KEMERDEKAAN HAKIKI TOTAL MENGHAMBA PADA ILAHI


Oleh: Desi

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لَا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ
"Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?" (QS. Al-Ahqaf: 5).

Merdeka itu bebas dari penghambaan kepada selain Allah. Merdeka itu ketika hati tidak bergantung kepada selain Allah. Merdeka itu tidak meminta kesehatan, keselamatan, kelapangan rezeki melalui perantara apa pun yang tidak dibenarkan syarak.

Alih-alih nguri-nguri budaya, berbagai acara digelar menyambut hari kemerdekaan, diantaranya disertai ritual sesaji membakar kemenyan. Doa dirapalkan diiringi aroma kemenyan yang mengudara. Perilaku semacam ini bisa menjerumuskan pelakunya pada jurang kesyirikan. Hati-hati, setan musuh yang nyata. Dengan bahasa yang halus dibalut diksi yang indah, kalimatnya menyihir nalar menerima sebagai kebenaran.

Beraneka acara mewarnai kemeriahan hari spesial. Atas nama mengenang perjuangan para pahlawan, berbagai hiburan dihadirkan. Dari lomba yang telah melegenda sampai yang konyol dipertontonkan. Dari yang muda, tua, bahkan anak-anak antusias ikut meramaikan.

Sorak-sorai penuh gelak tawa dari penonton saling bersahutan. Banyak yang berpikir, kapan lagi bisa menikmati acara menarik yang diadakan setahun sekali, sehingga merasa sayang jika harus dilewatkan.

Demi memanjakan mata rela bercampur baur dengan lawan jenis. Tak peduli meski aurat berseliweran di depan mata. Bisa jadi aurat sendiri pun jadi santapan banyak pasang mata.

Pada acara-acara tertentu, sering kali syariat Islam dipaksa mengalah untuk sesuatu yang sudah dianggap sebuah kewajaran dan pemakluman oleh masyarakat.

Pengabaian kewajiban kepada Allah pun ditolerir. Seolah kegiatannya akan dimaklumi oleh Allah ﷻ. Sehingga demi kelancaran acara, merasa boleh libur salat dulu. Masih ingat kejadian peserta karnaval yang didiskualifikasi gegara salat Zuhur? Anak-anak muda tersebut sadar bahwa kewajiban salat tetap harus dilaksanakan dalam kondisi apapun.

Islam tidak menolak adat kebiasaan selama tidak bertentangan dengan syariat. Bukankah syariat ini mandat dari Allah ﷻ yang diberikan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk disampaikan kepada umat, kemudian dipegang erat sebagai pedoman hidup setiap saat agar selamat dunia akhirat?

Jika demikian, beranikah meletakkan pedoman tersebut? Atau justru sama sekali tidak keberatan, toh cuma sebentar demi kelancaran hari spesial?

Islam merupakan jalan keselamatan, maka ajarannya menjaga dari kesesatan. Memerdekakan hati yang penuh keimanan dan ketakwaan dari penghambaan dunia dan manusia. Memberikan petunjuk agar umat paham, bahwa mereka harus berjalan di atas koridor syar'i.

Jika setiap pemeluk Islam sadar harus berjalan sesuai arahan wahyu bukan nafsu, maka aturan yang sama akan terbentuk atas dasar dorongan takwa dari masing-masing individu.

Maka merdeka itu totalitas menghamba kepada Allah. Dengan menjalankan setiap syariat-Nya secara menyeluruh hingga pada tatanan negara. Tidak akan ada yang terzalimi dengan tegaknya syariat Allah sebab Islam rahmatan lil'alamin.

Posting Komentar

0 Komentar