TANGGUNG JAWAB SIYASIYAH YANG TERABAIKAN: MENGAPA BENCANA TERUS TERJADI?


Oleh: Fatma Komala
Ibu Rumah Tangga

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ۝٤١
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

DEPUTI Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Budi Irawan memastikan bahwa penanganan tanggap darurat tanah longsor di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang saat ini masih menyisakan korban hilang, dilakukan dengan cepat sesuai instruksi Presiden Prabowo Subianto. (Media Indonesia, 15/11/2025)

Sementara itu, update terakhir pada 18 November 2025, dikutip dari BBC, Operasi pencarian korban longsor di Desa Cibeunying, Cilacap, yang memasuki hari keenam pada Selasa (18/11), berhasil menemukan dua jenazah lagi sebelum dihentikan akibat hujan deras. Kepala Kantor SAR Cilacap, Muhammad Abdullah, menyatakan bahwa data sementara mencatat total 46 korban terdampak, dengan rincian 23 orang selamat, 18 orang meninggal dunia, dan lima orang lainnya masih dalam proses pencarian.

Dikutip dari CNN Indonesia pada 17 November 2025, bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Banjarnegara. BPBD melaporkan bahwa bencana tanah longsor di Desa Pandanarum menewaskan dua warga, melukai dua orang, dan menyebabkan 823 jiwa mengungsi, sementara tim SAR gabungan terus berupaya mengevakuasi sekitar 27 warga yang diperkirakan masih tertimbun material longsor.

Selain itu, tiga daerah di Sulawesi Tengah (Tolitoli, Morowali Utara, dan Buol) dilanda bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin puting beliung, dan abrasi pantai selama dua hari terakhir akibat cuaca ekstrem. Bencana ini meliputi kerusakan dua rumah di Tolitoli akibat puting beliung pada Sabtu (22/11), banjir di Morowali Utara sejak Kamis (20/11) setelah hujan deras, serta gelombang tinggi di pesisir Buol pada Rabu (19/11). Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, Akris Fattah Yunus, memastikan bahwa penanganan seluruh laporan sedang berlangsung.

Situasi serupa juga terjadi di Sumatera Barat. BPBD Kabupaten Agam mencatat adanya banjir bandang, longsor, pohon tumbang, dan jalan amblas di lima kecamatan pada 22-23 November 2025. Bencana-bencana ini mengindikasikan kerentanan wilayah terhadap kondisi cuaca ekstrem yang memerlukan respons cepat dan koordinasi dari pihak berwenang. (CNN Indonesia, 23/11/2025)

Hingga Ahad siang, banjir rob merendam lima wilayah Rukun Tetangga (RT) di Kabupaten Kepulauan Seribu yang tersebar di dua kecamatan. Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohamad Yohan, satu RT di Kelurahan Pulau Harapan terendam setinggi 15 sentimeter dan masih ditangani, sementara tiga RT terdampak berada di Kelurahan Pulau Pari dan satu RT lainnya di Kelurahan Pulau Tidung. (Antara News, 23/11/2025)

Bencana alam berturut-turut yang melanda negeri ini, dari banjir hingga longsor, menunjukkan penanganan darurat yang sering kali terlambat. Banyak korban jiwa dan mereka yang belum dievakuasi akibat keterbatasan tim penolong serta hambatan cuaca dan medan.

Jika dianalisis lebih mendalam, bencana alam yang marak terjadi, seperti banjir dan tanah longsor, sering kali berakar pada kesalahan dalam tata kelola ruang hidup dan lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali dan pembangunan yang abai terhadap kelestarian lingkungan menjadi faktor utama penyebab kerentanan terhadap bencana.

Selain itu, penanganan bencana yang cenderung lamban dan tidak komprehensif mengindikasikan adanya kelemahan dalam sistem mitigasi di berbagai tingkatan, mulai dari individu, masyarakat, hingga negara. Pemerintah, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas keselamatan warganya, dinilai belum serius dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan preventif dan kuratif yang efektif untuk mengurangi risiko dan dampak bencana.

Bencana dalam kacamata Islam memiliki dua dimensi mendasar yang saling terkait erat. Yang pertama, dimensi ruhiyah mengajarkan bahwa musibah adalah tanda kekuasaan Allah sekaligus pengingat atas dosa dan kerusakan alam akibat ulah manusia sendiri. Edukasi keimanan ini penting untuk menyadarkan masyarakat agar menjaga lingkungan sebagai bagian dari perintah agama.

Sedangkan yang kedua, yaitu dimensi siyasiyah atau dimensi kebijakan publik, menuntut peran aktif negara dan pemerintah untuk serius mengelola ruang hidup dan melakukan mitigasi bencana secara komprehensif, bukan sekadar respons reaktif setelah kejadian.

Dari sisi tanggung jawab negara, ajaran Islam mengamanatkan perlindungan keselamatan jiwa rakyat sebagai prioritas utama. Negara wajib menyiapkan sistem mitigasi yang kuat, bukan hanya retorika kebijakan. Ketika bencana terjadi, pemerintah bertanggung jawab penuh memastikan bantuan yang layak, pendampingan psikologis, hingga pemulihan total bagi para penyintas agar mereka kembali hidup normal.

Paradigma ini menuntut kepemimpinan yang berintegritas dan kebijakan tata kelola ruang yang adil, memastikan bencana alam tidak terus berulang akibat kelalaian manusia dalam mengemban amanah menjaga bumi.

Wallahua'lam.

Posting Komentar

0 Komentar