
Penulis: Rochma Ummu Arifah
Terjemah surat Al-Kahfi ayat 10, artinya, (Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” Ayat mengenai gambaran pemuda salih yang memiliki aqidah kuat pada masanya
Berbicara mengenai pemuda, tentu akan berbeda saat menggunakan sudut pandang saat ini dan pemuda di masa lampau. Pemuda saat ini yang hidup di era sekuler kapitalis erat dikaitkan dengan aneka ragam masalah dan ketidakbaikan kehidupan. Sangat berbeda dengan keberadaan pemuda di jaman kejayaan Islam di mana mereka menjadi pengisi masa kejayaan itu dengan kegemilangan kualitas mereka.
Pemuda Sekarang
Pemuda saat ini erat dengan masalah dan kemaksiatan. Berujung pada pemakluman akan pencarian jati diri mereka sehingga seakan diberikan pemakluman atas segala keburukan yang mereka jalankan. Walaupun sebenarnya mereka sudah menjadi sosok yang mampu menilai mana yang benar dan mana yang buruk.
Menyebut kata pemuda kemudian dikaitkan dengan kenakalan remaja mulai dari tidak taat syari'at, tidak sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, banyak menggunakan waktu mereka untuk hal yang sia-sia, mengikuti perkembangan tren yang ada, lebih banyak bergaul dengan teman serta hal lainnya. Inilah beberapa kualitas yang dapat digambarkan mengenai pemuda saat ini.
Alih-alih mengharapkan mereka menjadi generasi yang gemilang, mereka malah disibukan dengan kesia-siaan. Jauh sekali dari nilai agama dan lebih dekat dengan nilai materi yang hedonis sesuai dengan dikte dan harapan sistem sekuler saat ini yang menjadikan manusia jauh dari nilai agama serta kapitalis yang hanya mengagungkan dunia dan materi. Pemuda pun digiring pada dua hal ini.
Pemuda juga disibukan pada hal-hal yang bukan esensi. Sehingga mereka pun kosong dengan kekuatan diri yang berkaitan dengan pemahaman mengenai tuhan, agama dan syari'at. Mereka sangat jauh dari harapan untuk meninggikan agamanya di muka bumi ini. Karena mereka hanya menyibukan diri dengan urusan pribadi yang remeh temeh.
Pemuda Masa Lalu
Sangatlah berbeda dengan gambaran pemuda yang ada di masa lampau, yaitu saat peradaban Islam memimpin dunia. Banyak sekali ditemukan pemuda dengan kualitas besar sampai mampu memimpin peradaban dan memberikan sumbangsih besar bagi Islam. Sejarah emas Islam mencatat kumpulan pemuda dengan keunggulan sifat dan sikap mereka.
Dimulai dari para sahabat yang digembleng Rasulullah ï·º di awal masa turunnya Islam. Berlanjut pada generasi sahabat yang diisi oleh kalangan pemuda yang berhasil keluar dari zona mementingkan diri sendiri kepada zona memikirkan bagaimana mengagungkan Islam di peradaban dunia. Sehingga muncullah sejumlah nama pemuda dengan torehan prestasi yang luar biasa dalam Islam. Sebut saja nama Zaid bin Tsabit, Usamah Bin Zaid, Umar Bin Abdul Aziz, sampai nama yang amat masyhur yaitu Muhammad al-Fatih yang merupakan pemuda dengan kualitas sempurna di mata peradaban Islam.
Perbedaan antara pemuda sekarang dan dulu ini tentu berkaitan dengan bagaimana kehidupan mereka diatur yaitu menggunakan aturan Islam dan bukan Islam. Islam mampu melahirkan generasi yang unggul tentu karena keunggulan Islam itu sendiri. Sedangkan kehancuran generasi saat ini merupakan akibat dari rusaknya sistem yang ada.
Islam menempatkan pemuda sebagai sosok yang kuat dengan karakter aqil dan baligh-nya. Aqil berkaitan dengan kemampuan berpikirnya sedangkan baligh berkaitan dengan karakter tubuhnya yang sudah berkembang dibandingkan dengan masa kanak-kanak yang baru saja dilewatinya.
Islam sangat memaksimalkan potensi pada fase pemuda ini sampai akhirnya mampu mencetak pemuda yang memahami tujuannya untuk menghamba kepada Rabbnya serta menjunjung tinggi agamanya. Dari sinilah, pemuda menjadi sosok yang produktif dan berguna tak hanya bagi dirinya sendiri namun juga untuk masyarakat dan peradaban Islam itu sendiri.
Bisa dikatakan hanya dengan Islamlah pemuda bisa bangkit. Islam-lah yang mampu memahami potensi mereka dan kemudian memaksimalkannya. Demi meraih esensi kehidupan di dunia ini yaitu untuk berhamba kepada Sang Pencipta Kehidupan. Juga untuk meninggikan kalimat Islam ke seluruh penjuru dunia. Insya Allah.

0 Komentar