negara. Kesejahteraan di masa kekhilafahan Islam, juga mampu mengantarkan peradaban dunia pada puncak kemajuannya.
Khilafah terbukti mampu menjaga perdamaian dunia dan ikut menjadi penyantun dunia. Perancis, Irlandia bahkan Amerika pernah mendapatkan bantuan pangan dari Khilafah, saat negeri tersebut mengalami bencana.
Timur tengah damai, tak ada konflik Palestina. Tak ada entitas najis Yahudi, yang menebar teror, membunuh kaum muslimin di Palestina.
Khilafah adalah negara untuk semua, bukan hanya untuk orang beragama Islam. Sejak kekuasaan Islam yang pertama dibangun Rasulullah Saw di Madinah, Negara Islam di Madinah juga dihuni masyarakat yang heterogen. Ada Yahudi, Kristen, hingga Majusi. Semuanya tunduk pada kekuasaan Islam.
Pun demikian dalam Daulah Khilafah, semua warga negara dilindungi, baik muslim maupun non muslim. Siapapun yang mengganggu ahludz dzimmah, akan mendapatkan sanksi dari Negara.
Itulah, deskripsi keagungan Khilafah. Bukan negara perusak dan anti perbedaan. Khilafah adalah negara untuk bernaung seluruh umat manusia.
Bagaimana dengan Negeri ini ? Apakah akan menjadi negeri besar dengan Khilafah ?
Tentu saja jika negeri ini mengadopsi Khilafah, negeri ini akan menjadi sejarah keagungan Khilafah yang kedua. Jika bangsa Turki pernah mendapat giliran menjadi bangsa mulia karena Khilafah, Negari ini juga memiliki kesempatan yang sama untuk kembali mewujudkannya. [].

0 Komentar