EKONOMI MELEJIT, RAKYAT KIAN TERJEPIT


Oleh: Ramsa

Indonesia tangguh, Indonesia hebat. Sudah bisa melewati badai yang sempat memporak-poranda berbagai sendi kehidupan. Tak terkecuali sendi ekonomi. Badai telah berlalu. Saatnya hidup normal. Hebatnya Indonesia langsung terlihat perkembangan dan penguatan ekonomi di beberapa sisi. Indonesia keren. Terbukti tingkat ekonomi bisa tumbuh hingga 1,8 persen di akhir kuartal ketiga. Secara global ekonomi bangsa ini mencapai pertumbuhan yang positif. Sederhananya ekonomi Indonesia itu sudah mulai pulih. Sudah mulai bangkit setelah badai Covid 19.

Berdasarkan data dan pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) diketahui angka pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,72% pada kuartal III-2022. Angka ini menarik perhatian media asing karena merupakan yang tertinggi selama satu tahun ke belakang. ( CNBC 7/11/2022).

Bahkan besarnya angka pertumbuhan ekonomi ini menarik media asing untuk diwartakan, salah satunya diberitakan oleh
Agence France Presse (AFP) yang bertajuk "Pertumbuhan Q3 Indonesia Meningkat tetapi Tetap di Bawah Perkiraan".


Makna Pertumbuhan Ekonomi Bagi Rakyat

Pertumbuhan ekonomi bermakna meningkatnya pendapatan umum rakyat. Alias meningkatnya pendapatan rata-rata nasional suatu negara. Yang jadi patokan adalah nilai rata-rata. Artinya jika pendapatan rata-rata 100 rakyat adalah lima juta rupiah artinya secara total pendapatan adalah 500 juta rupiah. Maka harus kita pastikan apakah benar secara individual rakyat sudah mempunyai pendapatan lima juta perorang?

Sebagai ilustrasi mari kita hitung-hitung sederhana. Misalnya ada 20 orang pendapatannya sepuluh juta perbulan, namun 80 orang lainnya pendapatannya di bawah angka tersebut maka secara rata-rata angka pendapatan nasional tetap tinggi. Namun, realitasnya tidak seindah itu. Bisa jadi ada yang pendapatannya masih dibawah satu juta perbulan. Hal ini bermakna bahwa masih ada yang hidupnya kesulitan.

Bayangkan saja jika satu keluarga terdiri dari ayah, ibu dan 4 orang anak. Pendapatannya sebesar satu juta rupiah perbulan. Dengan asumsi biaya pendidikan tiap anak adalah 150 ribu rupiah saja, sudah menghabiskan 600 ribu gaji ayah. Belum terhitung biaya transportasi yang menghabiskan minimal 200 ribu perbulan. Maka yang tersisa dari pendapatan ayah adalah 200 ribu untuk makan sebulan bagi enam anggota keluarga. Tentu jauh dari kata sejahtera bukan?


Ekonomi Meningkat, PHK Meningkat

Sebuah ironi terjadi. Di tengah kebanggaan ekonomi Indonesia bisa tumbuh positif, di sisi lain, marak terjadi PHK massal. Tak tanggung-tanggung puluhan ribu pekerja pabrik yang jadi korban. Sebagaimana yang terjadi pada karyawan pabrik sepatu yang mengalami PHK berjumlah 22.500 orang. Belum lagi bayang-bayang ketakutan akan resesi global tahun 2023 nanti, yang membuat banyak perusahaan StartUp juga merumahkan karyawannya.

Jadi sejatinya angka pertumbuhan ekonomi tidaklah menunjukkan kesejahteraan rakyat. Karena hitungannya rata-rata. Dan yang pasti dalam sistem ekonomi liberal seperti yang dianut negeri ini, maka hanya orang kaya yang semakin kaya dan orang miskin sering kali terus bertambah miskin. Inilah rumus baku dalam sistem kapitalisme.

Dalam sistem ekonomi yang serba bebas akan sulit dijumpai kepekaan pemimpin terhadap nasib rakyat individu-perindividu. Akan sulit didapati pejabat yang benar-benar tulus mengurusi seluruh kebutuhan rakyat yang dipimpinnya. Yang jadi acuan hanya angka di atas kertas, atau laporan bawahan dan lembaga survei. Yang kadang kala tidak sama persis dengan fakta di lapangan.


Ekonomi Islam Mensejahterakan dari Hulu ke Hilir

Apa yang bisa dijadikan solusi saat sistem hari ini hanya bertumpu pada angka dan hitungan rata-rata? Adakah sebuah sistem yang benar-benar mensejahterakan secara real? Tentu saja ada. Yakni bukan sistem kapitalisme yang saat ini menguasai dunia dan bukan pula sistem sosialisme yang sudah tumbang, melainkan Islam ideologis. Atau sistem Islam kaffah.

Dalam ekonomi Islam, instrumen atau indikator kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan pokok individual dan kebutuhan kolektif masayarakat secara individu-perindividu atau orang-perorang. Bukan angka rata-rata. Sebagai contoh jika penduduk suatu wilayah adalah 300 orang, maka negara akan mendisribusikan kebutuhan pangan secara merata untuk 300 orang tersebut, dan memastikam hingga ke level pemerintah terendah bahwa semua warga wilayah tersebut sudah mendapatkan kebutuhan pokok, sandang, pangan, papan dan sudah mendapatkan hak pendidikan yang terbaik, kesehatan prima juga perlindungan dan keamanan untuk setiap individunya.

Dalam sistem Islam pemerintah ada untuk melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi. Yang tujuannya untuk mensejahterakan, menjaga keamanan di bumi ini. Dengan menerapkan aturan dari Ilahi. Maka yang akan dipakai adalah ekonomi berdasar syariat Islam. Yang diwujudkan dengan distribusi kekayaan sesuai yang berhak. Dan tidak boleh ada yang menumpuk harta untuk diri sendiri. Karena pemerintah yang ada akan menjalankan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 30, berikut :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Ekonomi Islam akan menerapkan mekanisme semua anggota masayarakat adalah warga negara, miskin atau kaya semua berhak mendapatkan pelayanan terbaik. Fasilitas terbaik dalam pendidkan dan kesehatan. Lahan pekerjaan akan dibuka seluas-luasnya bagi laki-laki. Antisipasi kemaksiatan dan mencegah tindakan korupsi dengan pembuktian terbalik bagi harta pejabat.

Salah satu bukti kesejahteraan rakyat dalam pemerintahan Islam terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan yang diceritakan dalam buku karya Dr. Utsman. Inilah Faktanya  bahwa: hampir setiap hari orang-orang berbagi harta benda. Sehingga sering kali ada yang memanggil orang di sekitarnya "ke sinilah ambil madu bagianmu" namun, karena semua rakyat merasa sudah memiliki, maka panggilan ini tidak dihiraukan.

Adakah kita merindukan kesejahteraan dan kedamaian demikian?

Posting Komentar

0 Komentar