
Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik
Saya anggap judul tulisan ini adalah perilaku kita, ya kita menertawai diri sendiri. Saking telah habis air mata, telah hilang amarah, kita jadi mengungkapkan kejengkelan dan kemarahan dengan tertawa. Kita sedang menertawai diri sendiri.
Ada kasus Korupsi ditengah pandemi, kita marah, kita sedih, tapi akhirnya kita juga tertawa. Mentawai diri sendiri, karena hanya bisa mengumpat dan mencela, tapi kebingungan untuk mencari solusi.
Semua teori dan model pernah dicoba, tapi ujungnya gagal juga. Lagi-lagi, pada akhirnya kita menganggap korupsi adalah bagian dari kehidupan kita, korupsi seperti Corona yang kata pejabat meminta kita memperlakukan Corona seperti istri sendiri.
Ada Freeport yang merampok emas negeri ini, jumlahnya ribuan triliun per tahun. Menciptakan ketidakadilan dan disintegrasi di Papua, semua itu ulah Amerika. Kita marah, kita sedih, tapi akhirnya kita juga tertawa. Mentawai diri sendiri, karena hanya bisa mengumpat dan mencela, tapi kebingungan untuk mencari solusi.
Amerika seperti Tuhan, kehendaknya tak bisa dilawan. Semua teori dan model pernah dicoba, tapi ujungnya gagal untuk melawan penjajah Amerika. Lagi-lagi, pada akhirnya kita menganggap penjajah Amerika adalah bagian dari kehidupan kita, Amerika seperti Corona yang kata pejabat meminta kita memperlakukan Corona seperti istri sendiri. Amerika yang musuh, akhirnya kita perlakukan seperti saudara sendiri.
Ada Ribuan TKA China masuk Indonesia, mengambil alih peluang kerja yang selama ini diperebutkan oleh segenap anak bangsa. Menciptakan kesenjangan dan ketidakadilan. Kita marah, kita sedih, tapi akhirnya kita juga tertawa. Mentawai diri sendiri, karena hanya bisa mengumpat dan mencela, tapi kebingungan untuk mencari solusi.
Gurita China telah mengambil peran menjajah negeri ini, seperti Amerika. Semua partai dan penguasa pro China. Polisi dan tentara juga nyaris tak tersisa. Tinggallah para purnawirawan jenderal yang berteriak, tapi mereka sudah tak bergerigi.
Ada jutaan rakyat dirusak oleh Narkoba, masa depan bangsa ini hilang karena generasi mudanya dicekoki narkoba. Kita marah, kita sedih, tapi akhirnya kita juga tertawa. Mentawai diri sendiri, karena hanya bisa mengumpat dan mencela, tapi kebingungan untuk mencari solusi.
Semua teori dan model pernah dicoba untuk memberantas Narkoba, tapi ujungnya juga gagal. Bangsa ini benar-benar telah menjadi pasar konsumen Narkoba.
Namun, ketika ada sekelompok anak bangsa, yang ingin menyelamatkan negeri ini dengan syariah dan Khilafah, apakah anda juga akan kembali tertawa? Menanggap mereka sedang dalam canda tingkat dewa? Bahkan anda menentang ide Khilafah yang mereka bawa?
Anda ini bagaimana? Marah dengan keadaan, buntu akan solusi. Tapi begitu ada sekelompok anak bangsa yang tulus menawarkan Islam, kalian juga tertawakan?
Apakah Anda, punya solusi selain Islam? Jika anda buntu, kenapa tidak mencoba mendengar, mempelajari dan mencoba menerapkan solusi Islam?
Saya tidak ingin anda mati dengan menertawai diri sendiri. Saya ingin anda, kita semua, mencoba solusi Islam. Apalagi jika anda Muslim, mari kita terapkan kewajiban menerapkan Islam untuk menyelesaikan seluruh problematika bangsa ini. [].

0 Komentar