TRAGEDI MEMATIKAN PADA PERAYAAN BUDAYA ASING


Oleh: Shalsha Baharrizqi
Muslimah Peduli Umat

Baru-baru ini masyarakat di penjuru dunia digegerkan dengan tragedi Pesta Halloween yang berubah menjadi petaka. Perayaan yang identik dengan pesta kostum menyeramkan, dekorasi horor, jack-o'-lantern, permainan trick or treat ini dirayakan setiap tanggal 31 Oktober setiap tahunnya.

Tragedi pesta di Itaewon, Seoul, Korea Selatan ini telah mengakibatkan banyak nyawa melayang 154 orang termasuk 26 orang asing tewas. 149 lainnya terluka. Ada 4.000 laporan orang yang hilang. Mayoritas korban adalah remaja berusia 20an tahun.

Penyebab utama sebagian besar kematian diduga dipicu insiden kerumunan sehingga kehabisan napas. Mereka terinjak-injak saat situasi menjadi kacau dan mengalami henti jantung, sungguh membuat kita prihatin akan tragedi ini.

Keprihatinanpun sungguh dapat kita rasakan dalam negara kita Indonesia ini.

Bagaimana tidak? Generasi muslim negeri ini sendiri banyak yang ikut merayakan perayaan yang serupa, padahal kita tahu bahwa perayaan tersebut merupakan budaya asing yang tidak mendatangkan manfaat.

Kebebasan yang didukung negara dalam merayakan hallowen ini, sungguh bukan keputusan yang bijak.

Negara seharusnya tidak memberikan ruang bagi rakyat untuk ikut merayakan meskipun hanya sekedar menggunakan kostum semata. Karena dari perayaan ini, banyak generasi muslim yang ikut dalam arus dan budaya asing yang perlahan mengikis keimanan mereka. Penguasa tentu harus bertanggung jawab dalam pembentukan bagi kepribadian generasi melalui berbagai mekanisme yang baik, bukan membiarkan generasi ini terwarnai dengan arus barat.

Dalam sudut pandang Islam, kepercayaan merayakan pesta hallowen ini sama dengan bentuk penyembahan berhala alias syirik dan thogut.

Terlebih ketika perayaan semacam ini dihiasi dengan gambar yang melambangkan pasukan iblis, yang jelas-jelas itu adalah musuh kita semua selaku ummat Islam

Pertama, turut merayakan hari raya sekelompok umat, sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan buruk orang lain, termasuk orang kafir. Beliau bersabda:

من تشبه بقوم فهو منهم
Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.”(Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai sahabat dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia...” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Ketiga, meskipun tidak ada unsur ritual peribadatan, perayaan orang kafir tidak boleh dimeriahkan orang mukmin.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah:

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر
Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Sebagai Muslim, kita seharusnya menghormati dan menjunjung tinggi iman dan keyakinan kita. Bagaimanapun Tuhan kita adalah Allah ﷻ, selain itu tentu tidak ada yang wajib disembah.

Agama Islam adalah agama yang punya prinsip, dan dalam banyak hadis diriwayatkan bagaimana umat muslim diperintahkan untuk menyelisihi ajaran agama selain Islam. Tapi terkadang karena ketidaktahuan akan agamanya, seseorang terbawa hanya karena sedang tren atau dengan alasan agar terlihat kekinian.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ
Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”(HR. Muslim no. 2669).

Hadis tersebut menggambarkan kelak akan ada umat Islam yang akan mengikuti kaum yahudi dan nasrani, dan hal ini terbukti jika kita lihat di media sosial bahwa ada sebagian muslim yang ikut-ikutan trend yang merupakan ciri khas atau kebiasaan non muslim. Kita seharusnya lebih bangga dengan syariat Islam karena syariat Islam adalah syariat yang sempurna dan penuh kedamaian. Bagaimana kita mengetahuinya? Tentu dengan memperdalam keilmuan kita. Semoga Allah ﷻ tetapkan hati kita dalam Islam dan wafat di atas agama Islam yang haq.

Wallahu a'lam bish-shawabi

Posting Komentar

0 Komentar