KETIKA GURU DIKEROYOK MURID, ALARM DARURAT PENDIDIKAN YANG KEHILANGAN ADAB


Oleh: Ummu Hanif Haidar
Penulis Lepas

Guru SMK yang dikeroyok oleh muridnya di Jambi, kasusnya menjadi viral di media sosial, ternyata bukan peristiwa kriminal biasa. Pertanda ada yang keliru dan rapuh dalam dunia pendidikan kita. Ini merupakan alarm keras. Berawal dari guru yang memberikan teguran ketika berlangsungnya proses belajar. Teguran terjadi karena guru menganggap siswa tidak sopan. Ditanggapi dengan perlawanan verbal oleh muridnya hingga pada kekerasan fisik.

Di sisi lain, siswa mengungkapkan bahwa sang guru kerap berbicara kasar, menghina murid dan orang tua mereka dengan sebutan "bodoh" dan "miskin." Dua versi ini memperlihatkan konflik yang jauh lebih dalam daripada sekadar salah paham. (Detik, 17/01/2026)

Dua versi yang menunjukkan hubungan antara guru dan murid yang tidak baik-baik saja. (Detik, 15/01/2026)

Betapa adab murid terhadap gurunya hilang. Sementara di sisi lain, guru kehilangan kesabarannya menghadapi emosi muridnya. Suasana belajar yang seharusnya aman, tentram, dan menenangkan menjadi sebaliknya.

Apakah kejadian seperti ini lahir dari ruang hampa? Tentu saja tidak, ia lahir dari sistem pendidikan kapitalis-sekuler. Di mana sistem ini menyingkirkan nilai-nilai Islami. Terjadi pereduksian pendidikan, di mana hanya sekadar mencari nilai, target kurikulum harus selesai, dan mencetak murid yang siap kerja. Adab dalam belajar dan mengajar hanya sebuah pelengkap saja dalam sistem sekuler-kapitalis.


Ketika Pendidikan Kehilangan Ruhnya, Islam Menawarkan Solusi

Masing-masing teringat oleh kita, bagaimana Rasulullah menghadapi Arab badui yang mengencingi masjid. Para sahabat ketika itu marah. Namun, Rasulullah menyikapinya dengan tenang. Bahkan melarang para sahabat untuk menghardik. Lalu Rasulullah menasehati Arab badui tersebut tentang adab di masjid. Hal ini sesuai firman Allah ﷻ, sebagai berikut:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ
"Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka." (QS. Ali Imran: 159)

Dalam Perang Uhud, Abu Dujanah melindungi Rasulullah dengan punggungnya. Hal ini menunjukkan sikap mendahulukan kepentingan guru di atas kepentingan diri.

Ketika turun ayat Allah dalam surat Al-Hujurat ayat 2:

لَا تَرْفَعُوْٓا اَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ
"Janganlah kamu meninggikan suaramu di atas suara Nabi."

Umar bin Khattab berbicara pelan terhadap Rasulullah. Sekeras karakter Umar, ia mampu untuk menempatkan dirinya. Bagaimana Imam Syafi'i ketika berhadapan dengan guru:

كُنْتُ أَتَصَفَّحُ الوَرَقَةَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ رَحِمَهُ الله صَفْحًا رَقِيْقًا هَيْبَةً لَهُ لِئَلَّا يَسْمَعُ وَقْعَهَا
"Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan sangat pelan agar beliau tidak terganggu." (Al Manhajus Sawi, Hal 219)

Islam mengatur kurikulum yang bersifat tersentralisasi, yang menyusun adalah negara. Semua disusun berdasarkan Aqidah Islam yang lurus. Namun untuk teknis pengajaran bersifat fleksibel, dengan tujuan yang satu, yaitu membentuk Syakhsiah Islamiyah.

Jenjang pendidikan dalam Islam, ada empat, yaitu:
  • Pendidikan dasar (anak-anak);
  • Pendidikan menengah;
  • Pendidikan tinggi;
  • Pendidikan spesialis (halaqah ulama).

Fasilitas pendidikan Islam, seperti buku, disediakan negara secara gratis. (Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, Nizham al-Islam & Nizham at-Ta’lim fil Islam)

Penyediaan asrama bagi pelajar perantau juga gratis. Disediakan juga beasiswa untuk penuntut ilmu. Semua bisa gratis karena sumber pembiayaan berasal dari baitulmal, jizyah, kharaj, fa’i, dan ghanimah.

Hak guru juga ditunaikan dengan sangat istimewa. Pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid, pengajar umum (misalnya mengajar Al-Qur'an, bahasa, dsb) mendapat 2.000 dinar per tahun, setara dengan 9,35 miliar per tahun.

Sementara pengajar spesialis (misalnya hadits dan fiqh) mendapat 4.000 dinar per tahun yang setara dengan 18,7 miliar per tahun. (NU, 28/02/2024)

Demikianlah Islam memandang ilmu bukan sebagai komoditas, juga tidak memandang guru sebagai pekerja biasa. Menuntut ilmu adalah ibadah, guru juga sebagai sosok istimewa, yang jerih payahnya sangat dihargai. Hampir mustahil terjadinya fenomena pengeroyokan seperti era kapitalis saat ini. Masihkah kita ragu dalam melaksanakan syariat Islam Kaffah? Tentu saja tidak, mari kita tegakkan syariat Islam Kaffah ini di tengah-tengah umat.

Posting Komentar

0 Komentar