HEBOH PESULAP MERAH: "TAUHID UMAT HARUS DIJAGA"


Oleh: Rochma Ummu Arifah

Jagat Maya belakangan ini dihebohkan dengan kemunculan sosok yang dikenal khalayak ramai sebagai pesulap merah. Kemunculannya berfokus pada membongkar praktik perdukunan dan juga sulap itu sendiri. Sampai-sampai ia pun berseteru dengan seorang dukun (pelaku pengobatan tradisional berbalut Islam) asal kota Blitar karena dianggap membongkar kebohongannya dalam praktik pengobatan yang dijalankannya.


Masyarakat Percaya Klenik (Perdukunan)

Tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian masyarakat kita masih sangat dekat dengan hal-hal yang berbau klenik. Lebih parahnya lagi, beberapa hal ini seakan berbalut dengan sebagian ajaran Islam. Sebut saja praktik mendapatkan kekebalan tubuh dengan mengamalkan bacaan khusus yang seakan berasal dari Islam karena menggunakan bahasa Arab. Lantas, terkesanlah bahwa hal tersebut berlandaskan dari Islam atau pun adanya ajaran Islam yang berkaitan dengannya.

Tentu kita masih ingat peristiwa pawang hujan di sirkuit Mandalika yang sempat viral. Peristiwa ini seakan mengamini bahwa hujan bisa diatur oleh manusia. Sedangkan di dalam ajaran Islam tentu saja hal seperti ini tidak ada. Tidak ada satu manusia pun yang memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mengendalikan hujan atau pun mengatur hujan sesuai dengan kemauan manusia.

Selain dari ini, masih sangat mudah ditemukan di masyarakat dan kehidupan keseharian yang berbau kepercayaan kepada sosok lain selain Zat Ilahi Rabbi Pencipta Alam Semesta. Semuanya seakan telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat dan menjadi hal yang dimaklumi dan justru dipercaya. Apalagi jika dicampuri dengan bumbu-bumbu syari'at, semakin memperlihatkannya sebagai satu bagian dari Islam itu sendiri sehingga boleh untuk dijalankan atau pun dipercaya.


Tauhid Umat Harus Dijaga

Tauhid atau kepercayaan kepada Allah ﷻ menjadi pokok atau landasan dalam kehidupan muslim. Dengan tauhid yang benar, muslim akan menggantungkan segala macam kehidupannya dengan keberadaan Allah ﷻ. Memohon dan meminta bantuan semata hanya kepada Allah. Tak berharap kepada zat yang lain. Juga tak ada sedikit pun kepercayaan bahwa ada zat lain yang memiliki kekuatan layaknya apa yang mampu dilakukan oleh Al-Khaliq ini.

Sedangkan mendatangi dukun, terlebih meminta pertolongan kepadanya dan juga mempercayainya merupakan tindakan kesyirikan yang bertentangan dengan tauhid dalam Islam. Hadits riwayat Imam Ahmad, Nabi Muhammad ﷺ bersabda sebagai berikut ini: "Barangsiapa mengunjungi seorang arraaf atau peramal (dukun) dan percaya pada apa yang dikatakannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad (Al-Qur'an)." (Hadits sahih diriwayatkan Imam Ahmad)

Sementara itu, sihir juga merupakan satu bentuk dari kekufuran. Kufur bermakna sama dengan tidak memiliki iman. Hal ini dijelaskan Allah ﷻ di dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 102 yang berbunyi:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.


Butuh Peran Negara

Peran dan tanggung jawab negara dalam membangun tauhid umat yang kokoh amatlah besar. Melihat satu postingan Tik Tok tentang dukun bersertifikat (msn.com), sudah semestinya negara tidak tinggal diam.

Negara berkewajiban menghadirkan segala hal yang mendukung menciptakan tauhid yang kokoh. Misal dengan menghadirkan pendidikan berbasis Islam dengan benar. Membatasi tontonan-tontonan media yang mengarah pada perusakan akidah, misal film bergenre horor yang menyesatkan. Negara juga harus mampu menghilangkan kepercayaan umat pada keberadaan zat selain Allah yang dipercayai mampu membantu kehidupan manusia. Negara mendidik umat untuk hanya bergantung kepada Allah semata. Sejumlah perangkat dibutuhkan dalam hal ini. Sebut saja seperti kurikulum pendidikan, guru sebagai pengajar, filter media sosial serta yang lainnya.

Namun sayang, harapan negara menjalankan peran strategis dalam menjaga tauhid umat belum bisa terwujud secara maksimal. Bahkan di beberapa kesempatan, negara nampak mengamini beberapa praktik perdukunan dan kesyirikan dengan berbalut ajaran agama Islam. Negara menunjukan sikap keberpihakannya pada kegiatan yang mengarah pada kontaminasi akidah umat.

Sungguh ummat mengharapkan negara yang mampu menjalankan perannya menjaga tauhid umat dengan benar. Sebagaimana keberadaan Khalifah Abu Bakar sepeninggal Rasulullah ﷺ yang memerangi nabi palsu guna menjaga ketauhidan umat. Negara dengan perangkatnya yang berpegang teguh pada syari'at Islam-lah yang mampu menjalankan hal ini.

Posting Komentar

0 Komentar