
Oleh: Mommy Hulya
Penulis Lepas
Banjir Sumatra masih menyisakan duka. Bencana alam yang terjadi bukan hanya sekadar bencana alam. Kerusakan total yang terjadi merupakan akibat dari ulah tangan-tangan penguasa yang hanya ingin mendapat keuntungan tanpa mempertimbangkan risiko yang akan terjadi. Sungguh, peristiwa yang tragis. Banjir bandang disertai tanah longsor diikuti rumah dan warga yang hanyut. Dan yang tak luput dari penglihatan kita, di balik lumpur yang menelan rumahnya, tangisan anak-anak yang tak hanya kehilangan rumah, namun juga kehilangan orang tua, adalah trauma yang teramat pedih. Tangisan wajah kecil yang kehilangan cahaya masa depannya.
Berawal dari hujan deras akibat siklon tropis Senyar, pada tanggal 28 November 2025, Jumat dinihari, bendungan Gunung Nago di Pauh Padang, Sumatra Utara jebol. Kawasan Gunung Nago diterjang air bah, rumah dan jembatan hancur seketika. Hal serupa juga terjadi di Aceh, hujan ekstrem hingga berhari-hari memicu banjir bandang dan tanah longsor.
Tercatat dari BNPB, Selasa (20/01/2026), pukul 11.00 WIB, sekitar 1.199 orang meninggal dunia, lebih dari 144 orang hilang, dan sekitar 114,2 ribu orang masih mengungsi. Bencana banjir bandang ini juga menyebabkan kerusakan infrastruktur, seperti 215 fasilitas kesehatan, 4.546 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, 786 jembatan, dan 2.057 ruas jalan (Detik, 20/01/2026). Bencana banjir ini berakar dari kelalaian manusia dan dampak paling berat dirasakan oleh yang paling rentan, yaitu anak-anak.
Ratusan anak kehilangan orang tua akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra akhir 2025. LPAI (Kak Seto) mengusulkan tempat khusus bagi anak yatim piatu dengan fokus pada penanganan trauma yang dialami anak-anak korban bencana alam. Ada beberapa dampak sosial dan psikologis yang tidak cukup hanya dengan penanganan darurat, namun membutuhkan penanganan jangka panjang (Antara, 08/01/2026).
Bencana Sumatra bukan hanya menyebabkan kerusakan fisik, namun ada batin yang terluka sangat dalam. Anak-anak kehilangan orang tua, mengalami trauma ganda, yaitu trauma kehilangan sosok yang menyayangi dan trauma kehilangan rasa aman karena tempat tinggal mereka hancur. Bukan hanya itu, cahaya masa depan mereka kini telah redup.
Cahaya masa depan yang redup dirampas oleh bencana alam. Mereka terancam putus sekolah, sekolah hancur, buku hanyut, bahkan guru-guru pun ikut menjadi korban. Masa depan mereka terputus. Pendidikan, yang digadang-gadang menjadi satu-satunya jalan keluar dari lingkaran kemiskinan, kini hancur ditelan lumpur. Anak yatim piatu rentan terhadap eksploitasi, pekerja anak, dan parahnya lagi, rentan dengan perdagangan manusia.
Anak-anak kehilangan kesempatan untuk tumbuh menjadi generasi yang berdaya. Trauma psikologis jika tidak ditangani akan menjadi luka sosial, mempengaruhi kepercayaan diri, hubungan dengan orang lain, bahkan iman mereka. Penanganan tidak boleh berhenti pada bantuan darurat. Anak-anak butuh dukungan psikososial berkelanjutan agar cahaya kecil mereka tidak padam di tengah bencana.
Bantuan yang datang dari masyarakat berbagai wilayah Indonesia kompak berdatangan, namun penyelesaian jangka panjang harus didukung pula oleh pemerintah. Bahkan semestinya status bencana segera ditetapkan menjadi bencana nasional, sehingga bantuan dari dalam dan luar negeri dapat didistribusikan secara merata. Dan pengadaan tempat tinggal layak untuk anak yatim segera terlaksana.
Anak Yatim Piatu dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan Islam, anak yatim memiliki kedudukan yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku dan orang yang menanggung anak yatim akan berada di surga seperti ini,” sambil merapatkan dua jari. Hadis ini menegaskan bahwa menolong anak yatim bukan sekadar amal sosial, tetapi jalan menuju surga. Dalam Al-Qur'an surat Al-Ma’un pun telah diperingatkan bahwa mengabaikan anak yatim adalah bukti lemahnya iman.
Islam Kaffah tidak hanya memandang anak yatim sebagai amanah individu. Perlindungan terhadap anak yatim adalah bagian dari sistem sosial yang diatur secara menyeluruh. Mereka harus mendapatkan tempat tinggal dan pendidikan yang terjamin, serta mendapat perlindungan dari segala bentuk eksploitasi. Prinsip keadilan dan kasih sayang ditempatkan sebagai fondasi pemerintahan.
Pada masa pemerintahan Khalifah, sejarah pemerintahan Islam tercatat bahwa Baitul Mal digunakan untuk menanggung kebutuhan anak yatim, fakir miskin, dan korban bencana. Negara hadir sebagai pelindung umat. Inilah wujud nyata dari pemerintahan Islam Kaffah yang tidak hanya mengatur ibadah, tetapi juga menjamin kesejahteraan sosial secara menyeluruh.
Solusi untuk Anak Korban Bencana Sumatra
Untuk memastikan masa depan anak-anak yatim piatu korban bencana alam, dibutuhkan tempat yang aman, seperti rumah khusus yang dapat memberikan perlindungan dan rasa aman. Selain itu, pendidikan darurat, beasiswa, dan sekolah sementara sangat diperlukan agar mereka tidak terputus dari proses belajar.
Dukungan psikososial, seperti trauma healing, pendampingan rohani, dan kasih sayang, juga menjadi hal yang tak kalah penting untuk membantu mereka pulih secara emosional. Semua ini hanya dapat terwujud melalui kolaborasi yang solid antara pemerintah, masyarakat, dan umat, bekerja bersama demi memastikan anak-anak ini mendapat hak-hak mereka yang seharusnya.
Menolong anak yatim piatu korban bencana alam bukan hanya tugas individu atau lembaga sosial, melainkan merupakan tanggung jawab negara yang harus menjalankan amanah Islam secara Kaffah. Dengan langkah tersebut, kita akan memastikan bahwa anak-anak tidak kehilangan masa depan mereka, dan umat tetap memiliki cahaya harapan di tengah kegelapan bencana.
Wallahu a’lam bi shawāb

0 Komentar