RAJAB, ISRA MIKRAJ, MOMEN MEMBUMIKAN HUKUM LANGIT


Oleh: Nunung Sulastri
Penulis Lepas

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam Islam sebagai salah satu bulan haram. Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah sebagai momentum untuk meningkatkan ketakwaan. Amalan di bulan Rajab memiliki banyak pahala yang berlipat ganda. Selain itu, bulan Rajab adalah bulan yang Allah muliakan. Di dalamnya terjadi banyak peristiwa penting yang menunjukkan kemuliaan umat Islam, yang senantiasa mengingatkan kita pada peristiwa agung, yaitu Isra Mikraj Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Allah berfirman dalam Surat Al-Isra ayat 1:

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Peringatan hikmah Isra Mikraj 2026 menjadi momen penting bagi umat Islam untuk merenungkan kembali makna mendalam dari peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Momen ini mengandung nilai-nilai spiritual yang sangat relevan dengan tantangan kehidupan di era modern saat ini, tidak hanya sebatas mengingat peristiwa sejarah, tetapi juga menggali pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Rajab dan Isra Mikraj selalu diperingati secara istimewa oleh umat Islam. Akan tetapi, peringatan itu sering kali hanya sekadar tentang perjalanan spiritual Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam ke langit dan turunnya perintah kewajiban salat. Di balik itu, terdapat peristiwa yang sangat penting yang berkaitan dengan kondisi umat saat ini, yakni membangun kesadaran kolektif terhadap kondisi umat Islam kekinian dengan memunculkan karakter kepedulian terhadap umat Islam lainnya, ketaatan penuh terhadap Allah dan Rasul, keimanan, serta kekuatan sebagai umat terbaik.

Setelah peristiwa Isra Mikraj, tidak lama kemudian diikuti dengan momen Baiat Aqabah kedua. Artinya, Isra Mikraj bukanlah momentum spiritual saja, tetapi juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis. Jangan sampai setiap peristiwa penting di bulan Rajab terkubur dan tidak pernah diungkap keutamaannya, karena sudah saatnya umat Islam memiliki cara berpikir ke depan, cemerlang, bahkan menyeluruh untuk membangun persatuan umat Islam.

Pasca runtuhnya Khilafah pada tanggal 3 Maret 1924 merupakan malapetaka yang luar biasa, yang diruntuhkan oleh Mustafa Kemal laknatullah. Selama 105 tahun, umat Islam tidak bisa menerapkan hukum dari langit (syariat Islam) secara kaffah di seluruh penjuru bumi, sehingga umat Islam mengalami kemunduran berpikir dan kehilangan arah.


Membangun Kesadaran terhadap Peristiwa Isra Mikraj

Hikmah dari peristiwa Isra Mikraj baru dimaknai sebagai perintah ibadah salat sebagai ibadah mahdah semata. Sangat disayangkan, padahal salat merupakan kinayah yang dipakai dalam hadis larangan memerangi imam selama masih menegakkan salat. Makna dari menegakkan salat adalah menegakkan hukum Allah di muka bumi.

Selama ini umat Islam belum menyadari bahwa diterapkannya sistem sekuler demokrasi secara global adalah penentangan terhadap hukum dari langit (hukum Allah). Perayaan Isra Mikraj hanya sekadar budaya seremonial tanpa memberikan makna mendalam melalui kesadaran umat Islam.

Ditinggalkannya hukum Allah melalui syariat Islam akan membawa banyak dampak bencana, seperti:
  • bencana politik ekonomi: semakin melonjaknya harga kebutuhan pokok, menyebarluasnya riba;
  • bencana kemanusiaan: kemerosotan berpikir sampai rusaknya moral umat Islam;
  • bencana alam: kerakusan mengelola sumber daya alam sehingga banyak terjadi bencana seperti longsor, banjir, dan lain-lain.

Runtuhnya Khilafah selama 105 tahun yang lalu adalah bencana besar bagi umat Islam, karena setelahnya dunia menderita; walhasil, umat Islam pun terhina, jatuh di bawah kepemimpinan kapitalisme global. Menegakkan kembali kepemimpinan Islam di atas dunia menjadi sangat urgen.


Refleksi dari Peristiwa Isra Mikraj

Rajab dan Isra Mikraj merupakan momen membumikan kembali hukum Allah dari langit, yaitu dengan mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan kembali syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan sehari-hari. Lebih jauh lagi, mengembalikannya sebagai pedoman menyeluruh dalam membangun peradaban Islam yang menjadikan Al-Qur’an dan as-Sunah sebagai sumber hukum tertinggi.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 1–2:

الٓمّٓۚ‏ ١
ذٰلِكَ الۡڪِتٰبُ لَا رَيۡبَۛۚۖ فِيۡهِۛۚ هُدًى لِّلۡمُتَّقِيۡنَۙ‏ ٢
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.

Banyaknya permasalahan penindasan terhadap umat muslim di dunia tanpa khalifah, mulai dari:
  • penjajahan di Palestina sejak puluhan tahun hingga saat ini, tempat peristiwa perjalanan Isra Mikraj Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang jatuh ke tangan entitas Zionis Yahudi, harus segera dibebaskan;
  • negeri-negeri muslim yang terpecah belah yang harus disatukan;
  • kezaliman penguasa kafir pada minoritas muslim seperti di Rohingya, Uigur, India, Rusia, Filipina Selatan, dan di belahan bumi lainnya harus dihentikan.

Semua itu dapat dihentikan dengan cara menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Kita sebagai umat Islam, umat Rasulullah ﷺ, umat Khulafaur Rasyidin, cucu Al-Mu‘tasim, cucu Salahuddin Al-Ayyubi, cucu Khalifah Salim III, cucu Abdul Hamid, insyaallah pasti mampu mengembalikan kemuliaan Islam di atas dunia. Dengan tegaknya Khilafah Islam, akan kembali kemuliaan umat Islam.

Dari segala permasalahan umat saat ini, umat membutuhkan jamaah atau partai yang membawa perubahan secara hakiki, yang diwujudkan dengan menjadikan Islam sebagai pandangan hidup. Para pengusung partai Islam yang tegak di atas ideologi Islam, yang terus berjuang siang maupun malam di jalan dakwah, dengan sungguh-sungguh memimpin dan membimbing umat dengan ikhlas tanpa pamrih, untuk menyadarkan umat dengan Islam kaffah agar melanjutkan kehidupan Islam.

Partai ideologi berpegang teguh kepada Islam, baik secara pemikiran maupun metode perjuangannya, secara ikhlas. Memperjuangkan Islam sebagai tali pengikat para pejuangnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَزَالُ مِنْ أُمَّتِي أُمَّةٌ قَائِمَةٌ بِأَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ وَلَا مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ
Selalu ada dari umatku sekelompok orang yang menegakkan kebenaran (perintah Allah). Tidak merugikan mereka orang yang menghinanya hingga datang hari kiamat, dan mereka tetap dalam kondisi demikian.” (HR Muslim)

Partai politik ideologis konsisten berjuang menegakkan daulah Islam siang dan malam, sebab itu adalah perjuangan pokok yang penting dan vital. Umat pun harus sadar dan segera menyambut perjuangan mulia tersebut.

Semoga pertolongan Allah semakin dekat. Aamiin Allahumma aamiin.

Allahu a‘lam bisshawab

Posting Komentar

0 Komentar