UMAT BUTUH PERISAI ISLAM, BUKAN YANG LAIN


Oleh: Titin Surtini
Muslimah Peduli Umat

Keadaan umat muslim sekarang bagaikan anak ayam kehilangan induknya, kaum muslim berserakan, kebingungan, dan ketakutan tanpa perlindungan. Mata elang (musuh Islam) mengintai untuk menerkamnya, mereka diusir dari tempat tinggalnya, dan mereka juga dibantai hingga korban berjatuhan sampai kehilangan nyawa.

Begitulah nasib kaum muslim saat ini. Seperti di India, yang baru saja terjadi, bentrokan berawal dari protes terhadap penghinaan terhadap Nabi Muhammad ï·º oleh petinggi Partai di India. Akibat dari kericuhan itu membuat syahid dua pemuda dan puluhan orang luka-luka. Sampai saat ini, umat muslim India masih marah karena agama dan Nabi mereka dijelekkan. (Republika, 12/06/22)


Upaya Pembelaan terhadap Nabi

Yang dilakukan kaum muslim India merupakan bentuk perlawanan atas kesewenang-wenangan partai penguasa terhadap Islam. Kita mengetahui, saat ini, partai penguasa di negara Bollywood itu beragama Hindu. Mereka menganggap Islam sebagai agama berbahaya, bahkan membenci kaum muslim. Itulah sebab banyak pernyataan negatif dan cenderung menyerang Islam dari kelompok tersebut. Wajar jika kaum muslim India (minoritas) merasa tertindas dan perlu melawan.

Jika kita telusuri lebih dalam, maka Nabi Muhammad ï·º dan Islam bukan hanya milik bangsa muslim India, tetapi milik umat muslim sedunia. Sejatinya apabila penghinaan kepada agama Islam terjadi, yang marah bukan hanya muslim di India, melainkan seluruh dunia wajib meminta pertanggungjawaban kepada para penghina.

Tetapi bentuk kemarahan negara muslim dunia tidak seperti di India. Mereka hanya melakukan kecaman dan pemboikotan. Kedua perlawanan seperti ini tentu tidak akan berjalan lama. Jika masalah selesai, aksi boikot pun turut selesai. Apalagi bagi negara yang banyak bergantung pada impor India, seperti Negeri Khatulistiwa Indonesia ini.


Kenyataannya Impor dari India Besar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor Indonesia dari India per Januari—Maret 2022 sebesar Rp38,58 triliun. Impornya pun beraneka ragam, mulai dari bahan bakar, pertanian, kendaraan otomotif, dll. Jika berani melakukan pemboikotan, apa yang terjadi dengan stabilitas dalam negeri? Dengan kerugian yang akan diperoleh para pengimpor dan kelangkaan yang akan melanda dalam negeri, persentasenya kecil bagi negeri seribu pulau ini untuk berani melakukan pemboikotan.

Walhasil, negara muslim tidak akan mencapai mufakat untuk melawan India. Masing-masing akan melakukan protes sesuai keuntungan yang diperoleh. Inilah gambaran anak ayam kehilangan induknya, satu negara dengan yang lain, meski satu akidah, tidak punya pendirian yang sama.


Perlu adanya Penyatuan Ummat

Ibarat lidi, jika hanya satu, mudah patah; tetapi jika dipersatukan menjadi sapu, tidak akan bisa dipatahkan. Begitu pula kaum muslim, akan kuat dan tidak mudah tercerai berai jika seluruh negara muslim di dunia ini bersatu dalam naungan satu kepemimpinan.

Pemimpin adalah sebagai induk ayam dan negara muslim lainnya berstatus anak ayam. Jika induknya ada, mereka akan mudah diarahkan, tidak akan tersesat, dan akan senantiasa terlindungi. Oleh karenanya, sosok pemimpin ini akan berperan sebagai junnah (perisai) yang bertugas melindungi, mengayomi, dan mengarahkan seluruh negara muslim.

Gambaran persatuan itu bisa kita contoh dari Rasulullah ï·º dan para sahabat yang berhasil menyatukan jazirah arab dan wilayah lainnya menjadi satu negara adidaya (negara Islam). Di bawah kepemimpinan beliau ï·º. dan khulafa setelahnya, Islam menjadi agama yang diperhitungkan keberadaannya. Negara Islam menjadi menjadi singa di tengah peradaban Persia dan Romawi.


Peran Pemimpin dalam Islam

Pemimpin negara Islam (Khalifah) akan langsung bertindak ketika ada kasus penghinaan kepada Islam atau pembunuhan atas kaum muslim. Baginya, kehormatan agama dan darah kaum muslim sangat berharga.

Rasulullah ï·º bersabda, “Hilangnya dunia lebih ringan bagi Allah dibandingkan terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR Nasai 3987, Tirmidzi 1455)

Khalifah akan berlaku sebagai perisai bagi setiap kaum muslim. Darah mereka akan dilindungi. Namun, semua ini hanya bisa terealisasi jika pemimpin muslim mengambil Islam sebagai mabda atau dasar negara.

Islam yang memiliki fikrah (pemikiran) dan thariqah (metode penerapan) akan mampu meluruskan dan menunjukkan cara yang benar dalam menghadapi orang-orang yang memusuhi Islam. Seluruh negara muslim tidak akan kebingungan dalam melawan penghinaan terhadap agama dan Nabinya.

Rasulullah ï·º bersabda, “Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)

Dengan demikian, jalan satu-satunya untuk membungkam musuh-musuh Islam hanyalah dengan mempersatukan seluruh negeri Islam dalam satu kepemimpinannya. Tidak akan lagi ada kaum muslim yang bersimbah darah sebab ada Khalifah yang berperan sebagai junnah, tentunya dengan menerapkan aturan Islam secara Kaffah dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah.

Allohu Akbar!

Posting Komentar

0 Komentar