#MAKEABAYAGREATAGAIN: FOMO KE ARAH YANG BAIK


Oleh: Resma A. Pratiwi
Aktivis Komunitas Remaja Muslim

Di era serba di-posting, hampir semua hal bisa menjadi tren di media sosial, termasuk cara berpakaian. Orang beramai-ramai membuat konten outfit of the day, mulai dari pakaian sehari-hari sampai pakaian yang memiliki nilai lebih dalam. Semuanya bisa viral dalam waktu singkat di platform seperti TikTok dan Instagram.

Salah satu yang sedang ramai diperbincangkan adalah tren #MakeAbayaGreatAgain yang digaungkan oleh musisi dan artis, Sivia Azizah. Lewat platform media sosialnya yang memiliki jutaan pengikut, ia membagikan perjalanan hijrah fashionnya serta mengajak netizen untuk melek bahwa abaya dapat berjalan beriringan dengan tren fashion yang ada, alias tidak ketinggalan zaman. Sebuah gerakan yang tampak seperti tren biasa. Namun, di sisi lain, gerakan ini membawa pesan yang lebih dalam, yaitu ajakan untuk kembali pada cara berpakaian yang lebih sesuai dengan nilai-nilai syariat Islam.

Sejak unggahan itu dibuat, netizen langsung memberikan reaksi positif dan menyetujui bahwa memakai abaya juga bisa menjadi cultural dan menyenangkan, serta membuat netizen menjadi FOMO untuk mengikuti tren ini. FOMO atau fear of missing out sering kali dipandang sebagai sesuatu yang negatif karena identik dengan ikut-ikutan tanpa arah. Namun, tren ini menunjukkan sisi lain dari FOMO yang jarang dibahas.

Sekarang banyak orang mulai memakai abaya bukan karena pemahaman atas syariat pada awalnya, melainkan karena ingin mencoba tren terbaru. Namun, justru dari situlah muncul ketertarikan, rasa nyaman, bahkan kesadaran baru. Dalam hal ini, FOMO bisa menjadi pintu masuk dan langkah awal menuju perubahan yang lebih baik. Diharapkan, dari sinilah muncul rasa penasaran yang lebih dalam tentang apa esensi memakai abaya, cara berabaya yang sesuai dengan kaidah syariat dalam menutup aurat, dan apa hukumnya jika ditinggalkan.

Sebenarnya, yang menarik minat netizen untuk mengikuti tren #MakeAbayaGreatAgain adalah karena para influencer beropini dan memberikan contoh nyata bahwa memakai pakaian syar’i tidak sepenuhnya menghilangkan unsur fashion. Justru, banyak yang mengadaptasi abaya dengan sentuhan modern yang simpel, tetap longgar, tetapi lebih relevan dengan gaya fashion terkini. Hal ini juga menunjukkan bahwa perubahan ke arah yang baik tidak selalu harus kaku. Seseorang bisa mulai dari hal yang ringan dan relevan, tanpa harus langsung berada di titik “ideal”.

Di sinilah tren berperan sebagai jembatan penghubung antara minat fashion para wanita muslim dengan kaidah menutup aurat secara sempurna.

Meski begitu, tidak dapat dimungkiri bahwa tren ini juga memunculkan diskusi dari berbagai sudut pandang. Ketika tren berubah menjadi ekspektasi, ada risiko bahwa motivasi yang awalnya personal berubah menjadi tekanan sosial. Muncul berbagai komentar negatif, di antaranya mengatakan bahwa hal ini adalah bentuk perusakan budaya asli Nusantara karena orang memandang abaya atau pakaian syar’i sebagai budaya Arab, bukan sebagai bagian dari pemenuhan hukum syarak. Ada juga yang berpendapat bahwa berabaya itu harus langsung dilakukan secara sempurna.

Padahal, sudah dijelaskan bahwa hal ini masih menjadi tren FOMO bagi mayoritas masyarakat yang belum benar-benar mengenal Islam dan aturan berpakaian dalam Islam. Seharusnya, mereka dapat menjadi sasaran dakwah secara halus, bukan malah dihujat secara terbuka di kolom komentar. Maka dari itu, penting untuk melihat tren ini secara bijak, yaitu sebagai ajakan, bukan paksaan; sebagai inspirasi, bukan tolok ukur nilai seseorang; serta sebagai ladang dakwah, bukan tempat untuk merasa paling benar.

Tidak semua orang memulai dari garis awal yang sama, dan tidak semua perjalanan terlihat sempurna sejak awal. Namun, jika sebuah tren bisa mengarahkan seseorang pada kebaikan meskipun dimulai dari FOMO, maka hal itu tetap memiliki nilai dan semoga menjadi pahala. Karena dalam banyak hal, langkah kecil yang tidak sempurna sering kali lebih berarti daripada niat besar yang tidak pernah dimulai.

Pada akhirnya, yang membedakan antara sekadar ikut tren dan perubahan yang bermakna adalah niat. Di sinilah tugas kita untuk mengingatkan bahwa segala hal baik juga perlu diawali dengan niat yang baik. Bahwa berpakaian syar’i harus dilandasi niat menutup aurat sesuai aturan syariat yang Allah turunkan kepada kita, bukan hanya untuk mengikuti tren dan mendapatkan engagement di media sosial.

Tren akan selalu berlalu-lalang. Namun, nilai yang tertanam dari proses di dalamnya dapat terus dipertahankan. #MakeAbayaGreatAgain mungkin hanya sebuah tagar biasa. Namun, bagi sebagian orang, tagar ini bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih dalam dan lebih jauh lagi, bukan sekadar tentang apa yang dikenakan, tetapi tentang bagaimana seseorang memilih untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Dan mungkin, tidak semua bentuk FOMO itu buruk, selama hal itu membawa kita selangkah lebih dekat kepada ketaatan kepada Allah ï·».

Wallahu a‘lam bishawab.

Posting Komentar

0 Komentar