
Oleh: Titin Surtini
Muslimah Peduli Umat
Ibadah haji yang merupakan rukun Islam yang ke lima dalam aturan Islam wajib dilaksanakan oleh umat muslim yang telah mampu, tentunya dengan aturan-aturan yang telah baku diterapkan. Jutaan umat Islam dari seluruh dunia berkumpul dalam pertemuan akbar tanpa memandang ras, warna kulit, kebangsaan, jabatan, atau kekayaan. Mereka berkumpul untuk melaksanakan ibadah haji sebagai wujud ketaatan dan kecintaan kepada Allah ï·» dan Rasulullah ï·º.
Ibadah haji merupakan cerminan persatuan umat Islam. Keimanan kepada Allah ï·» dan ketundukan pada aturan-Nya, inilah yang membuat kaum muslim bersatu ketika melaksanakan ibadah haji. Ketaatan kepada Allah ï·» dalam ibadah haji membuat kaum muslim memakai pakaian ihram yang sama, tawaf di tempat yang sama, mengelilingi Baitullah dengan arah yang sama, wukuf pada tanggal 9 Zulhijah di tempat yang sama, yaitu Padang Arafah.
Tetapi, persatuan umat itu hanya sesaat, yaitu dikala umat muslim sedang melakukan ibadah haji. Setelah itu, umat Islam kembali ke negara masing-masing, dengan memikirkan urusan masing-masing. Nasionalisme dengan sistem politik negara bangsa-nya (nation state), yang dengan nyata dan gemilang telah memecah-belah umat Islam seluruh dunia. Masing-masing kemudian hanya melihat kepentingan pribadi dan nasionalnya. Rezim negara-bangsa ini menjadikan nasionalisme sebagai legitimasi ketidakpedulian mereka.
Kenyataanya, meskipun saat ini kaum muslim contohnya di Suriah dalam keadaan yang sangat menyedihkan, dizalimi oleh rezim kufur Ba’ats tidak kurang dari 30 ribu orang terbunuh dan lebih dari 28 ribu yang hilang rezim-rezim sekitarnya tidak melakukan pembelaan yang nyata. Mereka sibuk beretorika daripada secara nyata mengirim tentara untuk membebaskan dan menyelamatkan kaum muslim Suriah dan kaum muslim yang lainnya yang saat ini sedang dizalimi oleh orang-orang yang tidak suka dengan Islam.
Saat ibadah haji, umat Islam bisa bersatu karena keimanan dan ketaatan kepada Allah ï·». Demikian juga seharusnya di luar ibadah haji. Keimanan kepada Allah ï·» dan ketaatan secara total pada syariat Islam akan menyatukan kaum muslim bukan hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan. Karena sejatinya mereka diatur oleh aturan yang satu, yaitu syariat Islam.
Di sinilah letak penting keberadaan Khilafah sebagai sistem kenegaraan yang akan menerapkan syariat Islam secara menyeluruh. Khilafah dipimpin oleh seorang khalifah bagi seluruh kaum muslim di dunia jelas akan menjamin persatuan dan kesatuan Umat Islam. Sebab, tidak mungkin umat bisa bersatu di level negara kecuali kaum muslim memiliki seorang pemimpin negara yang satu yaitu seorang khalifah, karena itu, syariat Islam akan menegaskan kesatuan kepemimpinan (Khalifah).
Abdullah bin Amr bin Ash ra. pernah mendengar Rasulullah ï·º bersabda, “Siapa saja yang telah membaiat seorang imam (khalifah), lalu memberikan uluran tangan dan buah hatinya, maka hendaklah ia menaati imam itu sekuat kemampuannya. Kemudian, jika ada orang lain yang hendak merebutnya, maka penggallah leher orang tersebut!” (HR Muslim)
Berkaitan dengan kesatuan kepemimpinan ini Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan, “Para ulama telah sepakat bahwa tidak boleh dilakukan akad kepada dua orang khalifah pada masa yang sama, baik wilayah Darul Islam itu luas atau tidak.”
Bersamaan dengan bergeraknya jutaan jamaah haji yang bergerak dari Muzdalifah menuju Mina untuk melontar jumrah sebagai bagian ibadah haji pada tanggal 10 Zulhijah, kaum muslim di tempat lain melaksanakan salat Iduladha dan menyembelih hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala.
Ibadah kurban ini tidak bisa dilepaskan dari kisah keteladaan Nabi Ibrahim as dan putranya. Keteladan dalam pengorbanan. Ketika Allah ï·» memerintahkan menyembelih anaknya sendiri, Ismail as.. Kita bisa bayangkan begitu beratnya hati Nabi Ibrahim as. harus menyembelih putranya sendiri yang merupakan belahan hati yang tentu sangat ia cintai.
Namun, keimanannya kepada perintah Allah ï·» membuat Nabi Ibrahim as. membulatkan hati melaksankan perintah-Nya dan menyampingkan perasaan beratnya. Ketika perintah ini ditanyakan kepada putranya, Nabi Ismail as., ia justru mendorong bapaknya untuk melaksanakan perintah Allah ï·» tanpa ragu.
Keimanan menuntut ketaatan. Ketaatan membutuhkan pengorbanan. Teladan inilah yang harus kita pegang dalam perjuangan menegakkan agama Allah ï·», memperjuangkan Khilafah Islam yang akan menerapkan syariat-Nya secara total. Dasar dari perjuangan ini adalah iman dan ketaatan kepada Allah ï·». Untuk itu kita harus mengorbankan apa saja yang terbaik dari diri kita untuk dakwah ini, mengorbankan harta, jabatan bahkan mengorbankan jiwa.
Rasulullah ï·º pun telah memberikan teladan bagaimana beliau tetap istikamah saat menghadapi berbagai ujian. Rasulullah ï·º tidak tergoda saat ditawari harta, kekuasaan, dan wanita karena semua tawaran itu membuat dakwahnya dibelengu dan disandera. Saat cobaan siksaan, propaganda busuk, hingga isolasi menimpa, Rasulullah ï·º tetap konsisten. Tidak sedikitpun semua itu melemahkan apalagi menghentikan dakwahnya. Tidak pula semua itu membuat beliau berkompromi, baik secara pemikiran maupun amal.
Pengorbanan pada jalan kebenaran selalu berbuah kebaikan dan kebahagian. Kesabaran Nabi Ibrahim as. dan anaknya Ismail as. diganjar dengan tebusan domba dan pujian Allah Taala. Kesabaran Rasulullah ï·º dan umat Islam berbuah manis dengan tegaknya Daulah Islam di Madinah. Sejak itu umat Islam mendapatkan kebaikan dan kesejahteraan. Demikian juga pengorbanan yang dilakukan umat Islam saat ini untuk menegakkan Khilafah pasti berbuah kemenangan dengan tegaknya Khilafah dan tercapainya rida Allah ï·».
Tentunya dengan penerapan aturan Islam secara Kaffah, yakin akan mempererat kesatuan dan persatuan bangsa.
Wallahu alam bissowab.

0 Komentar