MEMBANGUN GENERASI BERDAYA DENGAN ISLAM SEBAGAI PONDASI


Oleh: Aulia Zuriyati
Aktivis Muslimah

Pemerintah Kabupaten Deli Serdang memaknai peringatan Hari Ibu ke-97 sebagai momen penting guna menekankan betapa besarnya arti peran seorang ibu dalam menciptakan generasi yang tangguh dan berguna bagi kemajuan wilayah. Dalam acara tersebut, disampaikan bahwa figur ibu bukan sekadar pengurus rumah tangga saja, melainkan juga sebagai aktor sosial yang berperan penting dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa, mulai dari kesehatan, ekonomi hingga menciptakan lingkungan hidup yang berkelanjutan. (Tribunnews, 17/12/2025)

Narasi di atas terlihat bermakna dan menginspirasi. Yang mana Ibu digambarkan sebagai pembentuk generasi hebat untuk mewujudkan cita-cita “Indonesia Emas 2045”. Namun, pertanyaan: Generasi seperti apa yang ingin dibentuk? Apakah generasi yang sekadar mampu memenuhi tuntutan pasar kerja dan target ekonomi, atau generasi yang memiliki fondasi nilai yang kokoh dan arah hidup yang jelas?

Kenyataannya, generasi muda yang terdidik, melek teknologi, dan kompeten di bidangnya, namun di antara mereka tidak sedikit yang minim akhlaknya. Dan juga tidak sedikit di antara mereka yang merasa kehilangan orientasi hidup, mudah terjerumus perkelahian hingga melakukan tindakan kejahatan dan rentan saat menghadapi masalah. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan yang bertujuan pada aspek material saja tidak cukup untuk melahirkan generasi yang benar-benar berdaya. Apalagi di zaman sekarang, peran seorang ibu yang dijadikan alat kapitalis, yang membuat generasi sekarang tidak terurus.

Sistem kapitalisme dan sosialisme yang berperan hari ini menempatkan suatu pembangunan dalam kerangka yang sempit. Yang mana keberhasilannya diukur dari pertumbuhan ekonomi, produktivitas tenaga kerja, dan konsumsi. Sehingga menyebabkan peran seorang ibu pun bertambah menjadi tulang punggung untuk memenuhi kebutuhan. Dan hasilnya perannya sebagai pendidik utama untuk anak-anaknya pun terpinggirkan, karena tidak memberikan nilai ekonomi langsung. Dan sistem sosialis yang cenderung menyerahkan pembinaan pada negara atau institusi pendidikan, sehingga peran keluarga direduksi menjadi pelengkap administratif saja. Akibatnya pendidikan akhlak dan akidah tidak diterima. Dan hanya diganti dengan standar moral yang dibuat oleh sistem sekarang. Itulah yang terjadi hari ini.

Beda halnya dengan sistem Islam. Menurut ajaran Islam, membangun suatu generasi haruslah dimulai dari penguatan iman, moral, dan kepribadiannya sebagai pondasi pendidikannya. Yang mana ibu sebagai madrasah pertamanya. Oleh karena itu, tugas seorang ibu itu bukan hanya sebagai pengurus rumah tangga, tapi sebagai pendidik utama yang membentuk watak anak dan pandangan hidup anak sejak kecil.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لْبَلَدُ الطَّيِّبُ يَخْرُجُ نَبَا تُهٗ بِاِذْنِ رَبِّهٖ ۚ وَا لَّذِيْ خَبُثَ لَا يَخْرُجُ اِلَّا نَكِدًا ۗ كَذٰلِكَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّشْكُرُوْنَ
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (QS. Al-A'raf 7: Ayat 58)

Arti ayat di atas ini menunjukkan bahwa kualitas hasil amat bergantung pada mutu suasana tempat tumbuhnya. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang kuat imannya serta punya nilai baik akan lebih gampang bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dan berdaya.

Islam juga memuliakan peran seorang ibu sebagai pendidik utama, bukan sebagai objek pemberdayaan ekonomi. Oleh sebab itu, negara dalam sistem Islam memiliki peran agar menjamin kesejahteraan ibu agar dapat menjalankan perannya tanpa tekanan ekonomi. Islam juga mengatur sistem sosial dan ekonomi agar dapat memberikan kemaslahatan bagi seluruh umat.

Dengan demikian, membangun generasi berdaya tidak cukup dengan slogan, program, atau target statistik. Ia harus dimulai dari pembenahan fondasi akidah, nilai, dan sistem kehidupan, tanpa itu, pembangunan hanya akan melahirkan generasi yang lemah secara spiritual dan moral.

Karena itu, jika kita ingin membangun generasi yang berdaya, maka Islam haruslah menjadi pondasinya, bukan sekadar simbol, tetapi sebagai sistem hidup yang mengatur seluruh kehidupan manusia.

Wallahualam bissawwab.

Posting Komentar

0 Komentar