BERDENDANG BERGOYANG, JEBAKAN KAPITALISME


Oleh: Murli Ummu Arkan

Zaman sekarang ini siapa sih yang tidak senang dengan hiburan? Senang-senang, pesta pora, foya-foya, pastinya bahagia bukan? Apalagi jika senang-senang bareng temen-temen, makin seru pastinya.

Tahu nggak sih, hiburan saat ini seakan-akan menjadi sebuah kebutuhan. Dari pada stres melanda mending cari hiburan untuk menghilangkan stress. Ya kan... Emak-emak aja banyak yang butuh hiburan, apalagi yang muda-muda. Ups!! Begitu jugakah dirimu Sob?

Sobat, tapi tahu tidak sih, acara konser yang terjadi di Istora Senayan kemarin, Sabtu malam Minggu, tepat tanggal 29 Oktober 2022. Acara festival musik tanah air, berdendang Bergoyang yang diadakan selama tiga hari. Wow, kabar beritanya viral nih, antusiasme peserta membludak hingga 21.000 peserta. Padahal kapasitas gelora Bung Karno cuma menampung 10.000 orang. Wow banget bukan? Ini jumlah orang lho, bukan semut.

Herannya mereka yang 21.000 peserta rela berkorban jauh-jauh mengeluarkan tenaga, waktu, dan uang berjuta-juta hanya untuk berkumpul demi melihat konser musik. Duh, nggak sayang apa ya BBM sekarang naik dan kebutuhan pokok melambung tinggi. Belum lagi sebentar lagi diprediksi resesi akan terjadi. Kemudian di sana berdesak-desakan pula, sampai -sampai Pak Polisi menyetop peserta masuk karena jumlah peserta yang overload. Apalagi kabarnya banyak puluhan peserta yang pingsan dan luka-luka karena berdesakan. Wah.. wah.. bukannya bersenang-senang yang didapat malah musibah yang dialami. Sedihkan Sob!

Memang tidak bisa dipungkiri saat ini hiburan musik di tanah air semakin di gandrungi ya Sob. Banyaknya genre-genre musik yang dihasilkan dari kesenian musik, generasi-generasi yang pintar dalam musik dan menyanyi, macam-macam alat musik yang menghasilkan senandung musik-musik yang indah, menjadikan hal itu sebagai kekayaan sumber daya manusia yang dimiliki negara. Maka tak heran jika negarapun memfasilitasi kesenian ini untuk menjadi salah satu hiburan tanah air. Apalagi jika bisa meraup untung yang gede. Wah, semakin akan dipertahankan tuh, jika bisa dibesarkan, diramaikan, agar untung semakin besar.

Apalagi dengan dalih melestarikan kebudayaan. Musik dan lagu menjadi salah satu didalamnya yang harus dilestarikan dan dijaga agar tidak diakui negara lain. Sehingga musik semakin dicintai dan dibutuhkan umat setiap saat. Ditambah lagi jika dibawakan dan dimeriahkan oleh artis-artis ternama dan idola. Wih! Pasti hadir semua tuh fans-fansnya dan pastinya tak mau ketinggalan beli tiketnya.

Padahal nih Sob, tanpa sadar generasi terjebak pada keteladanan yang salah. Mereka akhirnya menjadikan artis-artis penyanyi sebagai idola. Bahkan kecintaan mereka terhadap idola-isola tersebut sampai melampaui batas.


Jebakan Kapitalisme

Sob, tahu nggak sih, jika sekarang ini kita hidup di sistem Kapitalisme. Itu tuh sistem yang asas dasarnya karena pemisahan agama dengan kehidupan, alias Sekulerisme. Catat ya namanya Sekulerisme. Nah Sekulerisme inilah yang membuat umat sekarang ini memisah-misahkan antara urusan dunia dan urusan agama (akhirat). Walhasil dari pemahaman Sekulerisme ini umat membatasi urusan agama hanya sekedar ibadah saja. Sedangkan untuk urusan dunia mereka bebas menggunakan aturan dari akal manusia. Nah, dari pemisahan inilah yang nantinya menjadikan umat saat ini krisis identitasnya, termasuk umat muslim sendiri. Akhirnya, ibadah jalan maksiat juga jalan.

Seperti halnya dalam konser berdendang bergoyang tersebut. Jika kita pikirkan nih Sob, banyakan mana antara manfaat dan mudharatnya? Banyak mudharatnya kan ya, ada yang pingsan, luka-luka, berdesakan, belum lagi dosa karena ikhtilat ditambah lagi ada yang minum khamr segala. Astaghfirullahaladhiim... Rugi dunia akhirat kan ya?

Kemudian akibat dari Sekulerisme juga, terlahirlah pemahaman bahwa makna kebahagiaan manusia itu saat terpenuhinya kebahagiaan jasmani. Makanya tak heran jika dalam konser di Istora Senayan banyak peserta yang membludak untuk bisa bahagia ketemu dengan sang Idola. Weleh... weleh... Hingga rela berkorban seperti itu ya?

Padahal nih Sob, dengan adanya konser seperti itu, umat telah terjebak oleh sistem Kapitalisme. Generasi mudanya diseret dalam arus liberalisme (kebebasan) dan di manfaatkan oleh para Kapital untuk meraup untung sebesar-besarnya lewat acara tersebut. Umat digiring untuk mengidolakan artis-artis penyanyi untuk menjadi ladang pendapatan dengan mengkomersialkan hiburan musik.

Sungguh inilah karakter kapitalisme. Sifatnya hanya mencari keuntungan dan merusak generasi. Tanpa sadar hal inipun menjadikan generasi krisis identitas dan hilang arah, tak tahu tujuan dalam hidup ini. Tentu tidak mau kan Sobat, kita menjadi generasi yang gak jelas arah hidupnya?

Selain itu pemimpin negeri ini pun kurang tegas dan peduli terhadap umat. Seakan pilih kasih terhadap umat. Jika kita bandingkan dengan acara hijrah Fest kemarin di Surabaya yang dibubarkan tentu tak adil. Padahal acara tersebut acara yang memuat ajaran agama Islam. Sungguh tak adil. Namun, disayangkan, justru acara konser musik yang banyak mudharatnya justru didukung sepenuhnya. Jika tak ada overload peserta mungkin acara masih berlanjut hingga hari ketiga.

Jika sudah seperti ini lalu harus gimana nih, agar kita jadi generasi yang membanggakan umat?


Islam Solusinya

Gampang kok Sob, kuncinya ada di dalam Islam. Islam itu agama yang keren lho. Islam itu bukan agama yang mengatur ibadah saja namun juga mengatur seluruh aturan hidup ini. Aturan dalam berpakaian, makan minum, akhlak, perekonomian, pendidikan, kesehatan, keamanan, sanksi dan peradilan, semuanya ada. Dan semuanya untuk kebaikan manusia. Selama kita mau nih mengamalkan aturan ini, insyaallah, Allah kasih kita keberkahan dalam hidup ini. Tapi jika tidak mau mengamalkan seruan Allah ﷻ maka siap-siap saja Allah memberikan balasan-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 96)

Nah, dari ayat ini Sob, sudah saatnya kita sebagai generasi muda nih harus evaluasi, kemudian bisa mempersiapkan diri untuk bisa menjadi pemuda yang Sholih sholihah dan menjadi pemimpin sesuai yang diserukan oleh Rasulullah ﷺ. Karena saat ini kita butuh pemimpin yang adil dan bertanggung jawab dunia akhirat. Agar nantinya kita bisa mengisi peradaban ini menjadi peradaban yang Mulia.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ. فَالإمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ. أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ.
Dari Abdullah, Rasulullah ﷺ bersabda:

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya.

Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya.

Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. (Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 4789)

Dari hadits Rasulullah ﷺ ini artinya bahwa amanah peradaban ini ada di tangan dan tugas kita Sob. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas adanya peradaban saat ini. Maka saat ini yang harus kita lakukan adalah terus belajar mengkaji Islam Kaffah dan memperjuangkannya untuk menegakkan hukum Allah ﷻ agar hidup kita berkah dunia akhirat.

Posting Komentar

0 Komentar