DEWAN PERDAMAIAN ATAU PERAMPASAN?


Oleh: Yumna Daafiatumillah
Penulis Lepas

Pada 22 Januari 2026, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan keikutsertaan Indonesia dalam Board of Peace (BoP) dalam kunjungannya ke Davos, Swiss. BoP adalah organisasi yang dibentuk oleh Donald Trump, salah satu dari empat komite baru yang bertujuan mengawasi rekonstruksi dan pemerintahan Gaza. Banyak kalangan mempertanyakan tujuan dibentuknya Dewan Perdamaian ini. Dewan ini disebut-sebut ingin menyelesaikan konflik di Gaza, sementara tidak ada keterlibatan Palestina di sana.

Kalau saya melihatnya ini bukan kepentingan orang-orang Palestina atau orang Gaza. Ini kepentingan real-estate-nya Trump.” ucap Adrianus Harsawaskita, dosen kebijakan luar negeri di Universitas Katolik Parahyangan. Jared Kushner, menantu Trump, memaparkan rencana pembangunan “New Gaza” pada Forum Ekonomi Dunia di Davos. Gedung-gedung tinggi menjadi ciri utama dari pembangunan ini.

Hingga kini, lebih dari 20 negara telah bergabung dalam Dewan Perdamaian, beberapa di antaranya Albania, Kosova, Mesir, Qatar, dan Arab Saudi. Ada juga yang menolak mentah-mentah, seperti Slovenia, yang melihat dewan tersebut mengusik tatanan internasional yang lebih luas. Sementara itu, negara-negara Eropa belum didapati respons apa pun atas undangan untuk bergabung. (ABC News, 30/01/2026)

Dari luar tampak indah, namun di dalam penuh kebohongan. Seperti itulah Dewan Perdamaian bentukan Trump: bertujuan mulia, namun terselip kepentingan kapitalis. Bagaimana tidak, katanya BoP ini ingin membantu Gaza, tetapi pihak yang menjadi sasaran penyelesaian saja tidak dilibatkan sama sekali. Mustahil pihak-pihak yang memusuhi umat Islam akan mengurusi permasalahan umat, kecuali di sana terdapat kepentingan.

BoP bukan kebebasan untuk Palestina, melainkan untuk kepentingan geopolitik dan ekonomi AS. Hakikatnya, tujuan Trump membentuk BoP adalah menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan membangun “New Gaza”. Dengan begitu, Palestina yang porak-poranda akibat perang akan tertutupi dengan dibangunnya gedung-gedung pencakar langit, pelabuhan, apartemen, wisata pantai, dan bandara. BoP adalah alat penghancur Palestina, salah satu alat untuk mewujudkan 20 poin rencana Trump untuk Gaza. Bergabungnya negara-negara muslim dengan BoP ini menunjukkan pengkhianatan para pemimpin muslim kembali terjadi.

Palestina tak butuh omong kosong AS. Yang mereka butuhkan adalah dukungan nyata kaum muslim untuk menghentikan pendudukan dan kekerasan di Palestina. Inilah perdamaian hakiki bagi Palestina. Dalam pandangan penulis, jalan untuk mencapai hal ini hanya bisa ditempuh dengan persatuan umat di bawah kepemimpinan Khalifah. Umat seharusnya bukan menempuh jalan bersekutu dengan negara yang secara nyata memerangi Palestina, melainkan bersegera bangkit menegakkan khilafah. Khilafah merupakan qadhiyah mashiriyah atau agenda utama yang harus segera direalisasikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Posting Komentar

0 Komentar