
Oleh: Surya Ummu Fahri
Ùˆَاِذْ Ù‚َالَ Ù„ُÙ‚ْÙ…ٰÙ†ُ Ù„ِابْÙ†ِÙ‡ٖ ÙˆَÙ‡ُÙˆَ ÙŠَعِظُÙ‡ٗ ÙŠٰبُÙ†َÙŠَّ Ù„َا تُØ´ْرِÙƒْ بِاللّٰÙ‡ِ ۗاِÙ†َّ الشِّرْÙƒَ Ù„َظُÙ„ْÙ…ٌ عَظِÙŠْÙ…ٌ
Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar." (QS Luqman 13)
Minggu kemarin, 7 Agustus 2022. Kota Batu mengadakan festival 1000 Banteng Nusantara. Acara ini dihadiri kelompok Bantengan dari berbagai daerah termasuk Bojonegoro dan berbagai tokoh dunia perdukunan yang ikut hadir dalam pawai tersebut. Cuaca buruk tak menghalangi kegiatan ini berlangsung.
Sejak pagi kota Batu sudah diguyur hujan lebat. Namun ini tak cukup menghentikan pawai 1000 banteng. Bahkan berlangsung sejak jam sembilan pagi hingga sembilan malam. Meskipun pada awalnya, acara ini mendapat ijin digelar dari jam delapan pagi hingga Magrib. Namun fakta di lapangan makin malam semakin panas. Makin kalap bahasanya.
Ini fakta yang menunjukkan bahwa saat ini para pemuda masih berada pada belenggu kesyirikan. Mereka tak sepenuhnya paham dengan aqidah Islam itu sendiri. Kenapa? Karena mereka menganggap acara tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal nyata jelas mereka bersholawat tapi mereka memanggil jin dan melakukan ritual yang dalam Islam itu bisa dikatakan syirik.
Jangankan sekedar itu, ketika kau lebih berat untuk melaksanakan salat dibandingkan mabar game online, atau lagi asyik nonton drakor itu saja bisa merusak iman. Apalagi ditambah dengan ritual dan pembakaran dupa, kembang, dan apalah itu. Pernahkah terbesit dalam benak mereka bahwa itu bertentangan dengan ajaran agamanya?
Disinilah harusnya kita berperan menyadarkan umat. Mereka tak tahu apa itu syariat. Bagi mereka Islam hanya sekedar rukun Islam dan lupa dengan rukun iman. Salat kadang ketika ingat atau tak lebih penting dari kesenangan sesaat. Mencari jati diri dan kebahagiaan duniawi hingga terlupa akhirat yang abadi.
Jangankan kata khilafah atau Islam kaffah. Mereka bahkan tak tahu pentingnya beribadah. Aqidah yang menjadi pondasi dalam berpikir dan mencari solusi atas problematika hidupnya bak garis tipis setipis kulit ari. Sedikit tersentuh maka terkelupas.
Maka benar jika apa yang dikatakan Lukman kepada anaknya yang pertama kali adalah "la tusyrik Billah." Karena aqidah ini lah yang menguatkan iman dan taqwanya. Karena aqidah inilah tumpuan dari pemikiran yang menghasilkan setiap perbuatan, apakah itu sesuai dengan hukum Allah ataukah bertentangan.
Tugas kita makin berat. Umat menunjukkan betapa sakitnya aqidah yang mereka miliki. Tak tahu lagi bertanya kepada siapa. Gus atau kyai berkedok paranormal yang melakukan praktek kesyirikan bahkan menjual agama demi meraih kekuasaan? Atau pada orang papa yang bersuara tentang hukum Islam? Atau hanya apa yang mereka dapat dari Mbah Google? Kajian singkat dari video di Tik tok? Atau media lain. Bahkan saat ini mulai muncul pula wacana dukun bersertifikat. Ya Salam selamatkan umat Islam...
Bangkitkan kembali pemikiran umat agar tak lagi tersibukkan dengan hal-hal unfaedah dan merusak aqidah. Kembali pada aturan Ilahi untuk melanjutkan kehidupan Islam. Bukan sekedar mencari konten atau iseng yang keterusan dan mengakibatkan penyesatan. Karena semua itu tetap dimintai pertanggungjawaban.
Yuk lepaskan para pemuda dari belenggu kesyirikan dan kembalikan ke jalan yang benar sesuai dengan perintah Allah dan Rasul. Kembalikan pemuda yang gemilang membentuk peradaban tinggi yang tak terkalahkan yang bukan sekedar impian. Bukan pemuda yang gemar instan tapi suka rebahan. Bukan pegiat Bantengan tapi penyeru kebenaran hingga Islam tertegakkan.

0 Komentar