
Oleh: Annisa Putri Firdaus
Muslimah Peduli Umat
Sri Lanka mengalami krisis yang sangat serius. Sri Lanka memiliki hutang sebesar USD51 M yang di mana negara tersebut bahkan tidak mampu membayar bunga dari pinjamannya yang sebagian besar dikucurkan oleh IMF.
Bahkan kini negara itu tak memiliki cukup uang untuk mengimpor bahan bakar minyak, susu, gas LPG, hingga kertas toilet. Belum lagi masalah korupsi yang semakin membuat rumit masalah ekonomi sehingga pemerintah membutuhkan pendapatan lebih banyak mengikuti utang asing yang terus membengkak salah satunya akibat proyek infrastruktur. Selain itu juga sejumlah kebijakan dalam negeri memperburuk kondisi ini. Salah satunya adalah penerapan pajak terbesar sepanjang sejarah.
Krisis yang terjadi di Sri Lanka ini pun menjadi bayangan tersendiri bagi negara kita Indonesia yang diketahui utang pemerintah RI sudah tembus Rp 7.000 triliun di akhir Februari 2022.
Dikutip dari APBN Kita, data per 28 Februari menyebut utang negara tercatat sebesar Rp 7.014,58 T.
Dari hal di atas kita ketahui bahwa negara-negara yang bangkrut dan jatuh miskin sejatinya bukan karena tidak memiliki SDA, tetapi lantaran SDA-nya dikuasai negara kapitalis dengan jalan intervensi, investasi, dan eksploitasi. Begitulah cara kerja kapitalisme menjerat negara hingga membuatnya sekarat.
Selain itu, kita juga dapat mencermati bahwa kelemahan ekonomi kapitalisme sangat jelas terlihat. Pertumbuhan ekonomi kapitalisme hanyalah fatamorgana. Hanya berkutat pada uang, utang, dan saham yang mewujud dalam kertas-kertas transaksi yang tidak riil. Akibat ditopang sektor nonriil inilah yang menyebabkan kapitalisme sangat rentan dengan krisis.
Sedikit saja suku bunga dinaikkan, inflasi meluas. Dampaknya, negara-negara yang menggantungkan kehidupannya pada utang dan impor bahan baku pada akhirnya menjadi tidak stabil.
Jika persoalannya adalah sistem dan ideologi kapitalisme maka Islam sebagai sistem kehidupan juga memiliki solusi sistemis dalam menghadapi krisis. Pakar ekonomi syariah Dwi Condro Triono menjelaskan bahwa sistem ekonomi Islam memberikan pengaturan dasar tata kelola perekonomian sebuah negara.
Pertama, pembagian kepemilikan secara benar. Pembagian kepemilikan dalam ekonomi Islam itu ada tiga, yaitu: kepemilikan individu, kepemilikan umum dan kepemilikan negara.
Kedua, pengaturan pembangunan dan pengembangan ekonomi yang benar, yaitu bertumpu pada pembangunan sektor ekonomi riil, bukan nonriil. Dengan begitu, krisis ekonomi tidak akan terulang lagi.
Ketiga, distribusi harta kekayaan oleh individu, masyarakat, dan negara. Sistem ekonomi Islam akan menjamin bahwa seluruh rakyat Indonesia akan terpenuhi semua kebutuhan asasinya (primer). Sistem ekonomi Islam juga menjamin bagi seluruh rakyatnya untuk dapat meraih pemenuhan kebutuhan sekunder maupun tersiernya.
Itulah gambaran global sistem Islam sangat tahan dengan krisis. Selain itu, sistem ekonomi Islam juga ditopang dengan mata uang emas dan perak yang telah terbukti stabil dan anti inflasi.
Wallahu alam bi ashawab.

0 Komentar