
Oleh: Ummu Anjaly, S.K.M
Penulis Lepas
Dunia hari ini berada dalam kondisi yang kian rapuh. Konflik bersenjata, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, dan hilangnya rasa keadilan menjadi fenomena global yang terus berulang. Di balik situasi tersebut, Amerika Serikat tampil sebagai kekuatan dominan yang mengarahkan tatanan dunia melalui ideologi kapitalisme sekuler. Dominasi ini tidak hanya memengaruhi arah ekonomi dan politik global, tetapi juga membentuk cara pandang manusia terhadap kehidupan. Umat Islam pun semakin terpinggirkan secara sistemik, baik secara ideologis maupun struktural.
Kapitalisme global telah menempatkan banyak negara Muslim dalam posisi terjajah dan bergantung. Sistem ekonomi dunia yang timpang memaksa negeri-negeri berkembang tunduk pada mekanisme utang, liberalisasi pasar, dan kepentingan korporasi internasional. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah justru dinikmati oleh segelintir elit dan perusahaan multinasional, sementara mayoritas rakyat hidup dalam kemiskinan dan ketidakadilan struktural.
Selain menindas secara ekonomi, kapitalisme global juga menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan. Demi mengejar pertumbuhan dan keuntungan, eksploitasi alam dilakukan secara masif tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Deforestasi, pencemaran laut, dan perubahan iklim meluas di berbagai belahan dunia, termasuk wilayah mayoritas Muslim. Negara-negara berkembang kerap dijadikan lokasi ekstraksi sumber daya sekaligus penanggung dampak ekologis terburuk dari sistem yang rakus dan tidak berperikemanusiaan.
Di ranah politik internasional, Amerika Serikat semakin menunjukkan sikap arogannya. Intervensi militer, tekanan politik, dan sanksi ekonomi dijadikan instrumen untuk mempertahankan hegemoni global. Venezuela menjadi contoh nyata bagaimana Amerika Serikat melakukan ancaman dan tekanan terbuka terhadap negara berdaulat demi menguasai sumber daya strategis. Tindakan semacam ini mencederai kedaulatan negara lain serta mengabaikan tatanan hukum internasional yang seharusnya dijunjung bersama (Antara News, 12/01/2026).
Secara ideologis, kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam. Dalam aspek akidah, nilai materialisme dan sekularisme perlahan menggantikan keimanan dan ketakwaan. Dalam muamalah ekonomi, sistem riba, spekulasi, dan eksploitasi menyingkirkan prinsip keadilan Islam. Dalam ranah sosial budaya dan pendidikan, konsumerisme serta hedonisme melemahkan akhlak dan identitas umat. Kapitalisme tidak lagi sekadar sistem ekonomi, tetapi telah menjelma menjadi ideologi yang mencabut nilai-nilai Islam dari kehidupan.
Amerika Serikat mempertahankan dominasinya dengan berbagai cara, termasuk aneksasi terselubung dan intervensi langsung. Penguasaan sumber daya alam negara lain dilakukan tanpa memedulikan hukum internasional maupun kecaman masyarakat dunia. Kasus Venezuela kembali menunjukkan bagaimana kepentingan ekonomi dan geopolitik dijadikan pembenaran untuk melanggar kedaulatan negara lain.
Sejarah Islam menghadirkan gambaran kepemimpinan yang sangat berbeda dari wajah kapitalisme global hari ini. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para khalifah. Abu Bakar ash-Shiddiq ra. dan Umar bin al-Khaththab ra. memimpin dengan ketakwaan dan keadilan. Pada masa Umar ra., al-Quds dibebaskan tanpa pertumpahan darah. Penduduk Nasrani hidup aman dan menyerahkan kunci kota dengan penuh penghormatan. Fakta ini membuktikan bahwa kepemimpinan Islam menjamin keamanan dan keadilan bagi seluruh manusia, tanpa memandang agama dan latar belakang.
Namun, kepemimpinan Islam dihancurkan pada tahun 1924. Sejak saat itu, umat Islam kehilangan pelindung politiknya. Rasulullah ﷺ menyebut pemimpin kaum Muslim sebagai perisai. Ketika perisai itu hilang, umat menjadi lemah, tercerai-berai, dan mudah dijajah. Kondisi Palestina hari ini menjadi bukti nyata. Dahulu aman di bawah kepemimpinan Islam, kini rakyatnya terus hidup dalam penjajahan dan penderitaan yang berkepanjangan.
Kepemimpinan Islam global bukanlah romantisme sejarah, melainkan solusi nyata yang pernah terbukti dan relevan hingga hari ini. Islam menempatkan penguasa sebagai pelayan umat dan penegak hukum Allah ﷻ. Penjajahan, perampasan sumber daya, serta kezaliman atas nama kepentingan duniawi dilarang secara tegas. Khilafah Islam tidak hanya melindungi umat Islam, tetapi juga menjaga seluruh manusia dari kezaliman, kemungkaran, kemaksiatan, serta berbagai bentuk kerusakan di muka bumi.
Allah ﷻ berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara menyeluruh." (QS al-Baqarah: 208). Ayat ini menegaskan bahwa kebangkitan umat tidak akan terwujud dengan solusi parsial dan kompromi ideologis.
Kebangkitan sejati hanya akan lahir ketika umat kembali menjadikan Islam sebagai mabda, menerapkannya secara kaffah, dan menjadikannya pemimpin peradaban dunia. Dengan Islam kaffah, umat memiliki kembali perisai yang kokoh, dan dunia berpeluang keluar dari krisis panjang yang diciptakan oleh sistem kapitalisme global.

0 Komentar