
Oleh: Eulis Anih Ciparay
Muslimah Peduli Umat
Jakarta - Tagar stop bayar pajak belum lama ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan turut merespons persoalan ini.
Sri Mulyani menyampaikan mereka yang tak mau bayar pajak artinya tidak ingin melihat Indonesia maju. Menurutnya, ajakan-ajakan tersebut juga lebih baik tidak perlu ditanggapi.
Melihat hal ini, Partai Garuda menilai Sri Mulyani tak seharusnya merespons tagar tersebut. Sebab, kewajiban membayar pajak sudah diatur jelas dalam undang-undang dan pemerintah hanya perlu menegakkan aturan tersebut.
"Sebenarnya tidak perlu Sri Mulyani melakukan reaksi yang berlebihan terhadap pihak yang menyerukan boikot bayar pajak, dengan meminta mereka untuk tidak tinggal di Indonesia. Karena yang menyerukan bisa dipidana, yang tidak membayar pajak ada sanksi pidana juga," kata Wakil Ketua Umum Partai Garuda Teddy Gusnaidi dalam keterangan tertulis, Jumat (22/7/2022).
Menkeu Sri beranggapan bahwa yang tidak mau membayar pajak berarti mereka tidak mencintai Indonesia dan tidak ingin Indonesia maju.
Lantas, apakah pejabat yang korupsi sangat mencintai Indonesia? Apakah pejabat yang menetapkan kebijakan pro-korporasi pun tulus mencintai Indonesia?
Seharusnya, tagar itu di baca sebagai bentuk kepeduliaan masyarakat terhadap negara yang mereka cintai, mereka tidak ingin tanah air tempat mereka di lahirkan di atur pejabat- pejabat rakus yang tidak mengerti cara mengurus rakyatnya.
Masyarakat justru sangat mencintai tanah airnya sehingga tidak rela kebijakan yang di tetapkan di negerinya menghamba pada para cukong dan pada saat yang sama menzalimi warganya.
sesungguhnya pengturan pajak itu, lahir dari sistem ekonomi kapitisme dan sistem politik demokrasi, sistem ini menjadikan pajak sebagai sumber utama kas negara.
Padahal dalam islam pajak tidak di jadikan sebagai sumber utama dalam penerimaan baitulmal, pajak dalam islam jauh berbeda dengan pajak dalam sistem demokrasi kapitalisme.
Karena dalam sistem islam SDA semuanya di kuasai oleh negara untuk kemaslahatan rakyatnya, sehingga kas negara melimpah, dan pemasukan lainnya dari orang-orang kaya yang membayar zakat, berbeda dengan sistem kapitalis, pajak di jadikan satu-satunya sumber pemasukan negara, sedang SDA di kusai oleh Asing, itulah sistem kapitalis yang berasas manfaat.
Tiada lain solusi dari semua permasalahan yang ada, hanya islamlah yang bisa memecahkan segala proglematika kehidupan, karena islam itu aturan yang datang dari Allah yaitu berupa Al-quran dan As-sunah bukan dari aturan buatan manusia.
Wallahu'alam bissawab

0 Komentar