
Oleh: Aulia Syifa Riani
Santriwati PPTQ Darul Bayan Sumedang
Halo, this is Indonesia!
Negara yang menjadi "surganya DUNIA," yang memiliki kekayaan alam dan pesona yang indah, juga kekayaan sumber daya alamnya, berbagai flora dan fauna, serta hutan tropis yang sangat luas hingga disebut paru-paru dunia. Tidak hanya itu, budaya adat istiadatnya mempunyai ciri khas tersendiri. Yang menjadi daya tarik masyarakat lokal maupun non-lokal. Dari semua ini, siapa sih yang tidak tahu Indonesia?
Tapi di balik itu semua, Indonesia menyimpan banyak sekali problematika. Ya, benar, Indonesia adalah negara yang selalu ada saja gebrakannya, tanpa konflik, mungkin tidak afdol (bagi Indonesia).
Baru-baru ini, warga Indonesia (Konoha) digemparkan dengan berita tentang seorang guru adu jotos dengan muridnya. Dunia pendidikan kini kembali tercoreng. Sekolah yang sejatinya menjadi tempat menanamkan nilai luhur dan budi pekerti, justru menjadi arena pertikaian.
Seorang guru SMKN 3 Tanjung Jabur Timur, Jambi, bernama Agus Saputra, melaporkan adu jotos ke Polda Jambi sebagai penganiayaan.
KRONOLOGI:
Agus sempat menyampaikan perkataannya lewat mikrofon. Belakangan ini diketahui bahwa perkataan tersebut merupakan hinaan yang menyulut amarah siswa. Kejadian tersebut terjadi pada Selasa, 13 Januari 2025 pagi, saat kegiatan belajar berlangsung.
Ketika itu, dirinya sedang berjalan di depan kelas dan mendengar salah satu siswanya menegurnya dengan kata-kata tidak pantas. Mendengar ucapan itu, Agus masuk ke dalam kelas tersebut untuk mencari siapa yang mengucapkan kalimat tak pantas. Salah satu siswanya pun mengaku. Menurut Agus, saat itu siswanya malah menentang dirinya, sehingga ia menampar siswa itu. Menurut Agus, tindakan itu sebagai bentuk pendidikan moral.
Sementara itu, di sisi lain, sejumlah siswa mengaku Agus telah menghina salah satu muridnya dengan perkataan "miskin" yang memicu keributan tersebut. Agus mengatakan mengalami lebam di bagian tubuhnya usai adu jotos. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Medikdasmen) Abdul Muti mengatakan dinas pendidikan sudah menanganinya.
Krisis Moral
Banyak dari kita mungkin sudah sering mendengar permasalahan serupa. Semua ini tidak terlepas dari krisis moral, norma, dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa hal ini terjadi? Salah satunya karena kurangnya peran negara dalam mengawasi masyarakat, khususnya dalam dunia pendidikan. Negara seharusnya memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Sayangnya, negara justru menjauhkan diri dari syariat Islam.
Rasulullah ï·º diutus bukan hanya sebagai pemimpin umat, tetapi juga untuk menyempurnakan akhlak. Beliau menjadi suri tauladan bagi kita semua. Seharusnya kita malu, masa orang Muslim tidak bersikap layaknya seorang Muslim? Apakah Rasulullah kurang cukup untuk menjadi contoh hidup bagi kita?
Semua ini merupakan akibat dari sistem kapitalisme sekuler yang menjauhkan Islam. Oleh karena itu, upaya memperbaiki kerusakan di negara ini hanya bisa dilakukan dengan ketaatan kepada Allah ï·», salah satunya dengan menegakkan hukum-hukum-Nya. Jika negara menerapkan syariat Islam, kita tidak akan lagi menemukan guru yang menghina dan merendahkan murid, atau murid yang tidak sopan dan kehilangan adab.
Sistem kapitalisme juga turut andil dalam menghapus mata pelajaran keagamaan dalam kurikulum pendidikan. Padahal, jika mata pelajaran tersebut masih ada, banyak masalah sosial yang bisa teratasi. Kapitalisme selalu berusaha menjauhkan agama dari kehidupan, karena sistem ini memang mengabaikan aspek-aspek moral dan spiritual. Inilah sistem yang tidak adil dan penuh penindasan. Sungguh miris melihat bagaimana masyarakat kita dibutakan oleh kapitalisme yang semakin merajalela.
Solusi Islam dalam Pendidikan Moral
Lalu, bagaimana solusi yang bisa kita ambil untuk mengatasi masalah ini? Solusinya adalah dengan menegakkan syariat Islam di bawah kepemimpinan khilafah, yang mengikuti cara dakwah yang diajarkan oleh Rasulullah ï·º. Mari kita sadari bahwa hanya Islam yang memiliki solusi untuk menyelesaikan permasalahan dunia ini.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab lebih didahulukan daripada ilmu. Sebagaimana yang tercantum dalam hadis, "Jika kita berilmu tanpa beradab, maka ilmu tersebut akan sia-sia." Sebaliknya, ilmu tanpa adab akan kehilangan maknanya.
Negara memiliki peran penting dalam pendidikan bangsa. Negara bertanggung jawab untuk memastikan bahwa kurikulum pendidikan berdasarkan akidah Islam, dengan tujuan untuk membentuk kepribadian Islam pada setiap siswa. Negara juga wajib mendidik generasi yang mencintai syariat Islam, serta mengajarkan murid untuk memuliakan guru (ta'dzim).
Guru pun harus mendidik dengan penuh kasih sayang dan bukan dengan merendahkan. Bisa jadi masalah ini muncul karena guru yang tidak mencerminkan akhlak terpuji. Oleh karena itu, murid kehilangan contoh yang berarti, yaitu sikap yang benar. Guru adalah orang tua kedua bagi murid-muridnya, dan seharusnya selalu menjadi contoh yang baik.
Guru adalah amanah yang berat, namun menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia dan mendapat pahala istimewa dari Allah ï·».
Dengan ini, semoga kita semua sadar bahwa syariat Islam itu sangat penting bagi kehidupan kita. Kita diamanahkan untuk berjuang menegakkan khilafah sebagai satu-satunya institusi negara yang akan menerapkan hukum-hukum Allah secara kaffah. Jika bukan kita, siapa lagi? Hakikatnya, kita berjuang untuk menolong agama Allah. Allah pasti akan menolong umat-Nya dan mengokohkan kedudukan-Nya. Allah baik, sementara kapitalisme hanyalah sistem yang penuh keburukan.
Bismillah, saatnya negara mengganti sistemnya. Untuk suara umat Muslim, sabar ya, janji Allah pasti nyata dan akan segera terlaksana.
Wallahu a'lam bissawab.

0 Komentar