
Oleh: Desti Sundari
Muslimah Ibu Generasi
Gempar... Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Pernyataan tersebut disampaikan Trump di Mar-a-Lago pada Sabtu (3/1/2026). Trump mengatakan AS akan menguasai Venezuela tanpa mengeluarkan biaya karena pengeluaran tersebut akan dibayar dari hasil minyak Venezuela.
Trump juga mengisyaratkan bahwa perusahaan minyak Amerika Serikat akan masuk ke Venezuela untuk memulai kembali produksi minyak. Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak mentah sekitar 303 miliar barel, yang merupakan salah satu cadangan terbesar di dunia.
Venezuela memiliki perusahaan minyak nasional PDVSA yang dibentuk melalui nasionalisasi industri minyak pada 1 Januari 1976 di bawah pemerintahan Presiden Carlos Andrés Pérez. Dalam proses nasionalisasi tersebut, Venezuela memberikan kompensasi kepada perusahaan minyak asing, termasuk perusahaan AS, dengan nilai sekitar 1,03 miliar dolar AS.
Pemerintah Amerika Serikat sebelumnya juga telah menuduh dan mendakwa Presiden Nicolás Maduro atas sejumlah kejahatan. (Muslimah News, 11/01/2026)
Amerika Serikat merupakan kekuatan global dominan yang berperan besar dalam penyebaran sistem kapitalisme melalui kebijakan ekonomi, politik, dan militernya. Dominasi ini berdampak pada banyak negara mayoritas Muslim yang mengalami konflik berkepanjangan, ketergantungan ekonomi, serta penetrasi nilai sekular dalam sistem pemerintahan dan pendidikan.
Berbagai laporan internasional menunjukkan bahwa krisis ekologis global seperti perubahan iklim, deforestasi, pencemaran lingkungan, dan eksploitasi sumber daya alam berkaitan erat dengan sistem ekonomi kapitalistik yang menekankan pertumbuhan dan keuntungan tanpa batas.
Aktivitas industri besar dan korporasi multinasional menjadi kontributor utama kerusakan lingkungan di banyak wilayah dunia.
Amerika Serikat tercatat beberapa kali melakukan ancaman politik, sanksi ekonomi, dan tekanan militer terhadap sejumlah negara, termasuk Venezuela. Kebijakan ini dilakukan dengan alasan stabilitas global, demokrasi, dan keamanan, namun menuai kritik internasional karena dianggap melanggar kedaulatan negara lain dan memperparah krisis kemanusiaan.
Dunia hari ini menyaksikan krisis multidimensi yang kian parah: ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, konflik berkepanjangan, hingga penjajahan gaya baru antarnegara. Di balik semua itu, ideologi kapitalisme sekuler dan dominasi global Amerika Serikat (AS) memainkan peran sentral yang tidak bisa diabaikan.
Kapitalisme sekuler telah memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Agama dipinggirkan sebatas ritual individual, sementara urusan ekonomi, politik, dan sosial diserahkan sepenuhnya pada mekanisme pasar dan kepentingan modal. Akibatnya, umat Islam tidak lagi menjadikan akidah sebagai landasan dalam mengatur muamalah, pendidikan, maupun kebijakan publik. Sistem riba dilegalkan, gaya hidup hedonis dinormalisasi, dan pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, bukan membentuk kepribadian bertakwa.
Kerusakan ini tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Utang berbunga menjadi solusi instan kemiskinan, padahal justru menjerat masyarakat. Media dan budaya populer mengikis nilai akhlak dan rasa malu. Politik dikuasai oligarki, sementara suara umat sering diabaikan. Inilah buah dari sistem yang menjadikan materi dan keuntungan sebagai tujuan utama kehidupan.
Pada level global, kapitalisme sekuler diwujudkan secara kasar melalui arogansi Amerika Serikat. Dengan dalih demokrasi, HAM, dan keamanan dunia, AS kerap melakukan intervensi terhadap negara lain. Sanksi ekonomi, kudeta politik, hingga pendudukan militer menjadi alat untuk menguasai sumber daya alam, terutama minyak dan gas.
Kasus Venezuela, Irak, Suriah, hingga dukungan tanpa batas terhadap penjajahan Israel atas Palestina menunjukkan bagaimana hukum internasional kerap dikesampingkan ketika bertabrakan dengan kepentingan AS. Rakyat sipil menjadi korban, sementara kekayaan alam negara-negara tersebut mengalir ke korporasi global.
Ironisnya, dunia internasional sering kali hanya menjadi penonton. Kecaman moral tidak pernah diikuti tindakan tegas, karena sistem global saat ini juga berada dalam kendali kekuatan yang sama. Inilah wajah penjajahan modern: tanpa bendera, tanpa deklarasi perang resmi, namun nyata menghancurkan kedaulatan dan kemanusiaan.
Sudah saatnya umat Islam dan masyarakat dunia menyadari bahwa krisis ini bukan sekadar kesalahan individu atau pemimpin tertentu, melainkan buah dari sistem yang rusak.
Selama kapitalisme sekuler dijadikan standar, dan hegemoni global dibiarkan tanpa perlawanan, keadilan dan kemanusiaan akan terus menjadi korban.
Dunia membutuhkan arah baru: kepemimpinan yang berlandaskan nilai moral, keadilan sejati, dan penghormatan terhadap kedaulatan. Tanpa itu, penderitaan umat manusia hanya akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.
Umat Islam harus disadarkan kembali bahwa Islam adalah ideologi yang sempurna, bukan sekadar agama ritual. Allah ﷻ menegaskan bahwa Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.
Sebagaimana Allah ﷻ berfirman:
اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian”. (QS. Al-Ma’idah: 3)
Kesempurnaan Islam inilah yang menjadi modal kebangkitan umat untuk keluar dari hegemoni Amerika Serikat dan sistem kapitalisme global yang menindas serta merusak tatanan kehidupan dunia.
Tidak ada harapan bagi dunia untuk keluar dari krisis multidimensi selama masih berada di bawah kepemimpinan sekuler-kapitalis.
Kepemimpinan Islam adalah satu-satunya solusi hakiki untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang adil, manusiawi, dan penuh rahmat. Islam memandang kekuasaan sebagai amanah, bukan alat eksploitasi, serta menjadikan hukum Allah sebagai rujukan tertinggi dalam mengatur urusan umat dan negara.
Islam hadir bukan hanya untuk melindungi kaum Muslim, tetapi juga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan yang lahir dari sistem rusak buatan manusia. Dengan penerapan syariat Islam secara sempurna dalam daulah Islam, dunia akan diselamatkan dari kehancuran moral, sosial, dan ekologis, serta diarahkan menuju kehidupan yang diridhai Allah dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Wallahualam bissawab

0 Komentar