
Oleh: Imelda Inriani, S.P.
Penulis Lepas
Belakangan ini, publik terkejut dengan berita seorang remaja SD berusia 12 tahun yang melukai ibunya dengan pisau hingga menyebabkan sang ibu meninggal. Tindakan ini dilakukan oleh anak gadisnya sendiri. Menurut Kapolrestabes Medan, Kombes Calvin Simanjuntak, aksi tersebut terinspirasi dari game online yang sering dimainkan oleh remaja tersebut. Selain itu, ia juga sering melihat kekerasan yang diterima oleh saudara kandungnya dan ancaman pisau dari sang ayah. Puncak kemarahan remaja itu terjadi ketika game online favoritnya dihapus, yang akhirnya memicu tindakan tragis terhadap ibunya.
Di sisi lain, CNN Indonesia telah merilis kasus yang melibatkan media online yang juga terjadi di Depok, Jawa Barat, di mana telah ditetapkan sebagai tersangka seorang mahasiswa berusia 23 tahun akibat tindakan ancaman teror bom yang ia lakukan terhadap 10 sekolah di Depok. Teror yang ia lakukan mengatasnamakan mantan kekasih, karena kekecewaannya lantaran pernah ditolak oleh sang mantan kekasih.
Sungguh miris apa yang terjadi di atas, anak remaja yang seharusnya di hatinya masih dipenuhi rasa sayang pada orang tuanya, terutama ibu yang melahirkan, menyusui, dan merawatnya, justru menjadi target tindakan tragisnya. Melihat fakta di atas, tentu hal ini tidak lepas dari pengaruh keseharian yang dilakukan remaja tersebut, baik melalui media yang ia gunakan maupun lingkungan yang ia saksikan secara nyata di sekelilingnya.
Karena pada kenyataannya, saat ini banyak sekali game online yang di dalamnya berisi tindakan kekerasan, baik itu berupa game perkelahian, kekerasan, bahkan adegan pembunuhan yang tentu hal ini bisa menginspirasi para penggunanya. Apalagi jika mereka adalah anak-anak yang bahkan belum bisa membedakan apakah hal ini baik atau buruk, berbahaya atau tidak, yang mereka tahu hanyalah "ini adalah game seru yang menyenangkan."
Game maupun platform online dalam sistem saat ini hadir tanpa filter, jadi setiap orang bisa saja terjebak dalam unsur-unsur negatif yang terkandung di dalamnya. Banyak kejahatan yang terinspirasi dari tayangan online, salah satu contohnya adalah remaja SD di atas. Saat ini, penggunaan media online juga tidak mendapat pengawasan, orang bisa saja melakukan tindakan apa pun menggunakan media online, baik menyangkut hal positif maupun negatif. Inilah cermin sistem yang rusak, semua hal diciptakan semata-mata untuk meraup uang dan kepentingan pihak tertentu tanpa melihat bagaimana efeknya untuk generasi dan kehidupan manusia.
Kecermatan individu saja tidak cukup untuk melindungi dari bahaya media online, karena setiap orang bisa saja terjebak dalam situasi sulit yang membuatnya meniru tindakan buruk dari tayangan yang ada di media. Oleh karena itu, peran pemerintah sangat penting untuk membatasi tayangan yang dapat diakses oleh warganya, agar setiap orang dapat terhindar dari tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya.
Hal ini selaras dengan penerapan peran negara Islam dalam menjaga serta melindungi warga negaranya, terutama para generasi dari berbagai bahaya kerusakan, terutama yang disebabkan oleh media online. Negara Islam melalui Departemen Penerangan tentu tidak akan berpikir panjang dalam melawan dan memberantas hegemoni kapitalisme global dalam ruang digital.
Dalam sistem Islam, kerusakan generasi akan ditaklukkan dengan 3 pilar: Pertama, ketakwaan individu, di mana setiap individu akan dibentuk dan dikuatkan kepribadiannya dengan ketakwaan pada Allah ï·», sehingga dalam bertindak dan bertingkah laku, mereka akan selalu merasa diawasi oleh Allah dan senantiasa terikat dengan syariat Allah.
Kedua, kontrol masyarakat, di mana setiap warga negara akan selalu saling mengingatkan dan beramar ma'ruf nahi munkar kepada sesama dalam rangka agar semua masyarakat berada dalam koridor syara'.
Ketiga, perlindungan negara, di mana negara akan selalu menjamin seluruh warga negaranya terjaga dan terhindar dari segala kemaksiatan dan kejahatan yang mengintai, baik itu dari dalam daulah (Negara Islam) maupun di luar daulah.
Ketiga pilar ini akan terus berjalan sinergis, memastikan perlindungan bagi generasi dan setiap warga negara dalam Daulah Islam. Dengan ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan perlindungan negara, sistem ini akan menciptakan lingkungan yang aman, adil, dan sejahtera. Komitmen bersama untuk mewujudkan sistem ini adalah kunci agar generasi mendatang dapat tumbuh dalam kebaikan, jauh dari pengaruh negatif, dan mampu membawa peradaban Islam ke arah yang lebih mulia.
Wallahu a'lam bishawab.

0 Komentar