SISTEM KAPITALISME GAGAL SELESAIKAN MASALAH KESEHATAN


Oleh: Lathifa Rohmani

Awal tahun 2020, dunia digegerkan dengan kemunculan pandemi COVID-19 yang menyebabkan meningkatnya angka kematian di seluruh dunia. Di Indonesia, telah tercatat 6,57 juta total kasus dan korban jiwa meninggal telah mencapai 158 juta lebih akibat COVID-19 ini. Hingga sekarang, angka ini pun tiap hari masih terus meningkat.

Meskipun begitu, pada awal kemunculan COVID-19 di Indonesia ini pemerintah tidaklah acuh bahkan cenderung meremehkannya. Tidak ada upaya preventif agar wabah yang muncul pertama kali di Wuhan ini tidak masuk ke Indonesia. Barulah, setelah wabah ini merebak di Indonesia dan korban sudah mulai berjatuhan, pemerintah mulai dibuat kelabakan.

Pandemi belumlah usai, masyarakat lantas digegerkan dengan munculnya penyakit gagal ginjal akut misterius yang datang secara tiba-tiba. Gagal ginjal akut ini menimpa pada ratusan bayi dan balita di seluruh Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa ada 241 anak yang terkena gagal ginjal akut misterius di Indonesia. Total pasien yang meninggal tercatat 133 kasus. Peningkatan kasus melonjak sejak Agustus 2022, dan kasus ini ditemukan di 22 provinsi.

Kasus gagal ginjal akut ini membuktikan kembali bahwa upaya yang dilakukan pemerintah sangatlah minim. Terutama dalam upaya preventif untuk mendeteksi dini terhadap terjadinya kasus-kasus kesehatan yang seperti ini. Lembaga BPOM pun hanya bertindak setelah banyaknya korban berjatuhan. Sebelumnya pun, upaya pencegahan yang dilakukan BPOM tidak dilakukan secara maksimal.

Kemudian, diikuti oleh munculnya wabah penyakit hepatitis misterius dan monkeypox (cacar monyet) yang merebak di dunia. Kasus-kasus kesehatan yang disebutkan tadi hanyalah segelintir dari banyaknya kasus yang bermunculan, baik di Indonesia maupun dunia. Wabah-wabah penyakit menular yang sedang meresahkan tersebut hingga kini masih belum teratasi secara tuntas.

Kelalaian dalam penanganan kasus-kasus kesehatan tidak terlepas dari pengaruh kebijakan yang dibuat oleh sistem kapitalisme. Sistem kesehatan yang diusung oleh para kapitalis tak mampu menyelesaikan berbagai masalah kesehatan bahkan di negara-negara maju sekalipun. Sistem kapitalisme telah membuat negara gagap melindungi nyawa rakyatnya.

Selama sistem aturan masih terpusat di sistem kapitalisme, akan sangat sulit melahirkan aturan yang mampu menyelesaikan masalah kesehatan yang ada. Bahkan sebaliknya, sistem aturan yang dibuat dalam sistem kapitalisme malah menimbulkan masalah yang baru. Sehingga nyawa masyarakat tidak lagi dipandang berharga.

Seharusnya, negara menyadari bahwa layanan kesehatan itu hak semua orang. Bukan hanya untuk orang-orang kaya saja, tapi rakyat tidak mampu pun memiliki hak kesehatan yang sama. Tugas negara adalah untuk memenuhi hak-hak kesehatan tersebut, bukan malah memilah-milahnya.

Islam memiliki aturan yang sangat lengkap dalam berbagai bidang, termasuk sistem kesehatannya. Islam memandang bahwa kesehatan adalah hak-hak setiap orang dan kewajiban negara adalah mewujudkan hak tersebut. Semua kebijakan-kebijakan yang mengatur persoalan kesehatan wajib berdasarkan syariat Allah ï·», bukan hanya diserahkan pada ahlinya saja, apalagi sampai diserahkan ke tangan para kapitalis.

Selama 13 abad, Islam telah membuktikan bahwa ia mampu mengatasi berbagai masalah yang ada, termasuk masalah kesehatan. Mulai dari upaya preventif serta kuratif dalam menghadapi wabah-wabah dan penyakit lainnya, fasilitas kesehatan yang terbuka untuk seluruh masyarakat (baik kaya atau miskin), hingga mampu menghasilkan para dokter yang mumpuni di bidangnya layaknya Ar-Razi dan Ibnu Sina.

Seandainya negara ini meninggalkan kapitalisme dan menerapkan Islam secara menyeluruh, sungguh keselamatan dan kesehatan rakyatnya akan terjamin serta nyawa setiap manusia akan dihargai dan dijaga. Karena dalam Islam, pemimpin negaralah yang senantiasa bertanggung jawab terhadap seluruh hidup rakyatnya.

Sebagaimana sabda Rasulullah ï·º, "Imam atau khalifah adalah pengurus dan ia bertanggung jawab terhadap rakyat yang diurusnya." (HR. Muslim dan Ahmad)

Wallahu alam bish-shawwab.

Posting Komentar

0 Komentar