
Oleh: Aisyah Nurul Jannati
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Apa yang terbesit di dalam pikiran kalian tentang remaja? Pergaulan bebas, healing, mageran? Ya, tidak salah sih, memang faktanya remaja sekarang begitu. Tapi, coba deh kita cari tahu definisi remaja sebenarnya itu bagaimana sih?
Kalau saya tanya Syekh GPT, remaja adalah fase kehidupan ketika seseorang sedang berada di persimpangan antara anak-anak dan dewasa, di mana rasa ingin tahu, pencarian jati diri, dan gejolak emosi saling bertabrakan. Di usia ini, remaja bukan hanya mengalami perubahan fisik akibat pubertas, tetapi juga mulai membentuk cara berpikir, sikap hidup, serta nilai yang akan mempengaruhi arah hidupnya di masa depan.
Jadi, kita itu lagi di masa krusial di mana pola pikir yang terbentuk di usia remaja bakal banyak mempengaruhi kehidupan kita ke depannya. Namun, kita dapat melihat keadaan remaja saat ini yang kebanyakan tidak punya arah hidup, padahal hidup di era digital yang sangat cepat. Apa sih penyebabnya?
Sebuah studi dari jurnal pendidikan Tembusai menemukan fenomena paradox of competence pada Gen Z (usia 18-22 tahun), di mana meskipun mereka adalah pengguna aktif internet dan mahir menggunakan teknologi, kecakapan mereka dalam memverifikasi informasi kritis masih rendah, terutama karena konsumsi konten video pendek yang tidak mendorong verifikasi mendalam. Model konten digital yang cepat bikin mental jadi cepat dan dangkal, bukan analitis. Nah, ini penyebab remaja yang tidak punya tujuan hidup.
Padahal, remaja, apalagi jika dia seorang Muslim, harusnya sudah tahu bahwa jati dirinya seorang Muslim itu tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah ﷻ, sebagaimana telah Allah firmankan dalam surah Az-Zariyat ayat 56.
Maksudnya di sini bukan berarti kita harus salat tiap detik, tetapi aktivitas sehari-hari kita juga bisa bernilai ibadah dengan satu syarat, yaitu semua aktivitas yang kita lakukan itu terkait dengan perintah Allah ﷻ dan larangan-Nya. Dijamin deh, kalau kita menjalani aturan Allah ﷻ, kita akan terhindar dari kegagalan dan kesesatan, karena Allah, Sang Pencipta kita, yang tahu mana yang sesuai dengan fitrah manusia.
Bukan berarti Islam melarang teknologi, tetapi di balik teknologi kita harus mempunyai prinsip supaya bisa menemukan batasan-batasan agar tidak terjebak dalam standar-standar TikTok atau media sosial lainnya, karena inilah yang menjadi penyebab banyak orang terkena gangguan mental, merasa tertinggal padahal sudah berusaha.
Ternyata dalam Islam sudah ada pencegahan dari terjadinya hal-hal yang tadi kita bahas dan memerintahkan kita sebagai Muslim untuk menjadikan Islam sebagai standar hidup yang sudah jelas tujuannya, yakni mendapatkan ridha Allah ﷻ. Jadi, remaja Muslim, jangan bingung arah hidup lagi ya!

0 Komentar