BENCANA KIAN BERLANJUT, SOLUSI TAK KUNJUNG TIBA


Oleh: Azkia Humaira
Penulis Lepas

Lagi-lagi, Indonesia dikejutkan oleh banjir dan longsor. Kali ini, Cisarua yang menghadapi bencana longsor tersebut, tepatnya di Desa Pasirlangu, Cisarua, Bandung Barat, pada Minggu, 1 Februari lalu. Banyak personel gabungan dari Basarnas, Polri, dan relawan dikerahkan sejak pagi hari untuk melacak titik-titik daerah yang diduga menjadi lokasi banyaknya korban yang tertimbun bebatuan dan bangunan.

Dalam proses evakuasi tersebut, tim SAR tak hanya mengandalkan tenaga manusia, tetapi juga mengerahkan alat berat ke lokasi bencana untuk mengeruk timbunan tanah agar dapat mempercepat proses evakuasi. Hingga Selasa, 10 Februari 2026, tim DVI menerima 99 kantong jenazah dengan total korban yang berhasil teridentifikasi mencapai 80 jenazah. (Polri Jabar, 10/02/2026)

Namun, di samping proses evakuasi yang masih berlangsung hingga saat ini, faktor cuaca tetap menjadi kendala utama yang sangat berpengaruh terhadap keselamatan para petugas dan proses pencarian korban. Di sisi lain, Basarnas memastikan operasi dapat berjalan lancar dan terus berlanjut sesuai prosedur yang telah disiapkan. Harapannya, seluruh korban dapat segera ditemukan dan dikembalikan kepada pihak keluarga masing-masing.

Sesungguhnya, hal ini menunjukkan betapa buruknya tanggung jawab pemerintah dalam mengelola ruang hidup dan tata kelola ruang. Padahal, bencana yang melanda ini merupakan alarm peringatan bahwa berbagai kerusakan yang terjadi merupakan akibat ulah tangan manusia. Paradigma sistem kapitalisme telah merusak kehidupan dan pemikiran umat serta menenggelamkan harapan rakyat akan keselamatan dan keamanan mereka.

Hakikatnya, berbagai sumber daya alam di muka bumi ini merupakan rahmat yang memberikan manfaat bagi kehidupan jika dikelola dengan sangat baik oleh rakyat serta mendapat kontribusi kuat dari negara. Sebab, manusia di bumi ini diciptakan sebagai khalifah yang akan mengatur seluruh tatanan kehidupan sesuai syariat.

Kebijakan tata kelola alam yang melanggar aturan dan syariat hanya akan mendatangkan bencana yang menguji manusia. Tak hanya itu, jika tata kelola alam dan ruang hidup tersebut berlandaskan paradigma kapitalisme sekuler, semua hal akan rusak dan tidak terkendalikan dengan baik. Hal ini harus segera diubah dengan sistem yang berlandaskan syariat Islam dan diatur oleh khalifah.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar