REFLEKSI 2025: TAHUN BARU DISAMBUT MERIAH, PALESTINA TETAP BERDUKA


Oleh: Nurhayati, S.H.
Penulis Lepas

Dunia menyambut datangnya tahun baru 2026 dengan meriah. Terselip harapan dan doa-doa bahagia bagi masa depan. Namun, dalam kemeriahan itu nasib Palestina terlupakan, tenggelam dalam sukacita perayaan pergantian tahun. Saat dunia sedang merayakan tahun baru, di Gaza genosida masih terus berlanjut. Pelaparan pascagencatan senjata masih terus dilakukan. Dunia sedang berbahagia, tetapi tidak dengan Palestina. Palestina tetap mengadu nasib, bertahan hidup dalam penjajahan Israel yang tak berkesudahan.

Kabinet Keamanan Israel menyetujui pembangunan 19 permukiman baru di Tepi Barat, mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB pada 2016 yang memerintahkan Israel untuk menghentikan kegiatan pembangunan permukiman ilegal di wilayah Palestina yang diduduki (Antaranews, 27/12/2025). Tidak hanya itu, kelompok pemukim ilegal Israel kembali melancarkan serangan terhadap aset ekonomi warga Palestina di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Para penyerang menganiaya pekerja Palestina dan mencuri sedikitnya 150 ekor domba peternakan warga Tepi Barat (CNN Indonesia, 26/12/2025). Inilah bukti atas genosida Israel. Dunia melihat dengan jelas segala upaya mereka untuk merampas dan menguasai seluruh wilayah Palestina.

Dengan mengantongi dukungan Amerika, Israel bertindak arogan untuk memimpin dan mendominasi politik dan ekonomi dunia. Seperti kebijakan politiknya yang mengakui Somaliland sebagai negara merdeka tanpa mempertimbangkan suara mayoritas negara di dunia. Sikap ini mendapat kecaman keras dari OKI. Begitu pula dengan sikap mereka yang menutup semua akses bantuan masuk ke Palestina: membiarkan Gaza kelaparan, menghalangi bantuan internasional, menjarah harta muslim Gaza, dan mencaplok sedikit demi sedikit wilayah Gaza. Israel biadab dan tak tahu diri.

Sejak awal Israel tidak berniat damai. Resolusi dua negara adalah konspirasi jahat untuk menguasai Palestina, dan berbagai gencatan senjata yang dilanggar, termasuk 20 poin Trump, merupakan bukti penjajahan yang nyata. Israel takkan berhenti sampai mereka berhasil mengusir seluruh penduduk Palestina dan mengakuisisi wilayahnya secara keseluruhan. Kekejamannya menampakkan dendam dan kebencian yang mendarah daging terhadap umat Islam.

Sedangkan dunia tidak berdaya dengan keberpihakan Amerika kepada Israel. Tidak ada satu negara pun yang mampu menghalangi kejahatan entitas Zionis dalam membuat kerusakan di bumi. Ketika ada negara yang ingin membela Palestina, lantas dibenturkan dengan isu kemanusiaan. Padahal penjajahan Israel sendiri tak berperi kemanusiaan, persis seperti binatang tak berakal. Artinya, menyerahkan penyelesaian penjajahan pada Amerika dengan sistem kapitalisnya sama saja dengan membiarkan Palestina terus digenosida. Sebab Amerika tidak pernah netral; dia selalu berdiri di pihak Israel. Kenyataan ini terpampang jelas. Mustahil Palestina hidup damai selama Amerika yang menjadi hegemoni dunia menganakemaskan Israel.

Israel terkenal kejam sejak zaman dahulu kala, dari masa umat manusia dipimpin oleh para nabi. Kejahatannya yang senantiasa membuat kerusakan di bumi Allah kabarkan di banyak ayat dalam Al-Qur’an. Israel secara turun-temurun senantiasa merugikan umat manusia hingga detik ini. Mereka adalah umat yang Allah laknat karena gemar membuat kerusakan. Oleh karena itu, mengusir mereka dari tanah Syam harus mengikuti panduan Allah untuk tidak berwala’ pada orang kafir, Yahudi, dan Nasrani. Karena jika berwala’ pada Yahudi, secara tidak langsung kita mendukung penjajahan atas tanah Palestina.

Dalam sejarah, orang-orang Yahudi selalu melanggar perjanjian dengan Rasulullah. Sepanjang hidup dalam daulah, Yahudi menampakkan permusuhannya kepada Islam. Diam-diam membuat makar untuk melakukan kudeta, hingga Rasul mengusir mereka dari Kota Madinah. Bahkan sepanjang sejarah, Yahudi kerap terusir dari suatu negeri karena ulahnya sendiri. Bukan hanya Nabi Muhammad, nabi-nabi terdahulu juga mereka tentang. Sikap pengkhianat dan pembangkang itu telah ada sejak zaman nenek moyang mereka. Maka wajar saja, Yahudi hidup nomaden, berpindah-pindah ke suatu negeri untuk mencari suaka hingga muncul gerakan antisemitis. Namun, dalam daulah Islam, Yahudi hidup dengan aman. Hari ini daulah itu telah diruntuhkan. Kemudian Yahudi kembali berulah, mencaplok tanah Syam, lalu mendirikan negara Israel.

Oleh karena itu, untuk membungkam kembali arogansi Israel yang ingin menguasai dunia serta berbuat kerusakan dan kejahatan kemanusiaan, harus dilawan dengan jihad dan Khilafah. Sebagaimana yang Rasulullah lakukan dahulu. Artinya, satu-satunya cara yang efektif untuk menghentikan penjajahan dan genosida di Palestina adalah dengan melawan Israel dan mengusir mereka dari bumi Syam.

Wallahu a‘lam.

Posting Komentar

0 Komentar