
Oleh: Elsa Agustin
Penulis Lepas
Gerakan Tanami Halaman (Gertaman) diluncurkan pada hari Selasa di Kantor Soreang dan diresmikan oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna, dengan tujuan untuk mendukung program ketahanan pangan sekaligus mendukung program MBG.
Gerakan Tanami Halaman merupakan langkah strategis dan juga bentuk upaya nyata untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai sumber pangan yang produktif, serta pangan keluarga dibangun agar mandiri sehingga kebutuhan pribadi terpenuhi.
Bupati Bandung mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan dari program Makan Gizi Gratis (MBG) yang menghasilkan perputaran uang hingga Rp 5,4 triliun per tahun.
Diharapkan hasil produksi Gertaman tidak hanya memenuhi kebutuhan rumah tangga saja, tetapi juga kebutuhan MBG dapat terpenuhi.
Selain itu, Gertaman ini menjadi solusi bagi keluarga yang memiliki lahan terbatas. Program ini mengajak masyarakat untuk menanam berbagai macam tanaman sayuran seperti cabai merah, cabai rawit, wortel, kol, pakcoy, bayam, terong, dan lain-lain.
Pada sistem kapitalisme, Gerakan Tanami Halaman hanya dapat menjadi solusi sebagian dan terbatas, dengan dampak yang terbatas dan tidak menyeluruh, karena efektivitasnya sangat bergantung pada cara implementasi yang dilakukan. Tanpa dukungan kebijakan dan strategi yang tepat, gerakan ini berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan.
Keterbatasannya meliputi:
- Skala produksi masih kecil → tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan wilayah secara keseluruhan.
- Keterbatasan lahan di kota besar → tidak semua orang memiliki halaman atau akses ke ruang publik.
- Biaya awal (bibit, sistem irigasi) → bisa menjadi hambatan bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
- Ketergantungan pada faktor eksternal (cuaca, hama, kebijakan) → yang bisa mengurangi hasil panen.
Jadi, gerakan ini paling efektif bila dipadukan dengan kebijakan lain, seperti subsidi bibit, pelatihan pertanian urban, dan integrasi dengan program pangan daerah. Jika hanya "tanam-tanam" tanpa dukungan, potensinya akan tetap terbatas.
Gerakan Tanami Halaman bisa selalu selaras dengan nilai-nilai Islam kalau kita manfaatkan prinsip-prinsip berikut:
- Wakaf tanah atau pekarangan → umat atau masjid bisa mewakafkan lahan kosong untuk kebun komunitas. Hasil panen dibagi untuk fakir miskin, sehingga ada dimensi sosial sekaligus lingkungan.
- Zakat & sedekah produktif → alokasikan sebagian zakat untuk modal bibit, pupuk organik, atau sistem irigasi sederhana. Dengan begitu, bantuan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi menghasilkan pangan berkelanjutan.
- Mudharabah (bagi-hasil) → warga yang tidak punya modal bisa ikut menanam dengan perjanjian bagi hasil antara pemilik lahan dan petani urban. Ini mengurangi beban biaya awal dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
- Prinsip khalifah → Islam mengajarkan manusia sebagai penjaga bumi. Menanami halaman menjadi wujud konkret menjaga alam, mengurangi limbah, dan meningkatkan ketahanan pangan.
- Pendidikan akhlak & fiqh pertanian → masjid atau pesantren dapat mengadakan pelatihan tentang pertanian organik, rotasi tanaman, dan pengelolaan air sesuai syariah, sehingga hasilnya halal dan berkah.
Dengan mengintegrasikan wakaf, zakat produktif, mudharabah, dan semangat khalifah, Gerakan Tanami Halaman bukan cuma soal lingkungan, tetapi juga ibadah sosial yang memperkuat ekonomi umat.

0 Komentar