MENEMPATKAN RASA MALU DENGAN BIJAK


Oleh: L. Nur Salamah
Pengasuh Kajian Mutiara Ummat Batam

إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا
"Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya." (Mutafaq 'alaih)

Hadis di atas mengingatkan kita bahwa akhlak yang baik adalah salah satu tanda kemuliaan seorang manusia. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa memiliki akhlak yang mulia merupakan salah satu sifat utama yang harus dimiliki oleh setiap Muslim.

Jika kita menggambarkan akhlak seperti sebuah pohon, maka akhlak adalah buahnya, sementara akidah adalah akarnya. Ibarat sebuah pohon yang akarnya kokoh dan sehat, maka buah yang dihasilkan pun akan baik. Demikian juga dengan manusia; jika akidah atau keyakinan kita terhadap ajaran Islam baik dan benar, maka akhlak kita pun akan mencerminkan kebaikan itu.

Namun, untuk memiliki akhlak yang baik, diperlukan usaha dan pemahaman yang benar. Akhlak bukanlah sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi bisa dibentuk, diperbaiki, dan diarahkan sesuai dengan syariat Islam. Salah satu contoh akhlak yang sangat dianjurkan dalam Islam adalah rasa malu (al-haya).


Rasa Malu dalam Pandangan Islam

Dalam sebuah riwayat, Ibnu Umar ra. menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ melewati seorang laki-laki dari golongan Anshar yang sedang menasihati anaknya tentang pentingnya rasa malu. Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْهُ ، فَإِنَّ الْـحَيَاءَ مِنَ الإيْمَـانِ
"Biarkanlah dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman." (Mutafaq 'alaih)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa malu bukan hanya sekadar perasaan, melainkan bagian tak terpisahkan dari keimanan seseorang. Artinya, semakin baik iman seseorang, semakin tinggi pula rasa malunya.

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ juga mengungkapkan:

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
"Malu tidak akan mendatangkan sesuatu pun kecuali kebaikan." (Mutafaq 'alaih)

Rasa malu yang tulus akan selalu mengarah pada hal-hal yang positif, baik dalam perilaku maupun interaksi sosial kita. Hal ini juga menunjukkan betapa pentingnya kita menjaga rasa malu dalam kehidupan sehari-hari.


Malu yang Bijak

Namun, penting untuk dipahami bahwa rasa malu yang benar bukan berarti kita harus enggan atau takut berbuat sesuatu yang baik karena alasan malu. Misalnya, banyak orang merasa malu untuk menutup aurat dengan sempurna, seperti mengenakan jilbab atau kerudung yang sesuai dengan syariat. Mereka khawatir jika dilabeli sebagai "tua", "ketinggalan zaman", atau "tidak modis".

Namun, anehnya, banyak yang tidak merasa malu ketika auratnya terlihat jelas, bahkan dengan sengaja menunjukkan lekuk tubuh dengan cara berjalan yang mencolok atau berdandan berlebihan (tabaruj). Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara rasa malu yang seharusnya dipelihara dengan perilaku yang justru bertentangan dengan ajaran Islam.

Oleh karena itu, kita harus bijak dalam memahami dan mengamalkan rasa malu sesuai dengan konteksnya. Rasa malu yang seharusnya dimiliki adalah rasa malu yang mendatangkan kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Sebagai contoh, kita harus merasa malu untuk tidak menjalankan perintah-Nya, malu untuk tidak menutup aurat dengan benar, atau malu untuk tidak berbuat baik kepada sesama.


Mendapatkan Pemahaman yang Benar

Agar kita dapat memahami syariat Islam dengan baik dan benar, tidak ada cara lain selain menuntut ilmu. Dengan ilmu, kita bisa mengarahkan rasa malu kita pada tempat yang tepat, agar tetap menjadi akhlak yang baik dan diridai oleh Allah ﷻ. Sebagaimana Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:

وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
"Dan katakanlah, 'Ya Rabb, tambahkanlah ilmu pengetahuan kepadaku.' " (QS. Taha: 114)

Wallahu a'lam.

Posting Komentar

0 Komentar