PERAN SISTEM EKONOMI KAPITALISME DALAM AKSI PROTES IRAN


Oleh: Ummu Muhammad
Penulis Lepas

Krisis dalam negeri Iran memanas. Pejabat Iran yang enggan disebut namanya mengungkapkan, sekitar 5.000 orang tewas dalam aksi demo besar-besaran tersebut. Untuk diketahui, Iran diguncang gelombang protes sejak 28 Desember lalu di area Grand Bazaar Teheran ketika para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam. (Detik, 19/01/2026)

Aksi protes ini ditenggarai oleh terdepresiasinya kurs rial terhadap dolar AS, yang turun sekitar 70% dari tahun sebelumnya. Di mana 1,4 juta rial Iran per dolar di tahun 2026, inilah yang dimaksud oleh ekonom sebagai “terjun bebas”. Dan inilah sejarah terendah nilai mata uang rial. Inflasi menanjak mencapai 40% yang mengakibatkan melonjaknya harga-harga barang.

Protes di kalangan masyarakat dan mahasiswa semakin meluas dan berubah menjadi gerakan anti-pemerintahan, dengan tuntutan untuk menggulingkan rezim Ayatullah Ali Khamenei. Penurunan nilai tukar rial terjadi setelah Iran terlibat dalam konflik besar dengan Amerika, Israel, dan Eropa, serta mengakhiri kerja sama dengan IAEA. Hal ini menyebabkan PBB mengaktifkan mekanisme Snapback pada September 2025. Akibatnya, negara-negara memilih untuk menghentikan perdagangan dengan Iran karena khawatir melanggar hukum internasional, yang pada akhirnya memutuskan akses Iran ke sistem perbankan global.

Ekonomi di bawah naungan sistem kapitalisme menjadi pusat ketidakstabilan ekonomi bangsa-bangsa, khususnya Iran. Depresiasi nilai tukar rial dan inflasi besar menjadi kenyataan yang harus dihadapi Iran. Sistem fiat money dalam sistem kapitalisme yang tidak terkontrol dan tidak memiliki cadangan inilah yang menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis.

Fiat money yang tidak ditopang dengan komoditas yang berharga dan nilai nominalnya tidak sesuai dengan nilai intrinsiknya. Di mana nilai pembuatan satu lembar mata uang lebih rendah daripada nilai nominalnya. Dengan biaya pembuatan yang rendah, bank sentral dengan mudah membuat uang untuk memompa perekonomian atau untuk mengatasi biaya defisit negara yang kemudian akan mendorong adanya inflasi.

Kekacauan ini sejatinya tidak perlu terjadi apabila sistem penopang mata uang dikembalikan kepada emas dan perak. Dalilnya adalah hukum-hukum syara yang berkaitan dengan dinar dan dirham, seperti zakat, hudud, dan sharf. Dengan demikian, mata uang yang dikeluarkan suatu negara adalah emas dan perak atau mata uang substitusi seperti tembaga, perunggu, atau uang kertas yang ditopang oleh emas dan perak.

Emas memiliki nilai riil yang tidak bergantung pada mata uang tertentu sehingga tidak mudah terdepresiasi oleh kebijakan moneter. Sejarah mencatat bahwa daya beli emas cenderung tetap sama sejak zaman Rasulullah ﷺ; misalnya, harga seekor kambing di masa kenabian adalah sekitar 1 dinar (4,25 gram emas), dan harga tersebut masih relevan hingga saat ini.

Emas dianggap sebagai aset yang sangat stabil dalam menghadapi inflasi karena memiliki nilai intrinsik (intrinsic value) yang melekat pada fisiknya, berbeda dengan uang kertas (fiat) yang nilainya bergantung pada kepercayaan dan kebijakan pemerintah.

Membidik perekonomian dunia menjadi strategi yang terukur dalam melemahkan sebuah negara, khususnya Iran. Membidik dengan senjata hanya mampu melumpuhkan satu manusia, tetapi membidik dengan sistem ekonomi dunia mampu melumpuhkan satu negara. Sanksi, embargo, dan tekanan finansial bekerja senyap namun mematikan, menggerogoti stabilitas, melemahkan daya beli, serta menciptakan krisis berkepanjangan tanpa perlu satu peluru pun ditembakkan.

Mengembalikan sistem ekonomi kepada prinsip-prinsip Islam adalah langkah yang tepat untuk mengatasi krisis yang melanda negara dan dunia, karena sistem ini berlandaskan pada ajaran Al-Qur'an dan Hadis yang menegakkan keadilan, dengan tujuan menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia secara keseluruhan.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Posting Komentar

0 Komentar