
Oleh: Murli Ummu Arkan
Sudah menjadi momen spesial bagi rakyat Indonesia saat memasuki bulan Agustus. Ya bulan ini adalah bulan kemerdekaan, di mana momentum kemerdekaan Indonesia dirayakan. Bendera-bendera dipasang, lampu-lampu warna warni dinyalakan, berbagai acara perlombaan diagendakan untuk menyambut hari kemerdekaan ini.
Banyak sejarah Indonesia yang menceritakan tentang kepatriotan para pahlawan apakah dari pahlawan laki-laki dan wanita. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan nyawanya untuk bisa terlepas dari penjajahan dan menyelamatkan negeri ini.
Namun saat kita amati sekarang ini, perayaan Agustus-an jauh dari esensi kemerdekaan itu sendiri. Memang benar merdeka adalah terlepasnya kita dari cengkeraman penjajah. Namun, apakah inti dari perayaan Agustus-an adalah hanya terfokus untuk hiburan, foya-foya, hura-hura? Tanpa ada makna membekas yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan bangsa ini.
Tentu disini bukan maksud penulis, saat Agustus-an kita merayakan dengan sedih-sedih-an. Bukan. Tapi setidaknya saat mengadakan perayaan harus dipikirkan banyak manfaatnya dari pada mudharatnya. Banyak muhasabah dan evaluasi. Seberapa besar kita telah melanjutkan perjuangan dan meneladani para pahlawan.
Mengadakan hiburan ya hiburan, tapi ingat harus yang bermanfaat dan tidak melanggar norma dan agama. Seperti halnya banyak perlombaan yang meminta laki-laki memakai baju wanita. Tentu melanggar norma dan agama. Harusnya hal ini dihindari, jangan dianggap remeh meski hanya sekali setahun dan hanya untuk hiburan. Ingat diluaran sana kaum LGBT sedang gencar membidik generasi muda kita. Jangan sampai hal ini justru menjadi dukungan dan menyuburkan ide mereka tanpa kita sadari.
Kemudian ada juga lansia dan nenek-nenek diminta gerak jalan. Jika banyak masyarakat yang menganggap hal ini lucu dan kreatif tapi bagi saya ini pelecehan terhadap orang tua. Orang tua harusnya dihormati dan dimuliakan, bukan sebagai penghibur kita yang dijadikan tontonan.
Lalu kebanyakan ada juga para ibu-ibu dan wanita dijadikan peserta perlombaan yang seharusnya tak menjadi bahan hiburan untuk ditonton khalayak ramai. Seorang ibu dan wanita harus dijaga Marwah dan iffahnya. Bukan dieksploitasi sebagai bahan hiburan. Para pahlawan dulu mati-matian menjaga kehormatan wanita, pantaskah saat ini jika perempuan dieksploitasi sebagai bahan hiburan dengan dalih partisipasi dan emansipasi?
Inikah esensi perayaan kemerdekaan Indonesia? Hanya sebatas hiburan dan menghibur. Jika hiburan yang banyak manfaatnya dan sesuai dengan norma dan agama mah boleh-boleh saja.
Tapi kebanyakan hiburan saat ini banyak yang melanggar norma dan agama. Inikah yang bisa kita balas terhadap perjuangan Pahlawan bangsa kita? Memaknai kemerdekaan hanya sebatas hiburan dan menghibur bukan untuk sebagai evaluasi dan muhasabah kita untuk menjaga negeri dari penjajahan saat ini.

0 Komentar