
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Unjuk rasa besar-besaran terjadi di Amerika Serikat. Jutaan warga turun ke jalan dalam demonstrasi bertajuk “No Kings” pada Sabtu, 28 Maret 2026 (Kompas, 30/03/2026). Pada saat yang sama, utang nasional Amerika Serikat resmi menembus US$39 triliun atau sekitar Rp661.440 triliun pada Maret 2026 (Inilah, 29/03/2026).
Lonjakan utang ini tidak dapat dilepaskan dari membengkaknya pengeluaran negara, terutama akibat konflik perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut semakin menunjukkan bahwa negeri yang selama ini mengklaim diri sebagai pusat kekuatan dunia justru sedang berdiri di tepi krisis yang serius.
Ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mempertahankan dominasi global melalui kekuatan militer telah mempercepat laju kebangkrutan negaranya sendiri. Dukungan terbuka Amerika terhadap penjajahan Israel atas Palestina, serta manuver politiknya dalam membangun aliansi dengan Eropa dan negara-negara Teluk untuk memerangi Iran, telah membuka mata dunia tentang wajah asli hegemoni kapitalisme Amerika.
Dunia makin melihat bahwa di balik slogan demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia, tersembunyi kepentingan imperialis yang rakus, merusak, dan menindas. Lebih menyedihkan lagi, sebagian penguasa muslim justru ikut menjadi bagian dari skenario ini dengan bersekutu bersama AS, alih-alih membela kepentingan umat.
Karena itu, umat harus terus disadarkan bahwa AS, dengan hegemoni kapitalismenya dan sistem demokrasi yang diusungnya, telah menjadi sumber kerusakan besar dalam kehidupan antarbangsa. Politik adu domba, intervensi, perang proksi, dan eksploitasi sumber daya telah menjadikan banyak negeri, termasuk negeri-negeri muslim, berada dalam pusaran konflik yang tidak berkesudahan.
Umat Islam bukan hanya menjadi korban dari kekuatan asing, tetapi juga dari lemahnya kepemimpinan di negeri-negeri muslim sendiri yang tunduk pada agenda Barat. Inilah sebabnya penyadaran politik umat tidak boleh berhenti. Edukasi tentang politik Islam, sistem Islam, dan kepemimpinan Islam harus terus digencarkan agar umat memahami akar persoalan sekaligus arah solusi yang benar.
Perjuangan menegakkan khilafah dengan demikian bukan sekadar wacana idealisme, melainkan kebutuhan mendesak untuk menghentikan kerusakan global yang lahir dari sistem kapitalisme sekuler. Tatanan dunia yang rusak tidak akan bisa diperbaiki dengan tambal sulam kebijakan politik Barat, sebab kerusakan itu justru lahir dari sistem yang mereka bangun sendiri. Karena itu, tatanan yang rusak ini harus diganti dengan tatanan syariah Islam yang bersumber dari wahyu Allah, bukan dari hawa nafsu manusia dan kepentingan elite penguasa.
Hanya dengan kepemimpinan Islam, yaitu khilafah, umat Islam dan seluruh manusia akan memperoleh jaminan hak hidup yang aman, adil, dan merdeka. Sebab, bumi ini adalah milik Allah ï·», maka sudah semestinya kehidupan manusia diatur dengan hukum-Nya, bukan dengan sistem buatan manusia yang terbukti melahirkan kezaliman, penjajahan, dan kehancuran. Saatnya umat menyadari bahwa rahmat dan keadilan sejati hanya akan terwujud ketika aturan Allah diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan.

0 Komentar