
Oleh: Yuliati Sugiono
Dilansir dari news.detik.com (7/9/2022) Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) mengkritik momen perayaan ulang tahun Ketua DPR Puan Maharani di rapat paripurna saat demo buruh terkait kenaikan BBM sedang berlangsung. Peneliti Formappi Lucius Karus menilai hal itu memalukan.
Sebagaimana diberitakan bahwa perayaan ulang tahun itu dilaksanakan ditengah rapat paripurna DPR, sementara di pintu gerbang para buruh sedang berdemo menolak kenaikan harga BBM. Massa yang berdemo pun gagal menemui Puan Maharani selaku ketua DPR RI.
Lucius Karus menilai perayaan ulang tahun itu tidak pantas dilaksanakan ketika rapat paripurna, karena di rapat itu harusnya membahas masalah-masalah publik bukan urusan pribadi. Ini sungguh menunjukkan tiadanya empati wakil rakyat terhadap rakyat.
Pandangan Islam Terhadap Ulang Tahun
Sesungguhnya seorang muslim bila telah bersyahadat, maka dia terikat dengan hukum syarak sebagai konsekuensi keimanannya. Maka tidak ada satu aktivitas pun yang tidak ada hukumnya. Definisi hukum syarak adalah khitabus syari mutaallaqah bil af'ali ibad, seruan pembuat hukum terhadap perbuatan hamba.
Maka setiap amal atau aktivitas ada hukumnya masing-masing. Wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Semua jelas ada di dalam Al-Qur'an, baik secara tekstual maupun kontekstual.
Namun karena jauhnya pemahaman umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri, maka banyak aktivitas yang dianggap membudaya padahal sebetulnya itu bukan ajaran Islam, salah satunya adalah ulang tahun.
Didalam perayaan ultah terdapat unsur menyerupai orang-orang kafir yang menjadi ciri khas mereka, yaitu membuat-buat berbagai macam perayaan yang tidak disyariatkan. Sedangkan Islam melarang menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4031, hadits shahih).
Syaikh Shalih bin Abdulaziz berkata,
"Sesungguhnya perayaan ulang tahun, tahun baru dan sebagainya, adalah bentuk tasyabbuh bil kufar yaitu dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang suka membuat-buat berbagai macam perayaan yang tidak disyariatkan. Kita diperintahkan untuk meninggalkan tasyabbuh terhadap orang kafir."(Al Minzhar halaman 19).
Perayaan ulang tahun adalah tradisi orang-orang kafir, dan bukan bagian dari perayaan kaum muslimin sebagaimana hadits-hadits di atas.
Diantara bukti bahwa perbuatan membuat-buat perayaan adalah karakter khas orang Yahudi adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Thariq bin Shihab, beliau berkata: “Seorang Yahudi berkata kepada Umar,
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا، لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ، مَعْشَرَ الْيَهُودِ، لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا
‘Wahai amirul mukminin! Kalian membaca suatu ayat dalam kitab kalian, yang seandainya ayat tersebut turun kepada kami, orang-orang Yahudi, maka kami akan jadikan hari turunnya ayat tersebut sebagai ‘id.’”
‘Umar berkata, “Ayat apakah itu?”
Orang Yahuid tersebut mengatakan,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5]: 3)
Kemudian ‘Umar berkata,
إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ، وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ، نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ
“Aku sungguh mengetahui hari ketika ayat tersebut diturunkan dan tempat diturunkannya ayat tersebut. Ayat tersebut turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari Arafah pada hari Jum’at.” (HR. Bukhari no. 45 dan Muslim no. 3017)
Lihatlah bagaimana dalam hadits di atas, orang Yahudi bahkan ingin mengkhususkan hari dimana turunnya ayat tentang kesempurnaan Islam.
Sikap Kita
Maka tidak sepantasnya seorang muslim merayakan ulang tahun, terlebih itu dilakukan ditengah-tengah rapat paripurna yang harusnya membahas masalah-masalah publik. Seharusnya para anggota DPR menemui massa pendemo kenaikan harga BBM sebagai perwakilan rakyat.
Inilah gambaran dari sistem demokrasi yang beriklan 'dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat'. Itu semua hanya slogan semata. Hakikatnya mereka telah menipu rakyat. Rakyat harusnya sadar bahwa demokrasi itu utopis.
Demokrasi hanya melahirkan pemimpin-pemimpin yang egosentris. Berbalik 180 derajat dengan Islam. Maka saatnya tinggalkan demokrasi, kalau tidak sekarang, kapan lagi?

0 Komentar