MENIRU SRILANGKA?


Penulis: Lia Herasusanti

"Srilangka darurat nasional, demonstran duduki kantor perdana menteri, setelah Presiden Rajapaksa kabur ke Maladewa," demikian judul berita BBC hari ini.

Apa yang terjadi di Srilangka bukan hal yang aneh. Hampir sama dengan apa yang terjadi di Indonesia tahun 98 lalu. Krisis ekonomi, berujung pada hilangnya kepercayaan rakyat. Akibatnya, rakyat bergerak. Dan tumbanglah rezim kala itu. Berganti dengan pemimpin baru, beberapa kebijakan baru, hasilnya? Tak jauh berbeda dengan kondisi sebelumnya. Tak perlu banyak diceritakan, Kita semua merasakannya saat ini.

Jadi jika melihat apa yang terjadi di Srilangka, sebenarnya kita sudah berpengalaman lebih dahulu. Kita sudah tahu, apa yang bakal terjadi selanjutnya di Srilangka dan hasil apa yang diperoleh kemudian, selama perubahan yang dilakukan hanya sekedar ganti pemimpin atau ganti rezim.

Apa penyebab semua itu tak membawa perubahan berarti, jawabnya adalah karena sistem yang dipakai tetap sama, yaitu sistem demokrasi yang mengagungkan hukum manusia. Manusia membuat aturan tanpa standar halal haram. Semata-mata azas manfaat.

Di sektor ekonomi yang dampaknya paling dirasakan rakyat, ekonomi yang dibangun adalah ekonomi ribawi. Bisa dibayangkan, jika sebuah rumahtangga saja yang terlibat riba bisa hancur berantakan, maka demikian juga yang akan terjadi pada sebuah negara. Dampak kerusakannya akan mengenai seluruh rakyat yang ada di dalamnya. Mengerikan.

Belajar dari apa yang pernah terjadi, baik di Indonesia maupun di Srilangka, disusul negara-negara Demokrasi lainnya, selayaknya kita berpikir untuk melakukan perubahan mendasar. Agar kita tak jatuh ke lubang yang sama berulang-ulang. Pengagungan terhadap sistem Demokrasi harus kita hilangkan, karena ternyata , dialah biang keroknya. Kita harus beralih pada sistem yang bisa memberikan solusi cemerlang. Yang tak bisa dimanfaatkan oleh manusia-manusia serakah, yang memiliki peran dalam membuat aturan. Dan sistem tersebut adalah sistem yang menyerahkan pembuatan aturan pada dzat diluar manusia, yaitu Allah ﷻ. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al Maidah ayat 50,

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?"

Bagi orang beriman, pertanyaan retorik ini harusnya cukup mengguncang dirinya. Karena ia tahu, bahwa hukum Allah pastilah yang terbaik. Dan tak ada pilihan lain kecuali menerapkannya dalam kehidupan.

Saat ini, bukan meniru Srilangka yang kita lakukan, tapi meniru apa yang dilakukan Rasulullah ﷺ dalam melakukan perubahan. Agar perubahan yang terjadi, tak hanya bersifat euforia, tapi betul-betul perubahan hakiki, yang membawa kebaikan dunia akhirat. Dan perubahan itu adalah perubahan menuju sistem Islam, guna menerapkan aturan Allah ﷻ.

Allahu Akbar!

Posting Komentar

0 Komentar