URGENSI JAMAAH DAKWAH ISLAM IDEOLOGIS DALAM MEMBINA IBU DAN GENERASI MUDA MENJADI PELOPOR PERUBAHAN


Oleh: Nunung Sulastri
Penulis Lepas

Islam meletakkan kedudukan seorang ibu begitu mulia, mengingat seorang ibu sebagai pilar masyarakat yang memiliki peranan penting dalam mendidik dan mengawasi pertumbuhan generasi. Seorang ibu merupakan sekolah/madrasah pertama bagi setiap anak, yaitu ibu yang mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak.

Di era globalisasi sekarang ini, di mana perang pemikiran, perang peradaban, maupun perang ideologi datang menyerbu kaum muslimin, khususnya generasi muda, serbuan tersebut datang dari berbagai penjuru, bisa dari pola asuh orang tua, media sosial, lingkungan pergaulan, dan lain-lain.

Sebagaimana Rasul ﷺ bersabda:

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا» فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ» فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ» (رواه أبو داود، حديث رقم 4297)
“Akan datang suatu masa di mana bangsa-bangsa akan mengerubungi kalian seperti orang-orang yang makan mengerubungi piring makanannya.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit saat itu?” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di air bah. Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian dan akan melemparkan dalam hati kalian penyakit ‘wahan’.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu ‘wahan’?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, Hadits No. 4297).

Bagi seorang ibu, memiliki wawasan dan pengetahuan luas, membentengi aqidah yang shahih, serta menyaring informasi masuk adalah hal yang sangat penting. Ibu harus mampu memimpin anak-anaknya untuk menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan fitnah (ujian). Namun, fenomena masuknya informasi dari media sosial sering kali menggiring generasi muda ke arah gaya hidup bebas tanpa batas ini, menjadi salah satu tantangan terbesar. Kaum ibu harus memastikan anak-anak mereka tetap kokoh dalam akidah dan siap berjuang untuk agama Allah, bukan menjadi generasi yang rapuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.

Sekulerisasi terhadap pemuda, baik di dunia nyata maupun digital, menyebabkan generasi muda kehilangan arah pandang maupun jati dirinya sebagai Muslim, yaitu generasi yang rapuh yang mudah tergerus kebebasan yang tanpa batas, jauh dari nilai-nilai Islami maupun dari Muslim pelopor perubahan peradaban.

Di zaman kapitalisasi sekarang ini, kondisi para muslimah, khususnya kaum ibu, yang tak kalah memprihatinkan, seharusnya menjadi benteng pertahanan terhadap anak, malah lalai dalam mendidik generasi, disebabkan banyak faktor dari gaya hidup dan tuntutan ekonomi, sementara terlihat dari degradasi peran mereka sebagai Ummun wa Rabbatul Bayt dan pendidik generasi yang gemilang, malah mereka menjadi korban dari sistem kapitalisme di mana ibu dituntut keluar sebagai pencari nafkah menggantikan sosok ayah, bahkan digadang-gadang sebagai pahlawan devisa.

Sekarang ini mayoritas seorang ibu menjalani peran gandanya dan mengalihkan tugas utamanya sebagai pendidik generasi. Inilah pemberdayaan ibu dalam sudut pandang kapitalisme yang menghasilkan materi yang sebanyak-banyaknya.


Hegemoni Digital Kapitalis Merusak Generasi

Digitalisasi dunia berada di bawah cengkraman kapitalisme, menjelma menjadi kekuatan yang mengendalikan pola pikir dan pola sikap orientasi hidup generasi muda. Tidak hanya bertujuan ekonomi untuk menghasilkan materi sebagai keuntungan, tetapi juga menyebarkan ideologi batil yang menjauhkan umat dari pemikiran Islam. Akibatnya, generasi muda menjadi sasaran empuk dalam target serangan hegemoni digital kapitalisme, dibentuk oleh konten-konten yang menghibur, melemahkan akal dan malas berpikir karena generasi muda yang paling sering berinteraksi hidup di ruang media sosial.

Negara sekuler memandang generasi muda dan kaum ibu sebagai objek komersial. Kehidupan sekuler membuat pemikiran masyarakat semakin rusak, tentunya bertentangan dengan Islam, seperti gaya hidup bebas yang sekaligus menjauhkan mereka dari pembekalan Islam kaffah. Akar dari persoalan terletak pada adopsi sistem sekularisme dan kapitalisme sebagai paradigma bernegara, sehingga peran agama yang seharusnya mengatur semua urusan bernegara malah dibatasi pada ranah pribadi saja.


Peran Berjamaah Bagi Kaum Ibu dan Generasi Muda

Di tengah penerapan sistem kapitalisme, kehadiran jamaah dalam Islam ideologis menjadi sangat urgen, dengan bertujuan untuk membina ibu dan generasi muda agar memiliki kepribadian Islam dan siap memperjuangkan kebangkitan Islam. Kesadaran ibu akan kewajiban mendidik generasi haruslah memiliki kemampuan menangkap tantangan kerusakan zaman, kematangan visi dan misi pengasuhan, bahkan mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi generasi agar tetap bertahan dalam lingkungan yang berbenturan dengan nilai-nilai norma dan agama. Generasi yang gemilang tidak akan lahir dari ibu yang individualistik dan tidak mau berpikir, mereka akan lahir dari ibu yang bervisi misi ideologis.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surat Ali Imron ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Ayat tersebut menjadi landasan bagi kewajiban jamaah Islam yang memiliki visi misi ideologis dan tujuan untuk perubahan secara sistematik atau menyeluruh.

Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, jamaah dakwah yang membina umat, termasuk kaum ibu dan generasi muda dengan tsaqafah Islam yang ideologis, akan melahirkan pelopor perubahan yang membela Allah dan Rasul-Nya. Berjamaah menjadi simbol persatuan umat Islam, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

اسْتَوُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ
"Luruskan saf, jangan berselisih. Nanti hati kalian juga akan berselisih" (HR. Bukhari Muslim).

Dalam upaya mengembalikan kejayaan umat Islam, Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepada kita tahapan dakwah yang jelas dan terstruktur, yaitu:
  • Tahapan pertama adalah pembinaan individu (Tatsqif), yang berfokus pada pembentukan aqidah yang kuat dan kepribadian Islami, serta pengajaran Alquran sebagai dasar hidup yang benar.
  • Tahapan berikutnya adalah interaksi dengan masyarakat (Tafa'ul Ma'a Al-Ummah), di mana dakwah dilakukan secara terbuka untuk mengubah pola pikir, kebiasaan, dan aturan hidup umat agar selaras dengan ajaran Islam.
  • Terakhir, tahapan pengambilan kekuasaan (Marhalah Istilamul Hukmi), yang melibatkan penerapan sistem Islam secara menyeluruh melalui pembentukan negara Islam dan memperjuangkan Islam sebagai ideologi dunia.

Dengan mengikuti tahapan-tahapan dakwah tersebut, insyaa Allah kita akan melahirkan generasi yang tidak hanya memahami Islam dengan baik, tetapi juga mampu memperbaiki kondisi umat Islam yang terpuruk saat ini, dengan kembali ke sistem Islam yang kaffah.

Sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam surat Ali Imron ayat 110:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ
Kalian adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.

Rindunya sistem Islam kembali hadir...

Allahu Akbar

Walahu A'lam bisshowab

Posting Komentar

0 Komentar