BOBROKNYA SISTEM PENDIDIKAN KAPITALIS


Oleh: Arnaningsih, S.Pd
Penulis Lepas

Dilansir dari Detiknews Sabtu, 17 Januari 2026, seorang guru SMK Negeri 3 Tanjung Jabung bernama Agus Saputra dikeroyok beberapa siswanya. Bermula dari teriakan salah seorang dari mereka saat gurunya sedang melintas di depan kelas. Kata-kata yang kurang pantas dan tidak mengenakkan hati membuat Agus akhirnya geram.

"Kejadiannya berawal dari peneguran siswa di kelas di saat belajar ada guru, dia (siswa) menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas kepada saya saat belajar," kata Agus, dilansir detikSumbagsel, Kamis (15/1).

Agus lalu masuk ke kelas dan meminta agar siswa tadi mengaku. Namun, kedatangan sang guru kian memicu pertengkaran. Bukannya menyelesaikan persoalan, Agus justru merasa ditantang hingga refleks menampar pipi siswa.

"Saya masuk ke kelas memanggil siapa yang meneriakkan saya seperti itu. Dia langsung menantang saya, akhirnya saya refleks menampar muka dia," ujarnya.

Sementara itu, beberapa siswa memberi keterangan yang berbeda. Agus dikatakan telah menghina salah satu siswa tersebut dengan perkataan 'miskin' hingga memicu keributan.

"Iya saya melontarkan sebagai motivasi, saya tidak bermaksud mengejek. Saya menceritakan secara umum. Saya mengatakan, 'Kalau kita kurang mampu, kalau bisa jangan bertingkah macam-macam'. Itu secara motivasi pembicaraan," ungkapnya.


Potret Buram Dunia Pendidikan

Tidak hanya sarana dan prasarana, problematika antara guru dan siswa juga seolah tak usai. Penerapan sistem hari ini belum mampu mencetak generasi cerdas dan berkepribadian mulia. Hal ini didasari oleh penerapan sistem pendidikan Kapitalis-Sekuler. Sistem yang memisahkan antara agama dengan kehidupan pendidikan itu sendiri.

Kurikulum pembelajaran yang berorientasi pada kecerdasan ilmu tanpa memperhatikan aspek keagamaan. Siswa dituntut belajar banyak mengenai ilmu pengetahuan dunia, sementara ilmu keagamaan kian dikikis. Belajar ilmu agama hanya sekenanya sehingga, generasi penerus bangsa ahli dalam bidang keduniaan tetapi bobrok saat bertingkah laku.

Sementara itu, tenaga pendidik disibukkan dengan berbagai kelengkapan administratif hingga menyebabkan sulitnya terlaksana proses belajar-mengajar yang sistematis. Adanya guru sekadar mentransfer ilmu, tanpa memahami pola asuh dan pembentukan kepribadian mulia.

Selain itu, kesejahteraan guru dalam sistem hari ini kian memprihatinkan. Gaji guru belum memenuhi standar kelayakan di tengah mahalnya biaya kebutuhan hidup seperti pendidikan, kesehatan, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Sehingga, membuat guru harus berperan aktif dan senantiasa mencari tambahan pemasukan dengan melakukan aktivitas sampingan. Kondisi tersebut memicu ketidakstabilan emosi, sensitif, bahkan stres. Peran guru dalam mengajar sulit terlaksana secara maksimal. Alih-alih mengajar, guru justru berurusan dengan hukum.

Output pendidikan hari ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan Kapitalis-Sekuler yang belum mampu mencetak generasi unggul, cerdas, serta berkepribadian mulia.


Berbeda Halnya dengan Sistem Pendidikan Islam

Sejarah membuktikan kegemilangannya. Peserta didik terlahir menjadi insan yang bertakwa sekaligus ahli dalam bidang keduniaan.

Merujuk pada salah satu hadis Rasulullah ﷺ:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ
Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, Islam mewajibkan setiap jiwa memahami ilmu dan membesarkan keimanan melalui pemahaman dunia yang diperoleh.

Dalam sistem pendidikan Islam, setiap kurikulum dan metode pengajaran disusun berasaskan akidah Islam. Para guru mengajar didasari niat ikhlas semata karena mencari keridhaan Allah. Demikian, peserta didik memahami sejak awal bahwa belajar bukan semata demi eksistensi atau berprestasi dalam ilmu dunia. Melainkan, lebih pada pemahaman agama. Dengan kata lain, meluruskan aqidah peserta didik adalah hal utama dalam sistem pendidikan Islam. Menyadari bahwa tidak ada Zat Yang Maha Kuasa selain Allah ﷻ. Sandaran tersebut menjadi standar peserta didik menuntut ilmu. Setiap ilmu dan pemahaman dunia bermuara pada satu garis lurus yaitu beriman kepada Allah ﷻ. Oleh karena itu, generasi cerdas yang terlahir dari sistem pendidikan Islam tidak akan dijumpai penyimpangan atau penyelewengan akhlak dari mereka.

Selain itu, kesejahteraan guru dalam sistem pendidikan Islam berbeda dari sistem Kapitalis hari ini. Lelahnya mengajar dibayar dengan upah yang layak. Gaji guru senantiasa cukup, bahkan terasa lebih dari cukup. Contohnya, pada masa kekhalifahan Abbasiyah, gaji guru mencapai 1000 dinar/tahun. Kemudian, pada masa kepemimpinan Umar bin Khaththab, gaji guru bisa mencapai 15 dinar/bulannya dan pada masa Harun Ar-Rasyid, gaji guru mencapai 2000 dinar dan para ahli hadits dan fikih bisa 4000 dinar. Jika dikonversikan ke mata uang saat ini, dengan asumsi harga emas murni per gram sekitar Rp 2.000.000 dan 1 dinar setara dengan 4,25 gram emas, maka gaji guru pada masa itu bisa mencapai miliaran rupiah per tahun. Maa syaa Allah.

Jika demikian, bukan hanya siswa, tetapi para guru pun senantiasa akan menjaga kepribadian mulianya. Tidak mudah meluapkan amarah hingga beradu fisik, bahkan berurusan dengan hukum. Sistem Islam benar-benar menyolusikan segala persoalan.

Wallahu'alam bisshawwab.

Posting Komentar

0 Komentar