
Oleh: Bunda Umar
Aktivis Muslimah
Isra Mikraj merupakan peristiwa gaib yang benar-benar terjadi. Namun, banyak di antara kita yang menganggap peristiwa tersebut hanyalah sebuah dongeng.
Benarkah peristiwa itu terjadi hanya sebagai dongeng saja? Ataukah ada hal besar yang harus kita lakukan sebagai umat terbaik di zaman Nabi Muhammad?
Peristiwa Isra Mikraj berlangsung pada tahun ke-10 kenabian, sekitar 621 Masehi. Masa itu dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan), yakni masa ketika Rasulullah mendapat banyak ujian, termasuk wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, paman Rasulullah. Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk penghiburan dan penguatan bagi Rasulullah.
Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Kota Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina. Mikraj adalah perjalanan spiritual dari Masjidil Aqsa menuju beberapa lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.
Isra Mikraj menjadi peristiwa penting karena merupakan momen disyariatkannya salat lima waktu serta dipandang memberikan berbagai hikmah spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Isra Mikraj juga menjadi pembuktian cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun, tidak cukup hanya merayakannya. Harus ada upaya besar untuk meningkatkan rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, yakni dengan melakukan amalan saleh yang tidak biasa-biasa saja.
Sejatinya, harus ada perubahan yang hakiki pada setiap amal kita. Bukan seperti zaman sekuler saat ini yang sering kali berfokus pada perbaikan ibadah mahdah, namun minim realisasi ibadah di sisi lainnya. Misalnya, rajin salat tetapi korupsi tetap berjalan. Banyak berpuasa, namun ghibah tetap dilakukan. Salat sunah sering, tetapi transaksi riba dianggap biasa.
Maka, sudah bukan zamannya lagi beramal setengah-setengah seperti itu. Harus ada gebrakan baru ketika kita memperingati Isra Mikraj. Salah satunya dengan meneladani Rasulullah dan generasi setelahnya bahwa semua aspek kehidupan ini membutuhkan akidah Islam. Ibadah itu bukan hanya berbicara tentang salat, puasa, zakat, dan haji saja, melainkan harus konsisten mengamalkan seluruh penerapan yang telah Nabi contohkan.
Termasuk keberadaan kepemimpinan dalam Islam: meletakkan Al-Qur’an dan sunah sebagai sumber pemecahan masalah umat.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)
Selain ayat di atas, ada lagi penegasannya pada Surah Al-Baqarah ayat 2–3, Al-Ma’idah ayat 48, dan Al-An’am ayat 114.
Tentunya, kepemimpinan Islam merupakan urgensi untuk menerapkan Al-Qur’an dan sunah. Kepemimpinan di bawah pemimpin yang digelari Amirul Mukminin tidak akan sama penerapan Islamnya dengan saat sekarang ini.
Harapan selalu ada. Semoga kebangkitan dapat terwujud, terutama oleh cucu dan cicit Al-Fatih, Al-Mu‘tasim, Salahuddin Al-Ayyubi, dan lain-lain. Namun, kesabaran adalah kunci. Ikhtiar dakwah, peningkatan keimanan dan taqarrub ilallah (kedekatan kepada Allah), serta doa harus terus dikuatkan.

0 Komentar