
Oleh: Siti Aminah
Polisi akhirnya menghentikan Festival Musik "Berdendang Bergoyang" yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta. Acara tersebut dihentikan pada hari kedua penyelenggaraan, yakni Sabtu (29/10/2022) malam.
Festival Musik "Berdendang Bergoyang" sedianya telah dimulai sejak Jumat (28/10/2022) dan rencananya berlangsung selama tiga hari hingga Minggu.
Namun polisi memutuskan menghentikan Festival Musik "Berdendang Bergoyang" lantaran kelebihan kapasitas (Kompas.com, 30/10/2022). Membludaknya penonton "Berdendang Bergoyang" ini menunjukkan betapa umat saat ini telah menjadi sangat sekuler dan liberal. Acara hura-hura dan foya-foya untuk mencari kebahagiaan sesaat dan menjauhkan pemuda dari belajar agama begitu diminati.
Inilah yang terjadi saat ini, generasi muda kita semakin jauh dari hukum syara'. Mereka sama sekali tidak mengenal aturan agama mereka sendiri, acara yang campur baur, joget-joget dengan penuh syahwat dipertontonkan dan di gemari muda mudi. Belum lagi di warnai dengan mabuk-mabukan, generasi yang seharusnya menjadi tonggak negara hanya bisa berhura-hura, lemah iman dan akhlak.
Remaja merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya
Dengan bekal ilmu dan pembentukan mental yang sehat, kuat dan ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang mantap, kehidupan pemuda di masa sistem Islam diterapkan secara kaffah jauh dari maksiat. Apalagi mencari hiburan yang penuh dengan kemaksiatan, hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistiklainnya sangatlah mudah diminimalisasi.
Mereka tidak mengkonsumsi miras atau narkoba, baik sebagai dopping, pelarian atau sejenisnya. Jika mereka mempunyai masalah, mereka tidak butuh hiburan yang mendekati maksiat atau tontonan yang tidak sesuai dengan Islam. Keyakinan mereka kepada Allah, qadha’ dan qadar, rizki, ajal, termasuk tawakal begitu luar biasa dan itulah kuncinya. Masalah apapun yang mereka hadapi bisa mereka pecahkan. Mereka pun jauh dari stres, apalagi menjamah miras dan narkoba untuk melarikan diri dari masalah.
Kehidupan pria dan wanita pun dipisah. Tidak ada ikhtilath, khalwat, apalagi tontonan campur baur yang mengundang syahwat, menarik perhatian lawan jenis (tabarruj), apalagi pacaran hingga perzinaan. Selain berbagai pintu zina ditutup rapat, sanksi hukumnya pun tegas dan keras, sehingga membuat siapapun yang hendak melanggar akan berpikir ulang.
Kehidupan sosial yang terjadi di tengah masyarakat benar-benar bersih. Kehormatan (izzah) pria dan wanita, serta kesucian hati (iffah) mereka pun terjaga. Semuanya itu, selain karena modal ilmu, ketakwaan, sikap dan nafsiyah mereka, juga sistem yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat adalah sistem Islam yang aturannya berasal dari Allah ï·».
Karena kehidupan mereka seperti itu, maka produktivitas generasi muda di era Islam ini pun luar biasa. Banyak karya ilmiah yang mereka hasilkan saat usia mereka masih muda. Begitu juga riset dan penemuan juga bisa mereka hasilkan ketika usia mereka masih sangat belia. Semuanya itu merupakan dampak dari kondusivitas kehidupan masyarakat di zamannya.
Kehidupan masyarakat yang bersih ini juga bagian dari tatsqif jama’i yang membentuk karakter dan kepribadian generasi muda di zaman itu. Peran negara, masyarakat dan keluarga begitu luar biasa dalam membentuk karakter dan kepribadian mereka. Selain kesadaran individunya sendiri. Karena itu, tradisi seperti ini terus berlangsung dan bertahan hingga ribuan tahun. Bahkan, tradisi seperti ini masih dipertahankan di beberapa negeri kaum Muslim, meski sistem Islam yang menaunginya telah tiada.
Ada ungkapan bijak, “Jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebenaran, pasti sibuk dalam kebatilan.” Karena itu, selain kehidupan masyarakat yang bersih, berbagai tayangan, tontonan atau acara yang bisa menyibukkan masyarakat dalam kebatilan harus dihentikan. Mungkin awalnya mubah, tetapi lama-lama kemubahan tersebut melalaikan, bahkan menyibukkannya dalam kebatilan.
Nabi ï·º bersabda "Di antara ciri baiknya keislaman seseorang, ketika dia bisa meninggalkan apa yang tidak ada manfaatnya bagi dirinya." Boleh jadi sesuatu yang tidak manfaat itu mubah, tetapi sia-sia. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta yang digunakannya pun hilang percuma.
Agar masyarakat, khususnya generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik membaca, mendengar atau menghafal Al-Qur'an, hadits, kitab-kitab tsaqafah para ulama’, atau berdakwah di tengah-tengah umat dengan mengajar di masjid, kantor, tempat keramaian, dan sebagainya. Mereka juga bisa menyibukkan diri dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, berjihad, atau yang lain.
Mereka harus benar-benar menyibukkan diri dalam ketaatan. Hanya dengan cara seperti itu, mereka tidak akan sibuk melakukan maksiat. Dengan menyibukkan diri dalam ketaatan, waktu, umur, ilmu, harta dan apapun yang mereka miliki menjadi berkah. Karena itu, dalam usia 20 tahunan, Imam an-Nawawi, bisa menghasilkan berjilid-jilid kitab. Bahkan, Imam Ahmad bisa mengumpulkan dan hafal lebih dari satu juta hadits. Imam Bukhari juga begitu.
Semuanya ini memang membutuhkan negara dengan sistemnya yang luar biasa. Sistem yang aturannya berasal dari Allah ï·» bukan sistem buatan manusia yang terbatas. Aturan Islam ini bisa menyelesaikan segala macam masalah termasuk masalah remaja yang penuh Hura-Hura.

0 Komentar