
Oleh: Ummu Zaid
Penulis Lepas
Tanggal 27 Rajab dalam penanggalan Hijriah diperingati sebagai peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad ﷺ, yang pada tahun ini bertepatan dengan tanggal 16 Januari 2026. Umat Islam menyambut gembira peristiwa tersebut dengan berbagai cara, seperti berpuasa, bersedekah, doa bersama, pengajian akbar, serta ceramah keagamaan. Peringatan Isra Mi'raj dilakukan di berbagai tempat, mulai dari sekolah, instansi pemerintah, hingga di tengah masyarakat. Tujuan utama dari peringatan ini adalah untuk menambah keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ. Namun, seharusnya peristiwa Isra Mi'raj tidak hanya diperingati sebagai sebuah peristiwa sejarah, melainkan juga sebagai momen untuk menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rajab dan Isra Mi'raj seringkali diperingati dengan cara yang istimewa oleh umat Islam. Namun, peringatan ini seringkali hanya berfokus pada perjalanan Nabi Muhammad ﷺ ke langit dan turunnya perintah sholat. Padahal, peristiwa Isra Mi'raj tidak hanya sebatas momen spiritual, tetapi juga merupakan gerbang menuju perubahan politik umat Islam secara ideologis. Setelah peristiwa Isra Mi'raj, diikuti dengan momen Baiat Aqabah II, yang menunjukkan bahwa Isra Mi'raj bukanlah sekadar momen spiritual semata, tetapi juga momentum perubahan besar bagi umat Islam. Setelah runtuhnya khilafah selama 105 tahun, umat Islam tidak lagi dapat menerapkan hukum dari langit, yaitu syariat Islam secara kaffah di seluruh penjuru bumi.
Hikmah yang sering dimaknai dari Isra Mi'raj adalah perintah ibadah sholat, yang dianggap sebagai ibadah mahdhah semata. Padahal, sholat itu sendiri adalah kinayah yang digunakan dalam hadis untuk melarang memerangi imam selama mereka masih menegakkan sholat. Menegakkan sholat, dalam hal ini, memiliki makna yang lebih luas: yaitu menegakkan hukum Allah ﷻ. Umat Islam belum sepenuhnya menyadari bahwa penerapan sistem sekuler demokrasi secara global adalah penentangan terhadap hukum Allah ﷻ.
Ditinggalkannya syariat Islam akan membawa berbagai bencana, baik dalam bentuk bencana politik, ekonomi struktural, bencana sosial kemanusiaan, maupun bencana alam. Runtuhnya khilafah 105 tahun yang lalu merupakan sebuah bencana besar bagi umat Islam. Setelah itu, dunia harus menderita di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Oleh karena itu, sangat urgen untuk menegakkan kembali kepemimpinan Islam di dunia.
Rajab dan Isra Mi'raj seharusnya menjadi momen untuk membumikan kembali hukum Allah ﷻ dari langit. Caranya adalah dengan mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Penjajahan di Palestina, tempat terjadinya Isra Mi'raj Rasulullah ﷺ, yang kini jatuh ke tangan entitas Yahudi, harus dibebaskan. Begitu pula, negara-negara Muslim yang terpecah belah harus disatukan. Kezaliman terhadap umat Muslim minoritas di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina Selatan harus dihentikan.
Oleh karena itu, kita menyerukan kepada tentara Muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Umat Islam, umat Rasulullah, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al-Mu'tasim, cucu Sholahuddin Al-Ayyubi, cucu Al-Fatih, cucu Abdul Hamid, cucu Khalifah Salim III, cucu Khalifah, pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam. Tegaknya khilafah Islam akan mengembalikan kemuliaan Islam dan umat Islam. Partai Islam ideologis terus berjuang siang dan malam, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat untuk melanjutkan kehidupan Islam. Menegakkan khilafah adalah perjuangan pokok, agung, penting, dan vital. Umat Islam harus segera menyambut perjuangan menegakkan khilafah ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ
"Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan (kerajaan) yang zalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Kemudian Allah akan mengangkat (kekuasaan yang zalim itu). Lalu akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian." (HR. Ahmad)

0 Komentar